059

480 46 0
                                        

Hari itu rumah terasa terlalu sunyi untuk ukuran sore hari. Tidak ada denting sendok dari dapur, tidak ada suara langkah kaki yang biasa terdengar dari lantai atas—hanya suara samar film yang diputar dari ruang belajar Michael. Isabella sengaja datang lebih awal hari itu, membawa proyektor kecil dan laptopnya. Ia berkata ingin mencoba metode belajar berbasis audiovisual agar Michael lebih tertarik pada pelajaran. Alex menyetujui tanpa banyak pikir, merasa bersyukur karena tutor barunya tampak berinisiatif. Ia tidak tahu bahwa sejak awal, setiap langkah Isabella sudah diatur dengan tujuan lain.

Di ruang belajar, Michael duduk di kursi yang terlalu besar untuk tubuhnya. Cahaya dari layar menimpa wajahnya yang pucat, memantulkan warna oranye—nyala api dari film dokumenter yang diputar Isabella. Semula ia tampak tenang, menatap layar tanpa ekspresi. Tapi semakin lama film itu berjalan, semakin jelas perubahan yang terjadi. Suara letupan kecil dari speaker—simulasi api yang berkobar, orang berteriak, dinding runtuh—membuat Michael menegang.

Isabella melihat reaksi itu sekilas, lalu menunduk pura-pura tak menyadari. Ia lanjut berbicara, tapi kali ini dengan nada yang sedikit lebih pelan. “Lucu, ya. Kadang anak-anak tidak tahu bahwa mainannya terbakar… sampai semuanya sudah terlambat,” ucapnya lembut, menatap wajah Michael dengan mata yang berkilat samar. Michael berhenti menulis. Ia menggigit bibirnya, jemarinya mengepal. “Kau… tahu rasanya kehilangan sesuatu karena api, Michael?” tanya Isabella, seperti menyinggung hal biasa.

Michael mendongak cepat. Ada kilatan di matanya—campuran kaget, takut, dan bingung. Ia tidak langsung menjawab. Isabella menatapnya lebih lama, lalu dengan nada yang sangat hati-hati, melanjutkan, “Atau mungkin bukan sesuatu… tapi seseorang?”

Michael menunduk tajam, napasnya terpecah. Pandangannya bergetar. Dalam hitungan detik, pikirannya tak lagi berada di ruangan itu.

Yang ia dengar bukan lagi suara Isabella, melainkan suara kaca pecah, lalu jeritan samar—dan nyala api yang menjilat di sekeliling. Bau asap yang dulu begitu pekat seolah kembali menempel di kulitnya. Ia melihat lantai hitam, melihat bayangan tubuh anak-anak lain berlari, menangis, lalu hilang ditelan kobaran. Ia ingat suara langkah kaki penjaga panti, pintu yang terkunci, dan seseorang berteriak dari dalam kamar mandi. Lalu semuanya berputar cepat, bercampur suara tawa—suara tawa yang sangat lembut tapi menusuk, entah dari mana.

Michael tiba-tiba berdiri, tubuhnya berguncang hebat. Kursi yang ia duduki terjatuh keras ke lantai. Tangannya gemetar, matanya liar, seperti mencari jalan keluar tapi tidak tahu ke mana. Napasnya tersengal-sengal, seolah paru-parunya menolak udara. Ia memegang sisi kepalanya dan mundur, menabrak rak buku di belakangnya.

Isabella tidak langsung menolong. Ia memperhatikan setiap gerakan, setiap tarikan napas, seperti sedang mengamati eksperimen yang berhasil. Baru setelah itu ia melangkah maju, wajahnya berubah menjadi topeng kepedulian.
“Michael, hei… tidak apa-apa,” bisiknya lembut. “Tenanglah, kau aman di sini.”

Ia jongkok perlahan di hadapan Michael. Suaranya lembut, tapi nadanya bergeser setipis pisau.
“Ayahmu tidak akan suka melihatmu begini, kan? Kau tidak ingin terlihat lemah.”
Michael menatapnya tajam, tapi bibirnya tak bisa membentuk kata.
“Lagipula…” lanjut Isabella, “apa kau yakin dia benar-benar ingin kau di sini? Dia bahkan tidak datang ketika kau seperti ini.”

Michael membeku. Pandangannya kabur, tubuhnya lemah. Kalimat itu seperti pisau yang menembus dinding rapuh yang baru saja ia bangun. Ia ingin membantah, tapi suaranya tidak keluar. Isabella menatap reaksinya dengan sangat tenang, lalu menyentuh bahunya pelan. “Kadang… yang paling kau harapkan untuk menolongmu, justru yang paling cepat menyerah, Michael.”

Michael mundur lagi, tak tahan mendengar suara itu. Napasnya kembali kacau, dadanya naik-turun cepat, dan ia akhirnya berlutut sambil menutup telinganya.

WitherWhere stories live. Discover now