Thalila, artinya mekar dan tumbuh. Seperti bunga Crocus yang mekar di musim semi, ibu Thalia menemai sang putri sulung sesuai dengan bunga kesukaannya.
Alila, begitu dia dipanggil. Namanya yang indah, pun dengan alasan di balik penamaannya yang senada, namun pada dasarnya Alila tidak begitu menyukai kehidupannya yang jika dilihat dari makna namanya, sungguh sangat tidak sesuai dan penuh dusta.
Cuaca hari ini terlihat murung. Meski langit belum resmi menangis, Alila tahu jika hari ini akan sangat basah, hari ini semuanya pasti akan berkaitan dengan air dan air. Tepat sebelum bus kota yang beroperasi menuju sekolahnya berhenti, gadis itu mengeratkan kardigan kelabunya yang ia pakai. Angin segar pagi menyapa hidungnya dan Alila sontak memejamkan mata.
...
Sekolah bukan tempat yang menyenangkan.
Namun sekolah baru yang Alila pilih saat ini, jauh lebih bisa membuatnya merasa tenang. Alila memperbaiki posisi masker yang ia pakai untuk menutupi hampir seluruh bagian wajahnya. Rambutnya yang tergerai namun tampak kusut sebenarnya akan membuat siapa saja merasa tidak tergugah ketika melihat penampilannya, namun Alila tidak peduli. Gadis itu mulai membuka buku catatan, dan mulai menulis beberapa poin penting juga mengingat ulang materi yang harus menempel sempurna di otaknya. Alila jadi mengingat momen sang ibu yang menggoreng bawang bombai berbalur tepung renyah. "Jika ingin tepung renyahnya menempel semua, pastikan kau membuat bawangnya terbalur dengan sesuatu yang basah."
Alila tersenyum kecil di balik maskernya. Mungkin sekarang ia tampak seperti sedang membalur otaknya secara istilah dengan sesuatu yang basah agar tepung yang dalam kasus ini bernama pelajaran bisa menempel sempurna.
"Eugh, gadis aneh ini lagi."
"Hei, kau tidak tahu mandi, ya?"
"Gadis pincang aneh, jelek, busuk, pergi mati saja sana. Merusak mataku saja."
Alila masih menghapal pasal sejarah yang rumit. Ia harus menghapal bagian itu dengan perjuangan dua kali lebih besar karena peristiwa dan angka tahunnya yang terasa biasa saja.
Splash!
Alila bergeming. Pun tidak bergerak sedikit pun ketika kotak jus apel menghantam kepalanya yang sontak membuat seluruh jus apel yang ada di dalam kemasan kini membasahi seluruh bagian atas tubuhnya. Tangannya bergerak cepat, menutup segera buku catatannya yang selamat tak terciprat, dan buku cetak yang sayangnya sedikit mendapatkan cipratan jus apel.
"Nah, biar kau harum apel seharian. Kau benar-benar membuatku jijik." Namanya Sora. Kakinya yang ramping indah dengan rambut bergelombang hitam selalu berhasil membuat satu sekolah menyoraki kehadirannya. Meski ia melakukan sesuatu yang kejam sekalipun, ia tetap lebih berhak mendapatkan tepuk tangan alih-alih hukuman. Bukan hal baru yang perlu dibahas. Di mana-mana, kecantikan akan selalu menimbulkan ketidak adilan.
Alila lantas membuka masker yang menutupi wajahnya karena rasa lengket jus apel mulai mengganggu. Secepat angin pagi segar yang ia hirup tadi pagi, Alila tahu-tahu menerima sebuah pukulan keras yang mendarat sempurna tepat di tengah-tengah wajahnya yang kini telanjang.
"Mukamu sangat membuatku muak! Eugh!" Itu bukan Sora. Kali ini namanya Kila, gadis itu juga bukan sesuatu yang perlu dibahas lebih lanjut. Ia hanya seorang cunguk dari sosok Sora yang sama cantiknya. Hampir.
Alila dapat merasakan perih dan panas yang menjalar di bagian wajahnya. Gadis itu menghela napas tanpa ada niatan ingin melayangkan protes. Bahkan untuk mengaduh dengan suara kecil pun ia tak ada niat. Salah satu alasan mengapa Alila memilih menggunakan masker adalah terletak di bagian ini. Di mana ia tidak terlalu senang ketika wajahnya yang dipastikan akan membuat semua orang merasa jengah, jadi terasa perih dan panas ketika diserang.
"Hampir saja lepas." Alila segera menutup mulutnya ketika ia bergumam dengan tanpa sadar. Namun untungnya, bel tanda masuk kelas segera berbunyi nyaring dan kelas pun tak lama segera dimulai. Dengan wajah Sora dan Kila yang mendelik, Alila segera memalingkan wajahnya dan segera menunduk dalam demi menghindar. Gadis itu kembali menaikkan masker wajahnya yang sudah lengket dengan aroma manis yang menyengat.
