🍅🍥

236 33 14
                                        

Ruang rias itu dipenuhi dengan cahaya lembut dari matahari pagi yang menembus tirai tipis. Udara musim semi samar-samar bercampur dengan wangi teh hangat yang tersaji dimeja rias. Di depan cermin besar berbingkai emas, duduk seorang wanita berambut hitam legam yang indah, bergelombang lembut hingga ke punggung.

Dialah Uchiha Sasuke - satu-satunya pewaris terakhir klan Uchiha.

Hari ini adalah hari pernikahannya.

Tangannya bergetar sedikit ketika jari-jarinya menyentuh renda putih pada kimono pernikahannya. Cermin di depannya memantulkan sosok perempuan yang jarang tersenyum, namun hari ini bibirnya sedikit melengkung, tipis, tulus dan penuh harapan baru.

Dulu aku bahkan tidak peduli pada romantisme. Pikirnya.

Sasuke terkekeh pelan, menunduk menatap liontin rubah yang diberikan calon suaminya saat mereka memutuskan untuk berkencan. Ia ingat hari-hari ketika cinta terasa mustahil baginya - ketika hatinya hanya berisi amarah, dendam, dan kehampaan.

Namun semua itu berubah karena satu sosok yang tidak pernah menyerah padanya, Uzumaki Naruto.

Jauh di luar sana, ia tahu Konoha sedang merayakan. Seluruh penduduk desa, yang dulu membenci dan mencoba untuk menyingkirkan Naruto, kini bersiap menyaksikan pahlawan mereka mengikat janji suci.

Ruang rias itu hening, hanya ditemani desau kipas pendingin. Sasuke memejamkan mata sejenak, membiarkan ingatan mengalir seperti sungai di musim semi.

Pernikahan ini.. adalah sebuah ironi indah yang dulu tak pernah terbayangkan. Sasuke, yang selalu menatap langit sendirian, kini akan berbagi langit dengan satu-satunya pria yang berani berdiri di sisinya.

Ia ingat, masa kecilnya dihiasi bayangan mendiang kakaknya, Itachi, dan kebanggaan dari klannya yang runtuh dalam semalam. Sejak saat itu, ia memilih jalan kesendirian. Jalan yang ia yakini akan membawanya pada kekuatan. Lalu, Naruto datang.

Naruto Uzumaki. Bocah pirang bermata biru cerah yang selalu penuh energi, tetapi juga selalu sendiri.

​Pikirannya langsung melayang jauh ke masa lalu, pada saat mereka masih duduk di Akademi Ninja. Naruto selalu menjadi anak paling berisik di kelas. Kekacauan yang menyebalkan, dan selalu mencoba menarik perhatian dengan lelucon bodoh dan kenakalannya.

​Namun, di balik semua kebisingan itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang Sasuke tau betul adalah kesepian.

Naruto duduk di barisan belakang, satu tangannya menopang wajahnya, tatapan kosong menatap jendela. Saat itu, Naruto baru saja gagal dalam ujian kelulusan, lagi. Murid-murid lain berbisik-bisik, menertawakan kebodohan dan kenakalan bocah itu. Sasuke hanya mengamati. Ia tidak ikut menertawakan, tetapi juga tidak peduli. Ia hanya melihat ada kemiripan dalam kesendirian mereka, meski alasannya berbeda.

Sasuke kesepian karena terlalu banyak yang hilang darinya. Naruto kesepian karena terlalu banyak yang lari darinya.

Ingatan bergeser ke hari-hari mereka menjadi Tim Tujuh di bawah bimbingan Kakashi. Naruto selalu berusaha. Berusaha mengalahkan Sasuke, berusaha mendapatkan pengakuan, berusaha membuat semua orang tertawa. Namun, saat senja tiba dan semua kembali ke rumah masing-masing, Sasuke sering melihat Naruto sendirian di bangku taman, hanya ditemani bayangannya sendiri.

Naruto tidak pernah mengeluh. Ia akan menyembunyikan rasa sakitnya di balik cengiran khasnya yang lebar. Tapi mata biru itu, Sasuke selalu melihat ada kabut kesedihan di sana.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Oct 30, 2025 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

A Heart Found HomeHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora