Enjoy reading~
Pagi itu, langit masih sedikit berkabut. Suara burung samar-samar terdengar dari pepohonan di pinggir kompleks perumahan kecil di daerah Ilsan. Keonho berdiri di depan gerbang rumah barunya, mengembuskan napas pelan sambil menatap papan nama sekolah di tangan. SMA Hyewon. Hari pertama di sekolah baru, di lingkungan baru.
“semoga gak ada orang nyebelin di sana,” gumamnya pelan.
Keonho belum sempat menutup gerbang ketika dari rumah sebelah terdengar suara musik keras banget. Suara drum dan gitar yang mengguncang pagi hari—diikuti teriakan,
“EYYY! AKU TELAT LAGI!!”
Dari rumah itu keluar seorang cowok tinggi, rambutnya sedikit berantakan tapi wajahnya keliatan hidup banget. Dia pakai seragam sama seperti keonho, dasinya miring, dan satu sepatu talinya belum diikat. Cowok itu berhenti sebentar pas liat keonho.
“oh, kamu anak baru ya?”
“...iya,” jawab keonho singkat.
“wah, berarti kamu tetanggaku dong! aku Seonghyeon.”
Keonho cuma mengangguk pelan.
“aku Keonho.”
“Keonho~,” ulang seonghyeon sambil nyengir lebar. “nama kamu lucu, ayo bareng ke sekolah, aku juga ke SMA Hyewon.”
Keonho sempat menolak dengan sopan, tapi Seonghyeon udah duluan jalan sambil manggil,
“cepetan, nanti kita telat bareng!”
Keonho mendengus. orang ini… keras kepala banget.
Tapi pada akhirnya, mereka memang berangkat bareng — karena arah sekolah cuma satu jalan, dan entah kenapa, keonho merasa gak bisa bilang tidak.
---
Hari pertama di sekolah berjalan cukup normal—sampai guru wali kelas masuk dengan kertas pengumuman di tangan.
“oh iya, anak baru ya, perkenalkan dirimu di depan kelas.”
Keonho berdiri tegak, memperkenalkan diri dengan suara tenang dan formal. Semua berjalan baik… sampai tiba-tiba terdengar suara dari bangku belakang.
“guruuu! anak baru itu tetanggaku!”
“eh? Seonghyeon?” guru menatap heran.
“iyaa! aku udah kenal dia, dia lucu banget, serius deh!”
Seluruh kelas ketawa. Keonho cuma bisa menatap tajam ke arah Seonghyeon yang lagi ngakak tanpa rasa bersalah.
Setelah pelajaran pertama selesai, Seonghyeon langsung duduk di sebelah Keonho.
“aku bantu kamu adaptasi, oke?”
“aku gak minta bantuan.”
“tapi kamu keliatan butuh temen~”
Keonho mendengus pelan. “aku gak butuh temen yang berisik.”
Seonghyeon malah nyengir makin lebar. “wah, berarti aku cocok banget.”
Hari itu berakhir dengan keonho yang setengah kesal karena Seonghyeon gak berhenti ngobrol. Tapi di sisi lain, ada sedikit rasa hangat yang gak bisa dia jelaskan—kayak… suasana ribut itu justru membuatnya gak merasa sendirian.
---
Sore hari, saat Keonho mau belajar di kamar, tiba-tiba terdengar suara gitar dari rumah sebelah. Lagu ballad lembut, beda jauh dari musik keras pagi tadi.
Pelan-pelan, Keonho mendekat ke jendela. Seonghyeon duduk di balkon, matanya menatap langit sore, memainkan senar dengan ekspresi tenang.
Keonho gak sadar kalau dia tersenyum. Ternyata orang ini bisa diem juga… pikirnya.
Tapi sebelum dia sempat memalingkan pandangan, Seonghyeon menoleh, senyum lebar muncul di wajahnya.
“hei, tetangga! kamu nguping ya?”
Keonho langsung menutup gorden buru-buru.
“nggak!” teriaknya.
tapi dari luar jendela, suara tawa Seonghyeon terdengar jelas.
“bohong banget suaranya~”
Keonho menutup wajah dengan bantal, pipinya panas. “kenapa sih orang itu gak bisa berhenti ngomong...”
---
Malamnya, sebelum tidur, Keonho sempat mendengar suara notifikasi dari ponselnya.
pesan dari nomor tak dikenal:
Seonghyeon: “besok aku jemput ya. biar gak telat bareng lagi 😎”
Keonho: “gak usah.”
Seonghyeon: “berarti aku tetep jemput 😁 good night, tetangga~”
Keonho mengetik balasan panjang, lalu menghapusnya. Akhirnya cuma membalas singkat:
“dasar berisik.”
Tapi bibirnya tanpa sadar melengkung kecil.
Tbc'
Thank you for reading to the end ♥️
Kalau suka, vote & komen yaa 😻
YOU ARE READING
Between Noise and Longing
FanfictionJust short story Seonghyeon x Keonho Get used to reading tags!! gak suka??SKIPP‼️
