Bagian Satu

17 0 0
                                        

Kantin siang itu terlihat ramai, penuh suara kursi yang digeser pelan, tawa yang tumpang tindih, ada juga yang baru datang, dan beberapa di antaranya sibuk mengantre bayar ke ibu kantin.

Di antara keramaian itu, Sendu memilih duduk sendirian di pojok yang dirasanya paling tenang.

Ia duduk di sana, pura-pura sibuk memainkan ponsel. Padahal matanya sesekali diam-diam melihat ke arah mereka yang sedang beradu tawa dan argumen. Sesekali senyuman tipis terbit di wajah manisnya-tipis, ragu, seolah tengah mencoba ikut arus tapi takut tenggelam.

Tidak ada yang memusuhi atau berlaku kasar layaknya sebuah novel yang pemeran utamanya menjadi sasaran bullying. Ia hanya menyukai ketenangan, meskipun terkadang ia juga terganggu dengan rasa sepi yang datang mengusik ketenangannya.

Jari telunjuknya saling beradu, tapi yang lebih kacau justru isi kepalanya. Semangkuk mie ayam yang hanya berkurang setengahnya itu dibiarkan, es jeruknya pun jika dilihat bisa langsung tahu bahwa rasa manisnya sudah semakin pudar.

Lamunannya buyar tatkala sebuah timpukan kecil mendarat di keningnya. Pelakunya hanya tersenyum sembari menyodorkan sebuah permen.

"Hadiah karna udah hebat." Sendu menerima permen itu. Permen yang selalu mengajaknya kembali menjelajah memori masa kecilnya.

Lionel Sangkara-teman sekaligus orang terdekat yang paling Sendu Aelysta percayai. Sudah terhitung lima tahun sejak pertama kali mereka berkenalan.

"Kaki aku terkilir, mungkin butuh beberapa hari buat sembuh. Jadwal pemotretan juga diundur gara-gara masalah ini."

Sendu memang terjun di dunia modeling. Kemampuannya berpose natural dan cara jalannya yang terkesan effortless. Sendu punya sense of style yang kuat-tanpa berusaha menjadi orang lain untuk memancarkan sinarnya.

Sendu belajar banyak hal dari nol; dari cara jalan yang stabil sampai paham angle yang paling pas untuk tubuhnya. Semua itu bukan keberuntungan apalagi sesuatu yang bisa ia dapatkan dalam sekali kedipan mata. Tapi jam terbang dan ketekunan yang pelan-pelan membentuknya menjadi ia yang seperti sekarang.

Lionel menjadi saksi mata yang melihat perjuangan Sendu selama ini. Dari tangisan karna rasa lelah di tengah padatnya jadwal pemotretan hingga keluhan mengantuk saat belajar di malam hari.

"Tuhan tau kalo tubuh kamu butuh jeda buat istirahat, makanya dikasih sedikit sakit." Lionel menimpali. Ujung matanya melirik ke kaki Sendu yang terbalut kaus kaki berwarna putih setinggi mata kaki. "Siniin kakinya, biar aku coba pijet," titahnya.

"Nggak perlu, Len. Udah nggak terlalu sakit, cuma linu pas dibawa jalan aja."

"Jangan banyak jalan."

"Masa ngesot?"

"Nggak gitu maksudnya, Sendut!"

Sendu melayangkan tatapan tajam. Sebelum akhirnya ia mengambil ancang-ancang untuk menyiapkan rentetan kalimat pedas dari mulutnya.

"Iya-iya, nggak gendut. Cuma lucu pipinya kayak bakpao isi daging."

"LIONEL?!"

"Dalem, Baginda. Hamba di sini," jawab Lionel santai, "apa adanya aja, Du. Nggak perlu diet buat menuhin standar orang-orang. Di hidup yang cuma sekali ini, sayang banget kalo kamu sibuk buat nuntasin ekspektasi mereka tanpa mikirin diri sendiri."

Andai bisa, Len. Kerjaan aku yang nuntut demikian. Sendu tersenyum sumbang.

"Sisain sedikit bagian yang nggak bisa orang lain atur sesuka hati. Toh, ini hidup kamu."

Sendu mengangguk-angguk seolah patuh pada ucapan Lionel. Permen di tangannya sudah terpisah dengan bungkusnya. Matanya menatap permen itu lekat-lekat. Ada sedikit perasaan aneh saat matanya hanya fokus pada makanan dengan rasa manis asam tersebut. Campuran antara rindu yang berpadu dengan sedih yang mengental. Bulir di matanya hampir terjun bebas sebelum Lionel kembali melanjutkan aksinya-remaja itu menyodorkan selembar tisu.

Terbalut MasaHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora