Cahaya silau dari teknologi canggih itu menerangi wajah seorang lelaki di tengah tengah ruangan gelap dan sepi.
Jari jemarinya terus bergerak diatas keyboard, menciptakan kalimat demi kalimat, tubuh yang sudah lelah dan ingin istirahat terus ia dorong agar tetap terjaga dengan segelas kopi hitam yang sudah dingin, sesekali berhenti untuk beristirahat sejenak dan memijat pelipis yang terasa berat.
Namun meski sudah seperti itu, ia terus mendorong diri untuk menyelesaikan pekerjaan pekerjaan yang tak kunjung selesai itu.
Jam di dinding terus berdetak, dan bergerak, malam semakin larut dan aktifitas di kota mulai mereda, para penjual yang mulai menutup toko mereka, para pejalan kaki yang berangsur angsur berkurang, dan hanya ada satu atau dua mobil yang lewat di jalanan.
Lelaki itu akhirnya menghela nafas panjang ketika tugas terakhir sudah ia selesaikan, ia segera meregangkan otot-otot yang tegang dan kaku, melirik jam melihat waktu sekarang.
Jarum sudah menunjukkan jam satu malam, dan akhirnya lelaki itu membereskan barang barangnya, lalu pulang, berjalan di lorong kantor yang sudah sepi dan gelap, ia menuruni tangga dan berjalan keluar gedung kantor.
Berjalan kaki diatas trotoar dengan langkah lesu dan gontai menuju apartemennya, ia tak perlu buru buru pulang, lagipula tidak ada yang akan menunggu nya dirumah.
Dalam perjalanan pulang, langkahnya berbelok memasuki sebuah konbini yang memang buka 24 jam di pinggir trotoar jalan, mendorong pintu kaca itu dan disambut sang pelayan yang sedang bekerja di sift kala itu di belakang kasir.
Ia mengambil keranjang, berjalan ke rak rak, lalu mengambil makanan instan, soda dan bir kalengan, dan beberapa bungkus keripik pedas.
Kini ia kembali ke kasir dan meletakkan keranjang belanjaan nya di konter kasir. Sang kasir meng-scan belanjaan lelaki itu, memasukkannya ke kantung plastik, dan menghitung jumlah nya.
"Total nya 2.800 Won Apakah ada hal lain yang anda inginkan, Tuan?"
Lelaki itu berpikir sejenak, dan melihat rak rak berisi berbagai macam rokok yang berjejer di belakang sang kasir, "ah... Iya, tolong tiga bungkus rokok ***"
Kasir itu mengangguk, ia membalikkan badannya untuk mengambilkan tiga bungkus rokok yang di inginkan sang lelaki di hadapannya, menambahkan nya ke kantung plastik dan menambah harga belanjaan.
"Baiklah, semua totalnya jadi 8.000 Won Tuan"
Lelaki itu mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan kartu kreditnya, menggesek kartu nya dan memasukkan nomor pin rekening nya.
Setelah pembayaran terkonfirmasi, pelayan itu mengembalikan kartu kredit sang pelanggan dan menyerahkan kantung plastik belanjaan nya, dan membungkuk, "terimakasih sudah berbelanja, semoga hari anda menyenangkan, silahkan datang lagi!"
Lelaki itu tak menjawab hanya mengangguk singkat, dan mengambil kantung plastik itu beserta kartu kreditnya, memasukkan kartu kredit nya kembali ke dompetnya dan berjalan keluar dar konbini itu, berjalan santai di trotoar yang sepi dengan sebatang rokok di mulutnya.
Langkahnya berbelok di zebra cross dan menyebrang jalan, jalanan sepi kala itu membuat pikirannya merasa tenang dan rileks sejenak.
Namun secara tiba tiba, ditengah tengah langkah nya...
TIN!
TIN!
TIN!
'Damn....'
Anggota tubuh yang berfungsi untuk berjalan itu seketika kaku dan tidak bisa di gerakkan, mata lelah dengan kantung mata yang tebal itu menatap ke lampu terang yang menyilaukan, telinganya berdengung karena suara klakson yang kencang, nampak tak bisa berhenti- ah... Rem blong....
Ckiiiitttt!
Braaakk!!!
Tubuh itu akhirnya tertabrak dengan keras, terlempar beberapa meter dari tempat ia berdiri, kantung belanjaannya terlempar dan isinya berserakan ke jalanan, tubuh nya terbaring lemah menghadap langit malam.
Ditaburi bintang dengan sang rembulan ditengah tengah mereka bagai sesosok pemimpin diantara rakyatnya yang kecil.
Warna merah pekat yang berbau anyir perlahan menggenang di sekitar tubuh yang terbaring lemah itu, matanya terasa semakin berat dan seluruh tubuhnya terasa sakit dan berdenyut, nafasnya sesak dan dadanya terasa seperti di tusuk ribuan jarum.
Perlahan namun pasti kelopak mata itu perlahan menutup, suara keributan disekitar nya menjadi samar dan berdengung saat kesadarannya perlahan hilang dan seluruhnya menjadi gelap.
Ia lagi bisa merasakan tubuhnya, dan dengan kesadaran yang jelas ia tau bahwa hidupnya telah berakhir.
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
{#&*)?/+&-°^π\∆©£";:-#$+"!'($#}
"Bangun... Wahai manusia terpilih...."
"The fuck you mean...?"
Continued.
YOU ARE READING
Ability Or Intelegent?
RandomDunia dimana kamu hanya bisa memilih satu pilihan, tidak lebih dan tentu juga tidak bisa diganti setelah pilihan itu di buat "kuberi kamu dua pilihan, cerdas namun tanpa kemampuan bertarung sama sekali, atau kuat dan pandai bertarung namun tanpa kec...
