Laut Atlantik malam itu tidak seperti biasanya.
Langit memerah, ombak menelan bintang, dan angin membawa bisikan yang bukan berasal dari dunia manusia. Di tengah badai itu, kapal Aurelia berjuang menembus gelombang yang seolah hidup.
Captain Aedric Aesval berdiri di geladak dengan mata tajam menatap kompasnya—jarum berputar tanpa arah. "Sinyal mati... tapi angin ini seperti menuntun kita," gumamnya. Di balik suaranya ada nada ragu, seolah ia tahu ke mana laut hendak membawanya.
Kilatan petir menyambar, memperlihatkan siluet samar di cakrawala: pusaran air hitam dengan cahaya biru berdenyut di dalamnya. The Abyss Gate. Gerbang kuno yang seharusnya hanya ada di legenda.
"Kapten! Kita harus balik!" teriak seorang awak, tapi terlambat. Pusaran itu menarik mereka. Suara teriakan bercampur dengan dentuman Ether liar. Saat kapal terbelah oleh cahaya, Aedric sempat melihat wajah seseorang di belakangnya—Daren, sahabat sekaligus saudaranya, dengan mata hitam menyala dan tanda kutukan di tangan.
"Maafkan aku, Aedric. Laut ini butuh penguasa baru," bisiknya.
Petir menyambar lagi. Dunia memudar. Laut menelan segalanya.
Bertahun-tahun setelah malam itu, di sebuah rumah kecil di pinggiran kota pelabuhan, anak laki-laki berumur tujuh tahun menatap laut dari jendela.
Namanya Elian.
Ia memandangi kompas tua peninggalan ayahnya, jarumnya masih berputar tak tentu arah.
"Kenapa Ayah tidak pernah pulang, Kak?" tanya adiknya, Ryn, dengan suara serak lemah. Elian hanya menggenggam tangannya, menahan air mata.
Di luar, ombak memukul dermaga dengan ritme aneh, seolah membisikkan nama yang tak boleh diucapkan.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, kompas Aedric berhenti berputar. Jarumnya menunjuk lurus ke arah Segitiga Bermuda.
Di kejauhan, jauh di dasar laut, mata raksasa terbuka di balik kegelapan.
The Watcher of the Deep terbangun.
Segelnya retak sedikit, dan suaranya menggema ke seluruh samudra.
"Waktunya hampir tiba. Pewaris Aesval... akan membuka gerbangku lagi."
YOU ARE READING
Elian: The Rift of Bermuda
FantasyKetika The Abyss Gate di Segitiga Bermuda mulai bergetar lagi setelah seribu tahun tertutup, dunia manusia (Terra) dan dunia sihir kuno (Aqthar) perlahan kehilangan keseimbangannya. Energi Ether mengalir tak terkendali, menimbulkan badai, lenyapnya...
