1. REA?

274 23 1
                                        


Langit sore tampak muram, seolah ikut menahan napas bersama riuhnya lalu lintas kota. Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah yang samar tercium di udara. Di tepi trotoar, seorang gadis berambut hitam lurus berdiri sambil menatap lampu lalu lintas yang belum juga berganti hijau. Wajahnya datar, tanpa ekspresi berarti. Itulah Zea - siswi kelas dua SMA Arkanata yang lebih dikenal karena keheningannya daripada prestasinya.

Ia bukan tipe yang suka keramaian, bukan pula orang yang berusaha mencuri perhatian. Teman-temannya tahu, Zea selalu sendirian - makan siang sendiri, pulang sendiri, bahkan kadang berbicara seperlunya saja. Namun di balik sikap dinginnya, Zea adalah gadis yang pintar. Nilai-nilainya selalu stabil di atas rata-rata. Ia hanya tidak suka basa-basi.

Jam sudah menunjukkan pukul lima lewat dua belas menit ketika Zea menuruni tangga penyeberangan di depan sekolah. Hujan tipis mulai turun lagi, membasahi bahu seragamnya yang sudah agak kusam. Ia menarik napas panjang, menatap ke arah jalan raya yang padat.

"Seperti biasa, macet," gumamnya lirih.

Ia menunggu beberapa detik, lalu melangkah maju saat lampu penyeberangan menyala hijau. Deru kendaraan terdengar, klakson bersahutan - pemandangan sore biasa di kota. Namun dalam hitungan detik, dunia yang biasa itu berubah jadi mimpi buruk.

Dari kejauhan, suara benturan keras disusul teriakan orang-orang. Zea menoleh cepat. Sebuah truk besar meluncur kencang, oleng ke arah jalur penyeberangan. Sopirnya terlihat panik, tangannya menekan klakson bertubi-tubi.

Refleks Zea melangkah mundur, tapi terlambat. Bunyi decitan ban, benturan besi, dan tubuhnya terpental keras ke aspal. Pandangannya bergetar - langit sore memudar, suara orang-orang makin jauh. Rasa panas menyebar di kepala, lalu dingin.

Darah mengalir membasahi pipinya. Matanya mulai berat.

"Apa aku akan... mati?" pikir Zea samar. Lalu semuanya gelap.

Saat Zea membuka mata, yang pertama kali ia rasakan bukanlah dinginnya aspal atau terik matahari. Melainkan aroma antiseptik yang menusuk hidung, cahaya putih menyilaukan, dan suara mesin yang berdetak pelan di dekat telinganya.

Ia memejamkan mata sejenak, berusaha berpikir. Dinding di sekelilingnya putih bersih. Tirai tipis melambai lembut terkena angin dari pendingin ruangan. Sebuah alat monitor detak jantung menampilkan garis hijau yang bergerak perlahan.

"...Rumah sakit?" bisiknya, suaranya serak.

Tapi begitu ia mengangkat tangannya, Zea tertegun. Jari-jarinya tampak lebih halus, lebih kecil dari biasanya. Ia menatap telapak tangannya lekat-lekat, seperti melihat sesuatu yang asing. Ada bekas luka kecil di punggung tangan kanan - ia tidak pernah memilikinya sebelumnya.

Sebelum sempat berpikir lebih jauh, pintu ruangan terbuka. Seorang pria paruh baya dengan jas putih masuk, disusul oleh gadis berambut cokelat bergelombang yang tampak seusianya.

"Rea, kamu sudah sadar?" tanya sang dokter dengan nada lega.

Zea menatapnya bingung. Rea? Siapa Rea?

Gadis di belakang dokter itu langsung berlari kecil mendekat. Air mata membasahi wajahnya, tapi senyumnya tampak lega. Tanpa berpikir, ia langsung memeluk Zea erat.

"Syukurlah kamu sadar, Rea... aku kira kamu nggak akan bangun lagi..." ucapnya terbata di bahu Zea.

Tubuh Zea menegang. Ia tidak mengenal suara ini, tidak mengenal orang ini, dan jelas tidak tahu kenapa seseorang memanggilnya Rea. Ia menatap kosong ke depan, jantungnya berdetak cepat.

Setelah beberapa detik, gadis itu melepaskan pelukannya, menyeka air mata. "Aku takut banget waktu kamu kecelakaan... kamu nggak sadar selama dua minggu, Rea."

Zea diam. Otaknya bekerja cepat, tapi semuanya terasa kacau. Kecelakaan? Dua minggu? Bukankah aku... tertabrak truk?

Ia menatap dokter itu, lalu gadis di depannya. Dengan suara pelan tapi tegas, ia bertanya, "Maaf... kamu siapa?"

Gadis itu terkejut. "Hah? Rea, kamu nggak ingat aku?"

"Rea?" Zea mengulang pelan, alisnya berkerut. "Siapa Rea?"

Dokter menatap keduanya bergantian, lalu mendekat, memeriksa pupil mata Zea dengan senter kecil. "Mungkin efek benturan di kepala... kemungkinan amnesia sementara," katanya lembut.

Namun dalam kepala Zea, semuanya justru semakin jelas - tapi bukan dalam arti yang sama. Ia ingat jelas tubuhnya tertabrak, darah di jalan, rasa dingin menjalar di kulit. Ia tahu, Zea sudah mati.

Jadi kenapa sekarang... semua orang memanggilnya Rea?

Ia menunduk, melihat pantulan wajah di layar ponsel yang tergeletak di meja samping. Rambutnya kini lebih panjang, warnanya cokelat muda, dan mata yang menatap balik darinya bukanlah miliknya. Itu bukan Zea. Itu wajah orang lain.

Sebuah perasaan aneh menjalar di dada. Panik, bingung, takut - tiga emosi yang jarang Zea rasakan dalam hidupnya.

"Rea?" panggil gadis tadi lagi, khawatir. "Kamu kenapa? Ada yang sakit? pusing?"

Zea hanya menggeleng pelan. Bibirnya kering, pikirannya kacau. Tapi di balik semua kebingungan itu, ada satu hal yang perlahan mulai ia sadari - dirinya sudah tidak lagi hidup sebagai Zea.

Entah bagaimana, entah kenapa, kini ia hidup sebagai seseorang bernama Rea

Ia menatap langit-langit putih di atas kepalanya, lalu menarik napas dalam-dalam. "Jadi... aku benar-benar mati," gumamnya nyaris tak terdengar.

Gadis di sebelahnya menatap bingung. "Apa kamu bilang sesuatu, Rea?"

Zea menoleh, memaksakan senyum tipis - senyum yang lebih menyerupai kebingungan daripada ketenangan. "Nggak... cuma sedikit pusing," jawabnya singkat.

Dokter itu menulis sesuatu di catatan medis lalu berkata, "Untuk saat ini, istirahat dulu ya, Rea. Kami akan lakukan pemeriksaan lagi nanti, saya tinggal dulu ya."

Begitu pintu tertutup, ruangan kembali hening. Zea memejamkan mata, mencoba menenangkan diri.

Suara alat monitor berdetak lembut di sebelahnya. Tapi bagi Zea, setiap detaknya justru seperti menghitung langkah waktu yang membawa dirinya semakin jauh dari dunia lamanya. Dunia di mana ia adalah Zea - gadis dingin, cuek, yang kini telah menjadi seseorang yang bahkan ia tak kenal.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Zea merasakan ketakutan yang nyata.

Transmigrasi ZeaStories to obsess over. Discover now