𝗥𝗼𝗮𝗱 𝘁𝗼 𝗚𝗿𝗼𝘂𝗻𝗱 𝗭𝗲𝗿𝗼

52 4 0
                                        

Bab 1: The Damned world

Chapter 1: Road to Ground Zero

Langit terbentang dengan gelap abadi.

Debu logam dan partikel nuklir menebal di atmosfer, menelan matahari hingga siang hari tampak seperti senja yang tak pernah berakhir. Awan ion berpendar ungu kebiruan di malam hari—indah namun mengerikan pada saat yang bersamaan. Di antara reruntuhan dunia lama, suara mesin truk tua menggeram, menggema di jalan berbatu dan tanah gersang. Truk berat berguncang melintasi jalan bebatuan, menimbulkan denting logam dan serpihan batu yang memantul di bawah rodanya. Udara terasa kering, berdebu, dan penuh bau karat serta oli.

Seseorang dengan tubuh besar dan wajah yang keras bersandar pada peti logam besar berwarna kusam. Truk bergetar setiap kali rodanya menghantam batu reruntuhan, tapi tak seorang pun mengeluh. Seakan mereka semua terbiasa dengan kerasnya perjalanan menuju Ground Zero, wilayah perburuan yang penuh radiasi dan makhluk mengerikan bernama Ravagers.

Beberapa pemburu lain menatap diam, sebagian tertidur dengan masker gas di dada, sebagian sibuk memeriksa perlengkapan senjata. Seorang pemuda berwajah cerah namun penuh bekas luka menatap sebuah peti besar dengan rasa ingin tahu.

"Hei kawan, untuk apa kau membawa peti sebesar itu?" tanya si pemuda, suaranya parau karena udara kering.

Pria bertubuh besar itu pun menoleh pelan. "Senjata," jawabnya singkat.

Pemuda itu menaikkan alis, setengah heran, setengah menggoda.

"Senjata sebanyak itu? Kau bukan manusia biasa, kan?"

Pria bertubuh besar itu mengangkat pandangannya sedikit. "Bukan," ujarnya. "Aku seorang Ignitor. Senjata-senjata ini hanya perantara... untuk mempermudah. Kau sendiri? Seorang Ignitor juga?"

Pemuda itu tersenyum kecil. "Tidak. Aku manusia biasa. Tapi aku punya beberapa peninggalan dunia lama."

Ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan dua revolver besar, berlapis logam hitam dengan ukiran simbol kuno di sisi larasnya.

"Namanya Lamassu dan Gugalanna. Revolver tua, tapi masih hidup seperti aku."

Pria bertubuh besar itu menatapnya sebentar.

"Senjata itu bisa membunuh Ravager?"

"Oh, tentu bisa. Senjata ini bahkan bisa menembus kepala Motorhead dengan sekali tembak," jawab pemuda itu santai.

Pria bertubuh besar itu menatapnya datar.

"Kau mau berburu hanya dengan dua pistol?"

Pemuda itu terkekeh keras.

"Tentu saja tidak! Kau pikir aku bodoh? Kalau cuma bawa dua pistol, itu namanya bunuh diri, bukan berburu. Aku juga membawa senjata lain sesuai kebutuhan."

Pria bertubuh besar itu pun menghela napas pendek. "Aku cuma bertanya."

"Iya, iya, maafkan aku," katanya sambil tertawa kecil. "Ngomong-ngomong, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Andre Smith. Orang-orang menjulukiku Armed & Dangerous." Ia mengulurkan tangan dengan senyum lebar.

"Salam kenal."

Pria bertubuh besar itu menjabat tangannya singkat. "Jack. Mereka memanggilku Metallica."

Andre terdiam sebentar, mencoba mengingat.

"Metallica? Aku pernah dengar nama itu... di mana, ya?"

Jack hanya menatap ke arah langit kelam. "Mungkin kau salah dengar."

