Bab 1 (perfect but lonely)

0 0 0
                                        


Jennifer Ralavisya.
Nama itu sudah cukup membuat orang menoleh. Di sekolah, di kampus, bahkan di tempat kerja part-time, semua orang mengenalnya sebagai sosok yang perfect. Cantik luar dalam, pintar bicara, punya aura yang bikin orang lain segan sekaligus kagum.
Seakan-akan dunia selalu berpihak padanya.

Namun, yang tidak pernah orang lain tahu: Jennifer lelah.

Ia berjalan di koridor kampus dengan langkah ringan, senyumnya tipis, rambut hitam panjangnya tergerai menutupi sebagian wajah. Orang-orang yang lewat menyapanya, beberapa cowok bahkan berusaha mencari perhatian. Jennifer hanya membalas seadanya. Senyum sekilas, lalu berlalu.

“Jenn, nanti malam nongkrong, kan?” tanya Lira, sahabatnya, saat mereka keluar dari kelas.

Jennifer menggeleng pelan. “Kayaknya nggak deh. Lagi nggak mood.”

“Lagi nggak mood, atau lagi males ngeliat orang pacaran di depan mata?” goda Lira sambil menyenggol lengannya.

Jennifer tertawa kecil, tapi tidak menampik. Ia sudah terlalu sering dikecewakan oleh hubungan. Dari luar, ia memang terlihat kuat dan tak tergoyahkan. Tapi di balik itu, ia punya luka yang tidak pernah sembuh benar.

Dua kali diselingkuhi, sekali ditinggalkan tanpa alasan jelas. Rasanya Jennifer sudah cukup kenyang dengan drama cinta. Baginya, cinta hanyalah permainan emosi yang berujung sakit. Jadi, ia memutuskan untuk berhenti berharap.

“Aku lebih suka sendiri sekarang. Tenang, nggak ribet, nggak ada yang bikin sakit kepala,” katanya sambil merapikan tas.

Lira mendengus. “Sombong banget sih. Lo nggak tau ya banyak yang ngantri jadi pacar lo?”

Jennifer tersenyum tipis, menatap sahabatnya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Tau. Tapi buat apa kalau ujungnya sama aja? Capek, Ra.”

Mereka keluar menuju parkiran. Hari itu matahari terik, tapi angin sore cukup menenangkan. Jennifer menyalakan motornya, bersiap pulang. Ia tidak sadar bahwa ada sepasang mata yang memperhatikan dari jauh.

Wiradinata Jayden.

Cowok itu bersandar di pagar dekat taman, satu tangan di saku celana, wajahnya datar tanpa ekspresi. Dari kejauhan, ia memperhatikan Jennifer dengan tatapan yang sulit ditebak. Tidak seperti cowok lain yang terang-terangan mendekat dengan gombalan murahan, Jayden memilih diam. Tapi tatapan itu cukup menusuk, seakan menyimpan sesuatu yang belum terucap.

---

Malamnya, Jennifer duduk di meja belajarnya. Lampu kamar temaram, laptop menyala dengan tumpukan file tugas. Musik pelan mengalun dari ponsel. Ia membuka jendela, membiarkan udara malam masuk.

Sambil mengetik, pikirannya melayang ke ucapan Lira tadi siang. Tentang banyaknya cowok yang tertarik padanya.

Ya, memang banyak yang datang. Tapi pada akhirnya, semua pergi. Entah karena bosan, entah karena menemukan orang lain, atau sekadar ingin main-main. Jennifer sudah muak.

Baginya, cinta itu tidak lebih dari sekadar ilusi manis yang cepat memudar.

Ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari nomor tak dikenal.

“Kamu nggak pernah bosen pura-pura kuat?”

Jennifer terdiam. Alisnya berkerut. Siapa yang mengirim pesan aneh seperti itu? Ia mengetik balasan cepat.

“Siapa ini?”

Tidak ada jawaban. Hanya tanda centang biru. Jennifer menghela napas, menaruh ponsel, lalu kembali mengetik tugas. Tapi entah kenapa, kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 26, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

from: Wiradinata JaydenStories to obsess over. Discover now