Ia berjalan tanpa arah, hanya mengikuti langkah, mencoba melupakan sesuatu yang berat di hatinya.
Pandangannya kosong, pikirannya jauh - sampai kenyataan membentur dirinya.
Dalam keheningan sore itu, tabrakan kecil terasa seperti panggilan untuk sadar kembali
BRUKK!
Ia terdiam sejenak. Dunia yang tadi hening tiba-tiba terasa nyata kembali - suara angin, langkah orang-orang, detak jantungnya sendiri.
Di hadapannya, seseorang menjatuhkan beberapa buku. Refleks, ia menunduk, membantu memungut satu per satu tanpa berkata apa-apa.
"Maaf... aku ga liat jalan," ucapnya pelan.
Orang itu tersenyum samar, matanya hangat tapi penuh tanya. "Tak apa. Kadang kita memang harus menabrak sesuatu dulu, supaya sadar ke mana kita sebenarnya mau pergi."
Ia tertegun. Kalimat sederhana itu menembus pikirannya, seperti angin sore yang tiba-tiba menyejukkan dada.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia mengangkat pandangannya - dan tersenyum kecil.
•
Ia baru saja keluar dari perpustakaan, menenteng beberapa buku untuk bahan tugas akhir. Langit sore di kampus itu berwarna jingga lembut, memantul di kaca gedung fakultas yang mulai sepi. Di antara deretan langkah mahasiswa yang pulang, ia memilih berjalan pelan, menikmati sisa hari yang tenang.
Beberapa halaman catatannya melayang di kepalanya - rumus, kutipan teori, dan sedikit keresahan tentang masa depan. Tapi sebelum sempat larut dalam pikirannya sendiri, sesuatu - atau seseorang - menabrak tubuhnya cukup keras.
BRUKK!
Buku-bukunya berjatuhan ke lantai. Ia terkejut, hampir refleks ingin mengeluh, tapi segera menahan diri saat melihat seseorang di hadapannya: seseorang dengan wajah lelah, tatapan kosong, seperti baru tersadar dari lamunan panjang.
Orang itu langsung menunduk, memunguti buku satu per satu dengan gerakan canggung.
"Maaf... aku ga liat jalan," ucapnya pelan, hampir seperti bisikan.
Ia tersenyum kecil. Ada sesuatu yang aneh tapi tulus dari caranya meminta maaf. "Tak apa," jawabnya sambil menunduk ikut membantu. Lalu entah kenapa, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya:
"Kadang kita memang harus menabrak sesuatu dulu, supaya sadar ke mana kita sebenarnya mau pergi."
Ia sendiri tidak tahu kenapa mengucapkannya - mungkin karena selama ini ia pun sering merasa tersesat di tengah hiruk pikuk kampus. Tapi saat melihat orang itu menatapnya, diam sejenak lalu tersenyum kecil, ada rasa hangat yang muncul.
Beberapa detik terasa lebih lama dari biasanya. Suara angin sore, gemerisik daun, dan langkah orang-orang di kejauhan seolah menyingkir, menyisakan ruang kecil di antara mereka berdua.
Ia merapikan buku-bukunya, lalu berdiri.
"Makasih, ya," katanya.
Orang itu hanya mengangguk pelan - tapi senyumnya, sederhana dan tulus, terasa seperti jawaban yang cukup untuk sore itu.
Dan saat ia berjalan pergi, ia sadar: tabrakan kecil tadi bukan sekadar ketidaksengajaan.
Mungkin, di tengah kesibukan kampus dan tekanan tugas yang tak ada habisnya, itu adalah cara semesta mengingatkan - bahwa setiap pertemuan punya makna, bahkan yang dimulai dengan sebuah "brukk".
Baru beberapa langkah meninggalkan tempat kejadian "tabrakan takdir" itu, masih sempat menatap punggung orang tadi yang perlahan menghilang di antara pepohonan kampus.
Masih hangat suasananya, masih terngiang kalimat bijak yang entah kenapa terasa keren banget. Ia sampai sempat berpikir, "wah, aku bisa juga ngomong kayak di film-film.
Tapi keindahan momen itu cuma bertahan... sekitar tiga detik.
"Eh..." Ia berhenti mendadak.
Matanya membulat.
Kerja sambilan!
Pekerjaan di kafe kampus! Ia melirik jam tangan.
16:45.
Masuk jam 17:00.
Dan jaraknya? Lima gedung, dua tanjakan, dan satu jalan penuh mahasiswa nongkrong!
"Waduh!" serunya spontan, membuat dua mahasiswa yang lewat melirik.
Tanpa pikir panjang, ia langsung lari - sambil masih menenteng buku-buku tebal dari perpustakaan.
Setiap langkah berbunyi duk-duk-duk, napas mulai ngos-ngosan, rambut berantakan, dan satu kertas tugas sempat terbang ke belakang.
"Terserah deh! Yang penting nyampe!"
Di tengah perjalanan, ia hampir menabrak lagi seseorang yang keluar dari gedung ekonomi.
"MAAF! GAK SENGAJA!" teriaknya sambil terus berlari.
Orang itu melongo, lalu teriak balik, "Lain kali liat jalan, bro!"
Ia hanya mengangkat tangan tanpa menoleh.
Dalam kepalanya cuma satu pikiran:
Kalau aku telat lagi, disuruh cuci piring dua jam!
Begitu sampai di depan kafe, ia langsung masuk dengan napas terengah.
Manajernya menatap tajam dari balik kasir.
"Lagi-lagi hampir telat, ya?"
Ia berusaha tersenyum meski keringatnya menetes.
"S-sedikit... gangguan di jalan, Kak. Tabrakan kecil... tapi berkesan."
Manajernya mengangkat alis. "Tabrakan?"
Ia hanya mengangguk pelan sambil menatap jauh ke arah jendela.
Senyumnya muncul lagi.
"Ya, bisa dibilang... inspiratif."
Manajernya geleng-geleng.
"Udah, cepet pake celemek. Orderan meja 7 udah nunggu, matcha latte oatmilk less sugar - cepet sebelum pelanggan jadi pahit duluan!"
Ia langsung tegak, ngacungin jempol.
"Siap, Kak! Manisnya cukup di hidup, bukan di minuman!"
Manajernya mendengus. "Aduh, kamu tuh ya... stand up comedy mulu, kerja kagak jalan."
Ia nyengir, lalu lari ke dapur sambil ngiket celemek setengah berantakan.
Sambil ngocok shaker, ia masih senyum-senyum sendiri.
Karena di tengah kekonyolan hidup kampus dan pekerjaan sambilan yang bikin ngos-ngosan...
setidaknya hari itu, ia pernah jadi tokoh bijak berdialog di bawah senja.
maaf kalau ngga sebagus orang orang
kalau ada salah kata koreksi aja.
wajar, pemula soalnya👌
jangan lupa buat vote dan komennya😋🤭
YOU ARE READING
Jalan pulang
Teen Fictionsetiap manusia itu hanya dapat mengingat, bukan melupakan.