...
Roti isi krim melon. Alila akan menjawab dengan sangat lantang jika ditanya perihal makanan apa yang dapat membuatnya bahagia.
Kehadiran makanan itu di kantin sekolah, mungkin jadi salah satu hal yang Alila suka dari sekolah barunya. Ia tak dapat menemukan makanan itu di sekolah lamanya. Pun memakannya dengan tenang juga tak akan bisa.
Alila mempercepat langkah melewati koridor yang terasa sepi karena waktu jam makan siang sedang berlangsung. Betis di balik celana panjang kedodorannya tiba-tiba terasa perih yang otomatis membuatnya sadar untuk segera memelankan langkahnya agar tidak terlalu terasa nyeri ketika berjalan. Dengan dua bungkus roti kesukaannya, Alila berjalan pincang menuju salah satu toilet sekolah yang terletak di belakang aula.
Debu yang terbang di udara tidak terlalu terlihat mencolok karena sinar matahari hari ini yang tidak menyengat. Alila membuka pintu toilet tak terpakai yang berderit karena engselnya yang sudah semakin berkarat. Langit belum juga hujan, namun langit masa saja kelabu. Alila tidak mengerti kapan tepatnya hujan akan turun.
Membawa kakinya yang pincang, Alila berjalan lebih masuk setelah memastikan pintu depan toilet sudah tertutup sempurna tanpa ada yang melihat dirinya.
Lumayan bersih. Alila tidak merasa toilet terbengkalai ini serupa dengan sarang hantu. Mungkin memang tidak bersih berkilau seperti toilet yang ada di gedung utama tapi setidaknya tidak semengerikan tampilan toilet yang ada di film-film horor. Alila akui ia cukup rutin membersihkan toilet terlupakan ini agar bisa ia tempati dengan nyaman setiap jam makan siang. Sekedar cukup bersih untuk dipandang namun tidak benar-benar berkilau yang akan mengundang kecurigaan.
Dengan gesit, ia pun memukul saklar lampu dan toilet yang diisukan berhantu itu tampak semakin normal. Alila berjalan melewati kaca besar yang buram karena debu yang menempel. Di hadapan cermin buram toilet, Alila segera membuka masker wajahnya dan mulai menghirup udara dalam-dalam; itu adalah tempat teraman bagi Alila untuk membuka maskernya tanpa perlu merasakan perasaan was-was sedikit pun. Gadis itu segera membuka kran air dan aroma kuat besi mulai menguar. Alila membiarkan airnya mengalir untuk beberapa saat, lalu ketika aromanya sudah dirasa normal, ia mulai membasuh seluruh wajahnya yang kini sudah tak tertutupi oleh apa pun.
Alila memandangi wajahnya yang basah di hadapan cermin. Si buruk rupa, dengan wajah memuakkan. Itu sesuai. Tampilan Alila dengan giginya yang maju, dan bintik-bintik mencolok yang menyebar di seluruh wajahnya dengan sebuah tanda lahir bewarna gelap di dagunya yang mencolok. Alila menghela napas. Ia kembali membasuh rambut kusutnya yang menempel akibat jus apel dari tadi pagi. Setelah dirasa cukup, ia lalu mulai beranjak dari hadapan cermin besar dan mulai membuka bungkus roti melon.
"Klub Puisi? Kau tidak sedang bercanda 'kan?"
"Ada masalah?"
"Wow. Aku... aku hanya... kau tidak terlihat seperti seseorang yang...."
"Yang menyukai puisi?"
"Hahaha. Jangan tersinggung, tapi iya. Ngomong-ngomong bagaimana dengan rencana makan malam kita?"
"Entahlah. Bagaimana jika kau saja yang mengurusnya?"
"Aww! Baiklah! Serahkan padaku. Akan aku pastikan kita akan melewati makan malam yang tak akan terlupakan."
Alila membeku di atas pijakannya dan memilih menguping segala percakapan yang ia dengar secara tidak sengaja dari balik pintu toilet. Ia bukannya sangat peduli namun ia tahu benar jenis suara yang keluar dari seorang gadis di luar itu kentara sekali sedang menggoda seorang laki-laki. Nadanya yang mengalun manja di akhir setiap kata yang ia ucapkan, Alila tahu benar jika salah satu orang di luar sana adalah Sora.
"Jadi... ada apa lagi?"
"Eum, sepertinya kita butuh sesuatu... yang lebih intim?"
