Haga - pembalap dingin, tegas, berwibawa.
Liam - lawan sekaligus rival nakal yang tak mau kalah.
[Suasana: Lintasan balap tengah malam. Asap knalpot masih mengepul. Haga sudah turun dari motornya, sedangkan Liam menurunkan helm dengan napas terengah.]
Liam: (geram) ...Sial. Lo cuma menang satu detik, Haga. Itu nggak berarti lo lebih baik.
Haga: (senyum miring) Tapi satu detik itu cukup buat ngebuktiin siapa yang di atas malam ini.
Liam: (melotot) Jangan mulai, Haga.
Haga: (melangkah mendekat) Kenapa? Takut gue tagih janji lo?
Liam: (menggertakkan gigi) Janji apaan? Gue-
Haga: (menatap tajam) "Kalau lo kalah, lo jadi milik gue." Lo yang ngomong itu, Liam.
Liam: (menunduk, lalu menatap balik dengan senyum menantang) Gue nggak nyangka lo beneran nganggep serius omongan itu.
Haga: Gue selalu serius soal dua hal - balapan... dan lo.
(berhenti di depan Liam, jarak tinggal beberapa senti)
Liam: (berdebar, tapi masih ngegas) Lo pikir gue bakal nurut semudah itu?
Haga: Gue nggak butuh lo nurut. Gue cuma butuh lo inget... siapa yang menang malam ini.
(angkat dagu Liam dengan dua jarinya)
Liam: (menelan ludah) Lo gila.
Haga: Mungkin. Tapi mulai sekarang, lo gila gue.
Liam: (tertawa pelan, sarkastik) Dasar sialan.
Haga: (berbisik di telinganya) Sialan yang baru aja ngambil semuanya dari lo.
(hening sebentar, suara mesin motor lain di kejauhan, keduanya saling tatap penuh tensi dan adrenalin)
Liam: ...Jangan kira ini udah selesai. Gue bakal balikin semua, Haga.
Haga: Gue tunggu. Tapi sampai lo bisa ngalahin gue... lo tetap milik gue.
[Suasana: Area pinggir lintasan, malam, suara mesin sudah berhenti. Lampu neon padam sebagian. Udara masih bau bensin dan adrenalin.]
Liam: (mendorong helm ke dada Haga)
Lo nggak usah ngatur gue, Haga! Gue tahu apa yang gue lakuin di trek!
Haga: (menatap tajam)
Lo hampir jatuh di tikungan terakhir, Liam. Lo pikir lo kebal? Balapan itu bukan cuma soal ngebut!
Liam: (nada tinggi)
Lo pikir gue butuh ceramah lo? Lo cuma takut posisi lo tergeser!
Haga: (giginya terkatup, suaranya mulai berat)
Lo selalu ngomong tanpa mikir, ya?
Liam: Karena lo selalu ngerasa paling benar!
(Haga menatapnya beberapa detik-rahangnya mengeras. Udara di antara mereka tegang. Lalu tanpa kata, Haga menarik napas dalam, lalu dengan cepat menggenggam pergelangan tangan Liam.)
Liam: (kaget) Haga, lepasin-
Haga: Diam.
(Nada suaranya rendah tapi menggema. Liam mencoba melawan, tapi Haga malah menariknya, membawa menjauh dari lintasan. Langkahnya cepat, kuat, sampai Liam kewalahan mengikuti.)
Liam: Lo mau ngapain sih?!
Haga: Lo mau teriak di depan orang? Mau semua tim liat lo ngelawan gue kayak anak kecil?
(Liam masih meronta, tapi Haga tetap menuntunnya menuju base. Begitu masuk ke area garasi, Haga menutup pintu dengan keras - brak!)
Haga: (menatapnya tajam, nada menahan amarah)
Lo bikin gue kehilangan kesabaran, Liam. Gue tahan terus karena gue nggak mau nyakitin lo. Tapi lo makin ngelawan.
