Biru

8 1 0
                                        

"Biru sekali langit hari ini," ujar Elang sambil menatap kanvas kosong di depannya.

Bohong.

Elang tidak melihat biru apa-apa. Sejak kecelakaan enam bulan lalu—truk rem blong, dia sedang menyebrang sambil membawa kanvas—dan kini matanya rusak. Bukan buta total. Hanya saja warna... terutama biru telah hilang.

Langit kini jadi abu-abu.

Laut kini jadi abu-abu.

Bahkan baju biru kesukaan mendiang istrinya yang masih tergantung di lemari, sekarang hanya abu abu kelabu—pucat.

Dokter berkata kerusakan saraf optik. Sedang Elang sendiri bilang—ini takdir. Sama saja tentunya, yang ujung-ujungnya—dia tetap tidak bisa melihat biru—dan mulai melupakan warna biru.

Lucu juga. Empat puluh tahun menjadi pelukis, spesialis langit. Orang bahkan memanggilnya "Elang Langit".

Sekarang?

Sekarang dia hanya Elang—yang tidak bisa melihat langit.

"Kakek sedang apa?"

Kinar tiba-tiba muncul. Cucunya memang suka datang tiba-tiba menghampiri. Umur tujuh tahun namun sudah punya bakat membuat orang kaget—atau seperti itulah anak kecil—sering tidak terduga. Dress kuningnya kontras sekali dengan... yah, dengan abu-abu yang Elang lihat sekarang.

"Mau melukis." kata Elang

"Kenapa tidak dimulai-mulai?"

Nah ini pertanyaannya. Bagaimana mau mulai kalau kamu lupa warna utamanya seperti apa?

"Kakek sedang mengingat."

"Mengingat apa?"

"Mengingat... kakek lupa warna biru itu seperti apa."

Kinar terlihat bingung. Sepertinya dia tidak mengerti bagaimana caranya orang bisa lupa warna. Ya tentu saja, dia masih tujuh tahun. Dunia masih penuh warna untuknya.

Tapi kemudian Kinar berlari ke kamar. Kembali lagi membawa buku gambar lusuh dan kotak pensil warna.

"Kakek lihat ini!"

Dia membuka halaman demi halaman. Gambar-gambar crayon khas anak SD. Ada langit, pantai, rumah, semuanya diwarnai dengan semangat—empat lima—kata Kinar menunjukkan. Tapi bagi Elang, ya begitulah. Abu-abu semua.

"Kinar gambar ini waktu ke pantai. Kakek ingat tidak? Yang Kakek bilang—airnya dingin sekali."

Elang tentu ingat. Dua tahun lalu. Parangtritis. Kinar pertama kali melihat laut. Matanya sampai melotot melihat luasnya laut dan langit.

"Ingat. Lalu kenapa?"

"Nah ini kan biru. Langitnya biru, lautnya juga biru. Kakek kan pelukis, masa lupa?"

Elang tersenyum tipis. Anak-anak memang polos. Mereka tidak mengerti bahwa ingatan itu seringkali tidak bisa diandalkan. Apalagi ingatan-ingatan tentang sesuatu yang mata sudah tidak bisa lihat lagi.

"Kakek ingin ingat lagi. Kinar bisa ceritakan tidak, biru itu seperti apa?"

Kinar menggaruk-garuk kepala. "Ya biru saja, Kek."

"Coba jelaskan. Misalnya... waktu melihat langit di pantai itu, Kinar merasakan apa?"

"Oh!" Kinar tampak antusias. "Ya itu... luas sekali! Lalu... dingin rasanya. Seperti... seperti adem. Seperti minum es tapi tidak di mulut, di mata."

Hm. Menarik juga penjelasan itu.

"Lalu saat Kinar melihat lama-lama, bagaimana?"

"Pusing! Soalnya seperti tidak ada ujungnya. Lalu Kinar berpikir, wah seandainya bisa terbang ya, ke atas terus sampai ke ujung lautan—atau ke langit."

Elang mulai menutup mata—agak mengabaikan jenaka dan konyolnya imajinasi Kinar.

Dia mencoba membayangkan. Bukan membayangkan warnanya—itu sudah mustahil—ia sudah lupa. Tapi membayangkan rasanya. Luas. Adem. Tidak ada ujungnya. Lalu sensasi angin laut yang menusuk kulit. Juga suara ombak yang membuat tenang sekaligus menakutkan.

Membuka matanya lalu tangannya bergerak sendiri. Mengambil kuas. Mencelupkan ke cat yang tertulis "Azure Blue". Baginya hanya abu-abu kental. Tapi... ya sudahlah.

Dia mulai menggoreskan. Pelan. Tidak yakin. Tangannya sedikit gemetar.

"Itu biru tidak, Kin?"

Kinar mengangguk-angguk bersemangat. "Iya! Biru sekali!"

Elang tidak bisa memastikan. Tapi dia percaya pada Kinar. Anak ini tidak mungkin berbohong hanya untuk membuat kakeknya senang. Kinar terlalu jujur untuk itu.

Dia terus melukis. Mengikuti insting. Mengikuti ingatan tangan—tangan yang sudah empat puluh tahun melakukan ini. Otak barangkali mungkin mulai lupa, tapi tangan punya memorinya sendiri, pikirnya.

Sejam kemudian, ada langit di kanvas. Entah benar atau tidak. Elang tidak bisa menilai.

"Bagus tidak?"

"Bagus sekali, Kek! Ini langit paling bagus yang pernah Kinar lihat!"

Elang tahu Kinar berlebihan. Tapi ya sudahlah. Dia membutuhkan keberlebihan Kinar sekarang.

"Terima kasih ya, Kin. Sudah membantu Kakek mengingat."

"Sama-sama! Besok kita ingat warna lain yuk!"

Kinar berlari keluar. Elang duduk sendiri lagi. Menatap lukisannya lama-lama.

Dia tidak tahu ini biru atau bukan. Dia tidak tahu ini bagus atau tidak. Tapi yang dia tahu—dia baru saja melukis lagi setelah enam bulan hanya menatap kanvas kosong.

Dan itu awal yang cukup bagus.

Semoga.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 11, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

WARNASAWhere stories live. Discover now