Alila gelagapan. Ia segera membawa dirinya masuk ke dalam salah satu bilik toilet dengan gerakan cepat. Tangannya yang sibuk membenahi rambutnya yang berantakan, dan bawaannya yang lumayan banyak membuatnya kesusahan masuk ke dalam bilik dengan gerakan mulus.
"Oh tidak, rotiku." Alila menolehkan kepalanya ke arah kanan dan kiri denga gerakan kikuk. Setelah merasa aman, ia segera berlari keluar bilik untuk menghadap kembali kaca besar buram. Di dekat kran, roti melonnya teronggok. Alila segera membuat pendengarannya hening sesaat dengan segera bergerak cepat menyambar roti kesukaannya. Ia membenci suara kecupan yang sepertinya segera akan terdengar liar dan jelas dari balik pintu toilet.
Roti melon sudah terselamatkan. Alila segera menurunkan tutup kloset dan duduk di sana sembari menutup telinganya rapat-rapat.
Hening selama lima menit. Alila memberanikan dirinya dan mulai menurunkan tangan dari telinga. Tetap hening. Tidak ada apa-apa, tidak ada suara yang membuatnya terganggu.
Alila memandangi sela dari bawah bilik pintu. Tatapanya nanar. Lalu ia terkekeh pelan dengan tatapan kosong. "Sialan. Pintu yang bolong seperti ini mana bisa menghalau suara." Ia menyadari kebodohannya. Ia panik dan langsung melakukan aksi yang sungguh bodoh. Alila lalu mulai menurunkan kedua kakinya yang selama ini ia tekuk. Setelah merasa lega, ia mulai menggapai roti yang sangat ia cintai. Satu senti sebelum roti lembut itu menyapa lidahnya, Alila hampir tersedak ketika suara pintu depan toilet terdengar; suara besi berkarat yang sangat kentara.
Gadis itu sontak menutup rapat-rapat mulutnya. Berusaha tidak akan membuat suara apa pun namun jantungnya bertalu sangat kencang di dalam sana. Ia segera menaikkan kembali kedua kakinya ke atas kloset dengan gerakan sangat pelan dan penuh waspada. Dalam diam, Alila bertanya siapa lagi orang yang mengklaim tempat ini sebagai "markas" selain dirinya, dan diam-diam berharap jika yang datang barusan sebaiknya adalah hantu saja alih-alih manusia.
"Ehem."
Alila terkesiap. Tidak ada hantu yang berdeham. Kabar buruknya, suara dehaman itu terdengar berat yang artinya berasal dari seorang laki-laki. Gadis itu sontak memejamkan matanya. Kepalanya berputar-putar dengan mulutnya yang masih ia bekap dengan kencang.
Suara pintu bilik toilet di sisinya terdengar berderit. Alila tersentak sedikit dan menyadari napasnya yang jadi memendek. Alila tak dapat mendengar suara apa pun selain suara lembar kertas yang dibalik dengan cukup keras. Alila mengerutkan dahinya sesaat. Itu bukan suara yang ia bayangkan. Di balik tangannya sendiri, gadis itu tanpa sadar memelas.
Apa dia akan selamat hari ini?
...
Alila membuka mata ketika ia merasakan suatu hembusan yang membuat kulitnya terasa dingin. Rasanya asing dan tak membuatnya nyaman.
Ketika ia tersadar, ia merasakan seluruh tubuhnya kaku dan nyeri. Otaknya yang masih berusaha mengolah informasi menyelipkan tanda tanya besar; berapa lama ia sudah terlelap di dalam posisi tidak nyaman seperti ini? Alila menggeliat dan mengerang ketika ia merasakan pinggulnya terasa sangat nyeri dan pundaknya yang terasa kaku. Ia lalu celingukan dan menyadari masih berada di dalam toilet terbengkalai sekolah. Alila memekik tertahan. Ia melewatkan seluruh sisa mata pelajaran hari ini ketika ia memandang ke arah cahaya matahari yang sudah sangat menguning dari balik jendela ventilasi toilet yang ada di bagian luar bilik.
Roti yang ia idamkan-idamkan tampak kering dan keras karena bungkusnya yang sudah terbuka. Alila mendengus kesal lalu segera berjalan keluar dari bilik dengan kondisi badan yang terasa mengerikan. "Ah-ah... ah!"
"Oh?"
Alila mematung. Ia melebarkan maniknya ketika menyadari bukan hanya dirinya saja yang berada di toilet itu.
"Apa yang kau lakukan di sini juga?" Suara berat milik seseorang bertanya.
Alila diam dan segera memasang masker di wajahnya.
