"Kau puas sekarang, Kak? Kita kehilangan kekaisaran, juga takhta yang selama ini selalu kau agungkan. Dan kau... masih percaya pada wanita yang menulis kebinasaan kita dengan tinta manis?"
••••
"Tepat sebelum semuanya dimulai. Aku sendiri yang akan...
"Yang Mulia... ulangi lagi, dan ubahlah jalan takdir yang menjerat anda, sang garis takdir."
⌛
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Langit Ordelion terbakar merah. Gema perang mengguncang jauh di luar dinding istana—suara sihir, baja, dan jerit pasukan berpadu menjadi satu simfoni kehancuran. Di dalam ruang tahta, keheningan terasa lebih memekakkan. Debu berjatuhan dari langit-langit, sementara obor di pilar-pilar batu menari, seolah enggan padam.
Di tengahnya, dua sosok berdiri berhadapan. Sang Putra Mahkota, Alaric Ardelion, masih menggenggam pedang yang bergetar di tangannya. Sementara di hadapannya, Adrick Lysander Ardelion, adiknya sendiri, sang pangeran ketiga kekaisaran Ardelion, berlutut dengan nafas yang berat, jubah biru yang bersulam elang emas itu lusuh, seolah waktu di sekitarnya ikut melambat untuk menyaksikan tragedi itu.
“Kau tahu?” suara Alaric nyaris berbisik, “aku tak ingin begini.”
Adrick mengangkat kepalanya perlahan. Mata kelamnya menatap kakaknya yang memegang pedang berlumuran darah.
“Tapi kau tetap melakukannya,” balas Adrick lirih.
Adrick tersenyum getir kala mendengar jawaban dari Putra Mahkota. Tubuhnya ia paksa berdiri tegap walaupun darah masih merembes dari dadanya. "Tidak... kau tidak menjaganya untuk baginda, Kak—uhuk!"
“Ini semua... untuk dia.”
Kata itu menggantung di udara, berat, dan beracun—nama yang tak disebut, tapi semua orang di kerajaan tahu siapa yang dimaksud: Sang Ratu—Cerline Arthelia La De Ardelion—ibu tiri mereka, yang memecah belah darah Ardelion dengan lidah sihir dan tipu daya.