Tiap hubungan pasti punya tempat favorit. Bukan cuma tempat kencan, tapi tempat yang jadi markas buat janji-janji bodoh tentang masa depan. Buat Gue dan Rani, tempat itu kedai kopi di pojok kampus.
Warna kedainya kuning muda, persis warna suasana hati Gue dulu. Dindingnya penuh grafiti yang nggak penting, dan mejanya selalu lengket. Tapi kami suka di sana, karena bagi Rani tempat itu adalah jeda.
Dia akan datang, meletakkan ranselnya yang berat, dan membiarkan dirinya diam selama dua jam. Dia akan minum kopinya, dengerin Gue cerita tugas DKV yang ruwet, dan dia akan ketawa. Di dua jam itu, dia nggak akan sibuk email networking, dan nggak akan ngomongin beasiswa S2.
Dua jam. Itu jatah buat gue. Jatah buat "kami".
Gue, Sean, dulu naif. Gue mikir, dua jam itu adalah komitmen yang nggak bisa diganggu gugat. Gue mikir, tawa yang dia kasih adalah janji bahwa gue penting. Gue bahkan pernah bilang, "Kita akan selalu punya tempat ini ya, Ran. Di mana pun kita kerja nanti."
Dia cuman senyum, nyender di bahu gue, dan bilang, "Pasti, Sea. Kamu istirahat terbaikku."
Gue ingat banget hari terakhir kami ke sana. Tiga hari setelah wisuda. Dia udah packing buat ke luar negeri. Dia nggak terlihat sedih. Matanya berbinar, bukan karena Gue, tapi karena cita-cita yang menunggu.
Gue cuman minum kopi gue yang dingin. Tiba-tiba, kedai yang dulunya hangat itu terasa asing.
Saat dia pamit, dia nggak ngomong 'Sampai jumpa' dan 'I love you'. Dia cuma bilang, "Makasih ya, Sean. Coffe breaks-nya seru."
Baru setelah dia pergi, gue benar-benar ngerti. Ternyata, selama ini, hubungan kami bukan tujuan. Kami cuma istirahat. Sebuah jeda manis yang dia ambil di tengah kejar-kejaran ambisinya. Begitu dia recharge, dia pergi lagi.
Jadi, ya udah. Maybe it was just coffe breaks.
"Kopi paling pahit itu bukan yang espresso tanpa gula. Tapi kopi yang lo minum pas lo sadar, lo bukan pacar, tapi cuman jeda iklan di hidup dia" -Adyava Sean Biantara.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Maybe It Was Just Coffe Breaks
RomanceTernyata Janji itu Nggak Ada Kontraknya Sean (26) cuma butuh Rani (25) untuk tetap jadi pacarnya. Bukan partner pitching investor, bukan rekan networking CEO, dan bukan saingan buat beasiswa S2. Sean tahu, di tengah ambisi Rani yang sedang merok...
