.
.
.
Hujan turun deras malam itu, seolah langit ikut berduka atas kelahiran seorang anak yang tak seharusnya datang ke dunia.
Tangisan bayi menggema di ruang rumah sakit yang dingin tangisan pertama yang seharusnya disambut bahagia, namun malah disertai suara detak jantung yang berhenti.
Di saat Narethiel Varethin Alfaeric membuka matanya untuk pertama kali, ibunya menutup matanya untuk selamanya.
Hari itu, keluarga Alfaeric kehilangan cahaya terbesarnya.
Dan sejak saat itu pula, mereka memiliki satu alasan untuk membenci anak yang baru lahir.
Bagi mereka, Narethiel bukanlah anugerah, ia adalah penyebab dari kematian, pembawa sial, noda di tengah kesempurnaan keluarga yang dikenal kaya raya dan berpengaruh itu.
Rumah besar keluarga Alfaeric berdiri megah di atas bukit kota, berdinding kaca dan baja yang berkilau, tapi di dalamnya tak ada kehangatan.
Setiap jengkal rumah itu terasa seperti penjara bagi Narethiel.
Tidak ada senyum yang menyapanya, tidak ada tangan yang merangkul, tidak ada suara yang memanggil namanya dengan lembut.
Yang ada hanya tatapan dingin, ucapan tajam, dan keheningan yang menyesakkan dada.
Kakak-kakaknya hidup dalam limpahan kasih sayang dan perhatian.
Mereka tertawa, makan bersama, berfoto di ruang tamu yang besar, sementara Narethiel duduk sendirian di pojok ruangan, menjadi bayangan yang seolah tidak pernah ada.
Ketika ia mencoba bicara, suaranya sering dipotong oleh cemoohan.
Ketika ia berbuat salah sedikit saja, hukuman datang seolah dunia menuntut balas.
Tak ada yang memanggilnya "adik".
Tak ada yang menyebutnya "anak."
Ia hanyalah nama yang disebut ketika keluarga Alfaeric butuh sesuatu untuk disalahkan.
Hari-harinya berjalan seperti malam yang tak pernah berganti pagi.
Setiap pagi ia bangun di kamar paling ujung, kamar yang dulunya gudang, dengan dinding lembap dan jendela kecil yang hanya memperlihatkan langit abu-abu.
Kadang ia mendengar suara tawa dari ruang makan, aroma roti panggang, percakapan hangat - semuanya terasa begitu jauh, seakan datang dari dunia lain yang tak akan pernah bisa ia masuki.
Di sekolah, orang mengenalnya sebagai anak terakhir keluarga Alfaeric, keluarga kaya raya yang dihormati banyak orang.
Namun tak ada yang tahu bahwa di balik seragam mahal dan wajah tanpa ekspresi itu, ada jiwa yang rapuh dan retak sejak lahir.
Ia belajar untuk tidak menangis. Karena setiap air mata hanya akan dianggap sebagai kelemahan.
Dan di rumah itu, kelemahan adalah dosa.
Waktu berlalu.
Rasa sakit yang dulu membuatnya menangis kini tidak lagi terasa.
Makian yang dulu melukai kini hanya lewat seperti angin.
Narethiel tidak tahu kapan hatinya berhenti peduli.
Mungkin saat pertama kali ia mencoba tersenyum dan tak ada yang membalas.
Atau mungkin saat ia menyadari bahwa tak ada tempat baginya di dunia ini, bahkan di rumah sendiri.
Kini, di balik wajah dingin dan mata yang kosong, tersembunyi sesuatu yang tidak lagi bisa disebut manusiawi.
Ia tidak lagi marah, tidak lagi sedih - hanya hampa.
Namun di dalam kehampaan itu, sesuatu perlahan tumbuh.. perasaan halus namun berbahaya Bukan kebencian..
melainkan keinginan untuk menghilang.
Bukan sekadar pergi , tapi benar-benar tidak pernah ada.
Karena mungkin dunia ini memang akan lebih baik jika Narethiel Varethin Alfaeric tidak pernah dilahirkan.
~•~•~•~•~•~
Oke, sekian untuk Prolog nya, kalau boleh, author pengen kalian tinggalkan jejak setelah kalian selesai membaca yaa.. boleh komentar ataupun vote ❤️
Mohon maaf juga jika ada kesamaan dengan novel lain yang mungkin pernah kalian baca, karena itu murni ketidak sengajaan.
Kalo ada yang plagiat kalian bilang yaa...
Terima kasih...❤️❤️❤️
YOU ARE READING
CAHAYA YANG PUDAR DI UJUNG LAUTAN
RandomKonon katanya, anak adalah sebuah anugerah... . Anugerah yang dititipkan oleh tuhan pada orang tua. Untuk, dilindungi, dijaga, di didik, dan di sayangi sepenuh hati. . . Lalu, kenapa Narethiel tidak merasakan semua hal baik itu? "hidup itu tidak adi...