"Oh, ngomong-ngomong," Andre melanjutkan, "kau pernah dengar tentang kelompok Wild Side?"

"Pernah. Mereka kelompok Nomad, kan? Isinya manusia hibrida. Kenapa?"

"Mereka lagi jadi topik hangat sekarang. Salah satu anggotanya berhasil membunuh segerombolan Head Crusher—pakai tangan kosong."

Jack menoleh cepat. "Dengan tangan kosong?"

"Iya. Makanya sekarang namanya terkenal di kalangan pemburu. Orang bilang kekuatan fisiknya di luar nalar."

Sebelum Jack sempat merespons, terdengar suara rem berdecit keras.

"CKIIIIT!!"

Truk berhenti mendadak, membuat semua penumpang terguncang.

"Kita diserang!?" salah satu pemburu berteriak panik.

"Bukan!" seru sopir dari depan sambil menepuk keras bahu orang di belakangnya. "Semua keluar! Tujuan sudah di depan mata! Mau sampai kapan kalian tidur, hah!?"

Andre tertawa kecil. "Kita lanjutkan obrolannya nanti, kawan. Sekarang fokus berburu dulu."

Mereka pun turun dari truk dan melangkah ke pos pemeriksaan. Udara di sini jauh lebih berat, bercampur aroma logam terbakar dan ozon. ZONE ENTRY – GROUND ZERO tertulis pada lampu neon yang tua berkedip di atas gerbang besi yang berkarat.

Jack mendekati meja administrasi di pos, menyerahkan koin logam kecil berlogo simbol mercenary.

"Tujuan?" tanya petugas, suaranya kaku.

"Perburuan Ravagers," jawab Jack.

"Bukti penerimaan permintaan?"

Jack mengeluarkan koin logam itu lagi, memantulkan cahaya samar. Petugas menatapnya, lalu mengangguk.

"Baik. Silakan lewat."

Dari jauh Andre memanggil.

"Oi, Jack! Gimana, lancar?"

"Aman," jawab Jack.

"Bagus. Kau mau berburu bareng? Hasilnya kita bagi dua."

Jack sempat diam sejenak, menimbang. Lalu ia mengangguk.

"Baiklah. Dua kepala lebih baik dari satu."

Andre tersenyum lebar.

"Nah, kalau begitu deal hasil bagi dua!"

Andre mengenakan masker pelindung dan memeriksa senjatanya. "Pastikan filter udaramu aktif. Udara di Ground Zero dapat membunuhmu bahkan sebelum kau sempat melihat Ravager." ucap Andre sambil menepuk pundak Jack.

Jack memasang helm hitam dengan visor tebal. "Kau terlihat berpengalaman."

Andre mengangguk sambil memeriksa tabung filter udara di punggungnya.

"Aku sudah beberapa kali masuk ke Ground Zero, tapi tidak sampai dalam. Aku manusia biasa, Jack. Kalau terlalu jauh, radiasi bisa membunuhku dalam hitungan menit."

Jack menatap cakrawala abu-abu di depan mereka. "Apa radiasi seburuk itu bagi manusia biasa?"

"Lebih buruk," jawab Andre singkat. "Radiasi di sana bukan hanya penyakit — itu kutukan."

Jack mengangguk pelan, lalu mengangkat peti baja besarnya. Suara logam bergesekan dengan tanah. Andre memutar kunci senjatanya, lalu menatap ke depan.

"Sudah siap?" tanya Andre

"Sudah," jawab Jack.

Keduanya melangkah melewati garis perbatasan — menuju Ground Zero, wilayah terlarang yang bahkan langitnya tampak mati.

Kabut radiasi berputar seperti arwah yang tak mau pergi, dan di kejauhan terdengar raungan samar — mungkin angin... mungkin sesuatu yang lain.

Ground Zero, Tempat di mana dunia mati, tapi sesuatu yang baru mulai lahir.

Langkah pertama menuju perburuan Ravagers pun dimulai.

BLACKBODYWhere stories live. Discover now