Prolog

1.5K 85 0
                                        



Cahaya di Tengah Langit Wu 

Selama tiga dekade lamanya, Kekaisaran Wu berdiri tegak di antara pegunungan utara dan lembah selatan, kuat seperti baja, tenang seperti salju. Di bawah pemerintahan Kaisar Wu Xianrong, negeri itu mencapai puncak kejayaan tanahnya makmur, rakyatnya sejahtera, dan istananya bagaikan cermin langit yang memantulkan kemegahan dunia fana.

Namun di balik segala kemegahan itu, istana Wu menyimpan satu luka yang tak pernah sepenuhnya sembuh: seorang anak yang tak sempat lahir ke dunia. Hari itu, langit Wu berselimut abu. Permaisuri Xu Qinghe, yang dikenal rakyat sebagai "Teratai yang Berdoa di Bawah Cahaya," menangis dalam diam di dalam istana belakang. Sejak saat itu, suara tawa menghilang dari kediaman kekaisaran.

Tujuh tahun lamanya, musim berganti tanpa kabar bahagia. Ibu kota berjalan dalam kesunyian yang sopan; rakyat berdoa, tabib berpasrah, dan kaisar sendiri hanya menatap langit malam yang kian gelap.

Hingga pada suatu malam di awal musim dingin, bintang jatuh melintasi langit utara.
Para peramal istana berkata: "Langit mengembalikan apa yang pernah diambilnya."
Tepat sembilan bulan kemudian, lahirlah seorang anak laki-laki dengan mata sejernih embun pagi dan kulit seputih bunga prem yang mekar di tengah salju.

Kaisar menamainya Wu Suo Wei yang menjadi alasan, yang menjadi makna.
Dan sejak hari itu, cahaya kembali ke Kekaisaran Wu.

Di mana dulu istana terasa dingin seperti batu giok di musim salju, kini sinar matahari menembus kembali ke halaman dalam. Kaisar Xianrong, yang dulu keras dan nyaris tak tersenyum, kini sering terlihat menggendong putra bungsunya di taman istana, memandangi ikan-ikan emas di kolam teratai bersama sang permaisuri.

Para pangeran dan putri berkumpul kembali dalam keharmonisan; tawa mereka menggema hingga ke menara pengintai, menghapus bayang-bayang suram yang dulu menggantung di atas tahta.

Kelahiran Wu Suo Wei bukan sekadar karunia bagi keluarga kekaisaran ia menjadi tanda kehidupan baru bagi seluruh negeri.

Di mana ia berjalan, bunga-bunga mekar lebih awal. Di mana ia tersenyum, rakyat bersyukur seolah langit memberi restu.

Orang-orang mulai menyebutnya "Mutiara Terakhir Kekaisaran Wu",
dan bagi Kaisar Xianrong, anak itu bukan hanya darah dan dagingnya melainkan bintang yang dikirim langit untuk menerangi kegelapan hatinya.

Namun langit, seperti biasa, tak pernah memberi tanpa ujian.
Dan di balik cahaya lembut Wu Suo Wei, takdir sudah menulis garis halus di antara cinta, perang, dan pengorbanan yang suatu hari akan menentukan akhir dari Kekaisaran Wu.








Lady Blue mempersembahkan

Sebuah kisah yang lahir dari keheningan, di bawah cahaya bulan istana yang membeku dalam waktu. Tentang kekaisaran yang hampir kehilangan sinarnya hingga langit menurunkan satu bintang di tengah kegelapan.

Visual yang memukau untuk dibayangkan,
kisah yang berdenyut lembut antara cinta dan kehancuran,
dalam nama yang tak akan dilupakan:
Wu Suo Wei, cahaya terakhir Kekaisaran Wu.

The Last Bloom of the Wu EmpireHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora