"Ma pa! Luna menang olimpiade!" Gadis itu berlari girang kearah kedua orang tuanya yang sedang asik berbincang diruang tamu.
"Apasih lari-lari!" Lana datang dengan jus mangga ditangannya. Wajahnya santai walaupun datar.
"Dek! Aku menang olimpiade antar sekolah" Ekpresi senang nya tak bisa bohong.
"Antar sekolah aja udah kek menang apaan, gausah alay deh kak!"
"Tapi aku menang!"
"Luna! Bisa jangan berisik?" Luna terdiam saat suara datar itu terdengar mengancam.
***
"Papa Luna juga mau boneka kayak Lena" Gadis itu tersenyum lebar seraya menunjuk jejeran boneka didepannya.
"Udah gede, gausah boneka-bonekaan!"
"Tapi Luna pengen dikasih hadiah, untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya. Biar Luna bisa tenang nanti" binar dimatanya masih nampak jelas. Dito menggeleng kuat, merasa tak penting untuk peduli, lagipula satu boneka kecil seperti ini sudah mahal apalagi membeli dua, pikir nya.
***
"Lana boleh tolong ajarin aku ngerjain tugas gak? Aku gak paham" Luna masuk dengan setumpuk buku ditangannya. Gadis itu duduk ditepi ranjang sang adik kembar, dimana gadis itu sedang asik mengobrol bersama teman-temannya lewat handphone.
"Itu aja masa lo gak tau sih kak?! Belajar sendiri sana! Gak liat gue lagi vc sama temen-temen?" Lana mendengus kesal seraya memberi gestur mengusir, agar Luna segera keluar dari kamarnya.
"Tapi besok ada ulangan harian, kalau aku gak paham gimana caranya biar bisa besok?"
"Urusan lo bukan urusan gue!"
***
"Ma, Luna pengen peluk boleh?" Luna mendekat dengan tubuh mengigil nya.
"Awas! Saya sibuk. Gausah manja kayak anak kecil deh!" Maudy mendorong agar anak itu menyingkir dari jalannya.
"Tapi Luna dingin ma" Luna mendekat kembali, berharap tak mendapat penolakan lagi.
"Gitu aja lebay, gak sebanding sama yang saya rasain pas ngelahirin kamu!"
***
"Zarez aku hari ini ulang tahun" Luna menatap lelaki didepannya penuh harap. Meski nanti hanya kata-kata yang keluar namun tak apa.
"Terus? Nambah umur doang, gausah dikasih tau juga gak bakal ngerubah sesuatu kan?" Ucap Zarez dengan alis terangkat, merasa pemberitahuan Luna tak penting.
"Cuma mau ngasih tau aja, sebelum nanti aku bener-bener gak bisa ulang tahun lagi"
*********
Suasana tegang, beberapa orang mondar-mandir didepan ruang operasi. Dito memijit pelipisnya. Sang istri kini harus bertahan didalam sana. Lana diam namun kepala nya berisik. Setelah menunggu hampir 3 jam lamanya akhirnya lampu merah ruang operasi berganti hijau, Dito dan yang lain sontak berdiri tegak.
Dokter keluar, keringat membanjiri pelipis hingga lehernya.
"Dok?" Wajah Dito penuh ketakutan dan kekhawatiran. Lana yang tadinya dipeluk Zarez juga ikut merasakan.
"Puji tuhan, operasi nya berjalan lancar. Untung kita cepat mendapatkan donor jantung untuk istri pak Dito, berterimakasih lah pada dia yang rela hidup sesaat tanpa jantung hanya untuk menyelamatkan nyawa bu Maudy" Dokter membuka masker. Wajahnya menunjukkan kelegaan karena operasi hari ini lancar.
"Dia? Siapa dok? Siapa orang baik itu? Biarkan saya bertemu dengannya untuk berterimakasih!" Dito mengusap air matanya yang tiba-tiba luruh. Zarez yang berada disamping nya lantas merangkul pria itu.
"Dia diruang rawat nomor 10 pak, tadi kondisinya memburuk mungkin sekarang lebih dari itu" Jelas dokter dengan raut ragu.
"Boleh tolong antarkan saya kesana? Saya ingin mengenalnya sebelum gadis baik itu tiada! Saya akan melakukan apapun untuk ucapan terimakasih saya!" Dito memohon dengan kedua tangan yang dilipat. Lena ikut menangis, terharu serta lega dengan keadaan.
"Anda mengenal nya pak Dito, Gadis manis baik hati itu-" Ucap Dokter menggantung.
"Lunara Mentari"
"..."
"Lu-luna?!"
"Luna berhasil jadi dokter! Mama orang pertama yang Luna selamatkan, Luna jadi dokter! Dokter!!"
-Lunara Mentari
Thanks and See you next chapter.
YOU ARE READING
BATAS SANGGUP
Teen FictionTerlahir sama namun diseret oleh jalan yang berbeda. Luna dan Lana, dua jiwa yang saling mengikat namun diputuskan oleh takdir yang jauh berbeda. Hidup Luna ditentukan oleh waktu, antara sanggup dan tak sanggup, antara berakhir dan terakhir. ... "M...