"Dengar, gerbang sekolah sekarang sudah resmi ditutup. Kalau kau mau pulang, kau tidak bisa berjalan melewati gerbang depan begitu saja." Alila tidak berniat berbalik badan dan menggubris ucapan laki-laki asing itu. Dengan tubuh yang terasa mengerikan, Alila segera beranjak pergi dari toilet.
"Dengar, aku tidak ingin bermasalah dengan keamanan sekolah. Kalau ada dua orang siswa yang keluar di jam sekolah yang sudah selesai, mereka pasti akan menginterogasi kita besok." Kalimat itu melayang ketika Alila mulai melewati ambang pintu.
"Bukan urusanku." Alila berkata tajam sembari terus melangkah dengan kaki pincangnya.
Dengan susah payah, Alila menggeret kakinya berjalan di bawah sinar matahari yang hampir lenyap. Ia harus segera pulang. Ibunya akan mengomelinya jika ia tidak segera kembali.
"Bisakah kita bekerja sama? Jalan pelarian saat ini sedang ditutup oleh para guru. Dan hanya ada gerbang utama satu-satunya jalan. Bagaimana jika kita menciptakan skenario?" Alila tidak menggubris lelaki yang saat ini malah mengejar langkahnya yang terlihat sangat menyedihkan.
"Cukup katakan aku menolongmu karena sebuah kecelakaan kecil. Terjebak di kamar mandi misalnya... atau terjatuh parah sampai langkahmu jadi sangat lambat. Itu bisa menjadi alasan yang masuk akal mengapa kita terlambat pulang."
Alila segera mempercepat langkah. Kini ia sudah melewati aula dan tinggal menyusuri gedung utama untuk mengambil barang-barangnya.
"Apa kau tuli? Tidak bisakah berkata sesuatu?" Alila sedikit terkejut bahkan ketika gerbang sekolah sudah menyapa netranya, laki-laki asing ini masih saja mengikuti langkahnya.
"Peduli apa aku." Alila memekik kencang ketika laki-laki yang tak ia kenal itu mulai merangkul pundaknya dan menunjukkan gerakan seakan memapah langkahnya.
"Lepaskan!" Alila memekik kencang. Di balik maskernya, wajahnya memerah dan matanya mulai menciptakan lapisan bening bak kaca.
"Ta-tahan... sebentar... lagi.... Hei! Diamlah sebentar. Oh, kau bisa bicara rupanya."
Pecah sudah tangis Alila. Ia terisak pelan di balik maskernya dengan seluruh tubuh yang bergetar hebat. Kakinya berubah menjadi lemas, dan kini ia benar-benar diseret seperti seonggok mayat.
"Ah, maaf kami terlambat karena temanku ini. Hah! Di-dia terjatuh. Jadi aku harus menyelamatkannya. Lihatlah, sampai separah ini."
Penjaga gerbang tampak memicing dengan raut wajah tak puas. Namun ia segera menahan napas ketika melihat tubuh Alila yang lemas di dalam rangkulan siswa laki-laki yang ia sangat kenal.
"Cepat bawa ke rumah sakit, bodoh! Oh astaga apa yang kau lakukan? Cepat!"
Siswa laki-laki itu lekas menoleh ke arah Alila yang tak bergerak. Dirinya panik. Sepertinya ia tidak meminta gadis ini pura-pura kehilangan kesadaran.
"Hei! Hei! Apa kau baik-baik saja? Hei, kenapa kau pingsan?" Laki-laki itu segera melepas rangkulannya dan menatap Alila dengan wajah panik. Laki-laki itu segera membawa tubuh lemah Alila untuk duduk bersandar di semak yang dirasa cukup kokoh. Gadis itu diam menunduk dengan masker yang masih terpasang sempurna.
"Bisa-bisanya kau tidak sadar dia sampai pingsan seperti ini!"
"Ak-aku... Tadi tidak separah ini!" Siswa laki-laki itu menghadap penjaga gerbang sembari menjambak rambutnya sendiri.
Dari balik maskernya yang naik hampir menutupi matanya, Alila dapat melihat dua orang laki-laki sedang berdebat.
Dengan cepat, Alila segera bangkit dari posisi duduknya dan segera berlari sangat kencang. Meninggalkan dua orang itu dengan wajah tak percaya.
Ia ingin memekik dengan isakan tangis tak tertahan setiap kali tubuhnya yang terasa sangat nyeri menembus angin senja yang terasa janggal. Namun tak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain terus berlari kencang hingga sampai rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Èrintetlen
Fiksi RemajaTak tertebak, dan tak tersentuh. Ketika dua insan berusaha memperjuangkan apa yang mereka inginkan, mereka berujung harus berperang dengan kenyataan-kenyataan yang hadir di lingkungan sekitar. Mereka saling tak menyentuh, namun keinginan mereka leb...
