JungPha - 💋💋💋

2.2K 28 0
                                        

SOFT KISS

Lampu-lampu panggung music show masih menyala, tapi di balik pintu bertuliskan "Staff Only", ketegangan yang berbeda tengah memuncak. Pharita, si centil Thailand dengan aura seksi yang alami, menyelinap masuk ke toilet unisex yang sepi, jantungnya berdebar kencang. Ia hanya mengenakan cropped top dan celana cargo hitam, siluetnya yang ramping tampak mempesona di bawah cahaya remang-remang.

Tak lama, Junghwan datang dengan postur tegapnya, menyusul. Ia mengunci pintu dengan bunyi 'klik' yang memekakkan. Udara seketika terasa tipis.

"Lama Sekali," desis Pharita, suaranya serak menahan geliat rindu. Ia menyandarkan punggung ke pintu, menatap Junghwan dengan mata yang penuh godaan. "Aku cuma punya waktu tiga menit sebelum Rora curiga."

Junghwan melangkah maju. Setiap langkahnya memancarkan otoritas yang menawan. Ia menjebak Pharita di antara tubuhnya dan pintu. Jarak mereka nol. Pharita mendongak, merasakan panas tubuh Junghwan menyelimutinya.

"Tiga menit sudah lebih dari cukup untuk menebus rindu satu minggu ini, Pha," balas Junghwan, suaranya dalam dan bergetar, tepat di atas telinga Pharita. Ia menggunakan panggilan sayang favoritnya dan Pharita langsung merinding.

"Oh ya? Buktikan, My Super Baby." Pharita menantang, tangan lentiknya terangkat dan menyentuh rahang Junghwan yang tegas. Jari-jarinya mengelus kulit Junghwan, sebuah sentuhan seduktif yang hanya ia yang berani lakukan.

Junghwan tak butuh perintah kedua. Matanya menggelap dengan hasrat yang mendominasi. Ia menundukkan kepala, membiarkan napas panasnya beradu dengan napas Pharita. Bukan ciuman terburu-buru, melainkan penyatuan yang lama ditunggu.

Bibir mereka bertemu dalam kehangatan yang mendalam, bukan tergesa-gesa, melainkan penuh penekanan. Junghwan menciumnya dengan kepemilikan, seolah menegaskan bahwa Pharita adalah miliknya, sebuah pengakuan tanpa kata yang selalu Pharita sukai. Pharita membalas dengan intensitas yang sama, tangannya melingkari leher Junghwan, menariknya lebih dekat, memperdalam ciuman itu dengan desahan lembut yang teredam.

Rasa rindu yang terpendam di tengah jadwal padat mencair dalam kehangatan ini. Ketika mereka terpisah, Junghwan menyatukan dahi mereka, napasnya tersengal.
"Aku harus kembali. Tunggu aku setelah konser."
Pharita hanya mengangguk, bibirnya bengkak dan merah, matanya berkilat penuh janji.

BIG HUG BIG KISS

Backstage yang ramai. Bau keringat dan parfum bercampur dengan kegembiraan. BLACKPINK baru saja menyelesaikan konser "Deadline" mereka. Junghwan dan Pharita, sebagai junior, ada di sana untuk memberi selamat.

Junghwan menunggunya di sudut yang agak tersembunyi dekat ruang make-up, di balik tumpukan kotak peralatan. Pharita, mengenakan gaun mini hitam yang elegan, berjalan menghampirinya, langkahnya bagai melayang.
"Selamat malam sunbae-nim," ujar Pharita dengan senyum manis kepada Junghwan,

Junghwan balas tersenyum, lalu meraih lengannya dan menariknya tiba-tiba ke dalam ceruk di balik kain penutup.
"Hei!" protes Pharita lirih, tertawa malu.
"Aku ingin kau," bisik Junghwan, suaranya serak menahan gejolak emosi. Ia tidak mengatakan 'Aku merindukanmu', kata-katanya lebih lugas dan dominan. Ia memeluk Pharita dengan erat, membiarkan Pharita merasakan kekuatan lengannya yang kekar.

Pelukan itu adalah tempat paling aman dan paling berbahaya bagi Pharita. Pharita balas memeluk, melingkarkan lengannya di pinggang Junghwan. Wajahnya disembunyikan di dada Junghwan. "Aku tahu. Aku juga."

Junghwan melepaskan pelukan sedikit, hanya untuk menangkup wajah Pharita. Ibu jarinya mengelus pipi mulus Pharita. Matanya menatap Pharita dengan tatapan yang membakar.
"Cantik sekali. Gaun ini... kau ingin aku gila?" tanyanya, suaranya bergetar karena emosi.
Pharita tertawa centil, "Gila karena apa, Hwan? Aku hanya memakai pakaian yang lucu."
"Lucu, tapi menggoda," koreksi Junghwan. Ia menunduk dan mengecup lembut bibir Pharita, sebuah kecupan yang penuh kasih sayang namun juga janji akan lebih dari itu. Hanya kecupan, tetapi cukup membuat Pharita merasa kakinya lemas.
"Kita bertemu di Tokyo. Aku sudah mengatur semuanya," Junghwan berbisik ke telinga Pharita, nadanya final, tidak bisa dibantah.
Pharita mendongak, matanya bersinar, "Tentu. Aku akan menjadi milikmu sepenuhnya malam itu."

OUR DESIRE - RANDOM STORY  🔞 Stories to obsess over. Discover now