Lonceng sekolah berbunyi nyaring, menandakan hari pertama masuk di SMA Lentera Buana. Koridor dipenuhi siswa baru dan lama, berceloteh riuh dan saling berkenalan.
Di salah satu sudut koridor, Trilia melangkah malu-malu, memeluk tumpukan bukunya erat. Hari ini adalah hari pertamanya di sekolah baru, dan ia belum mengenal siapa pun. Ia menundukkan kepala hingga
BRUKK!
Bahunya tertabrak seseorang hingga buku-buku di tangannya jatuh berserakan.
Mael (panik)
“Aduh, maaf banget! Aku nggak lihat. Kamu nggak apa-apa?”
Trilia berlutut untuk memungut bukunya, melirik sekilas ke arah cowok di depannya. Wajahnya hangat dan ramah.
Trilia (tersenyum malu)
“Nggak apa-apa, cuma bukunya mau kabur duluan.”
Mael ikut berlutut dan membantu merapikan buku-buku Trilia. Ia membaca sekilas nama di salah satu sampulnya.
Mael (menyerahkan buku)
“Kamu Trilia, ya? Anak baru?”
Trilia (mengangguk)
“Iya. Hari ini hari pertamaku di sini.”
Mael tersenyum lebar.
Mael (mengulurkan tangan)
“Kenalin, aku Mael. Kalau mau tanya soal sekolah ini, jangan sungkan. Aku cukup kenal banyak orang di sini.”
Trilia (menerima uluran tangan mael)
“Makasih banyak, Mael. Salam kenal.”
Mael melambaikan tangan dan beranjak pergi, sedangkan Trilia melangkah menuju ruang kepala sekolah untuk urusan administrasi.
Baru beberapa langkah Mael berjalan menuju kelasnya, ia sudah disambut hangat oleh sahabat-sahabatnya.
Rio (menyenggol bahu Mael)
“Wih, siapa tuh? Anak baru ya?”
Mael melirik mereka sekilas.
“hm, namanya Trilia.”
Andi membetulkan letak kacamatanya.
“Baru dengar namanya. Pindahan, ya?”
Mael (mengangguk)
Dika nyengir nakal.
“Cantik juga tuh. Pantesan si Mael mau bantuin.”
Bayu hanya mengamati dari balik hoodienya, earphone tergantung di lehernya, seolah membaca perasaan Mael lebih dalam.
Rio (tertawa)
“Tuh lihat! Biasanya ketemu cewek, Mael kayak batu. Ini mau bantuin.”
Mael mendengus dan berpura-pura cuek.
Andi dan Dika saling berpandangan, tahu bahwa mereka baru saja melihat sisi lain Mael. Bayu hanya tersenyum tipis dan tetap diam.
Hari pertama sekolah berlanjut.
Trilia melangkah masuk ke kelasnya dan berhenti sejenak di ambang pintu. Ia memandangi seisi ruangan, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Mael sudah duduk di salah satu bangku kosong.
Mael (melambai)
“Hey, Trilia! Sini, duduk di sebelahku!”
Jantung Trilia berdegup lebih cepat. Ia hanya bisa mengangguk dan menuju kursi kosong di samping Mael.
Trilia (meletakkan tasnya)
“Kebetulan banget ya, kita sekelas.”
Mael (tertawa ringan)
“Mungkin ini memang takdirnya begitu.”
Pipi Trilia memerah. Ia buru-buru merapikan buku, sementara Mael hanya memperhatikan dan merasakan sesuatu yang hangat di dalam hatinya.
Pelajaran pun dimulai, dan hari pertama mereka di SMA Lentera Buana terasa begitu hangat dan nyaman. Mael sesekali bercanda pelan, membuat Trilia tertawa kecil hingga ia melupakan bahwa dirinya anak baru di sekolah itu.
Tanpa mereka sadari, hari itu adalah awal dari banyak hari indah yang akan mereka lalui bersama. Dua remaja, satu berwajah polos dan lugu, dan satunya lagi dingin dan sulit disentuh, kini duduk berdampingan seakan dua benang merah yang sudah saling terikat.
Di dalam kepolosan dan keramahan Trilia, tersimpan sebuah rahasia kelam. Dan di balik sikap dingin Mael, tersimpan hati hangat yang belum pernah disentuh siapa pun.
Hari pertama mereka pun berakhir. Dengan senyum hangat dan tawa ringan sepanjang jalan pulang, mereka yakin bahwa hari-hari berikutnya pasti akan lebih indah lagi.
✨ Penjelasan Karakter
🔹 Trilia
Seorang siswi baru di SMA Lentera Buana. Ia polos, lugu, dan ramah, membuat siapa pun cepat akrab dengannya. Namun di balik sifatnya yang hangat dan ceria, ia menyembunyikan rahasia dan luka masa lalu yang belum pernah diungkap kepada siapa pun.
🔹 Mael
Siswa kelas 10-B, berwajah tampan dan berwibawa. Ia dikenal dingin, cuek, dan sulit didekati, bahkan hampir tak pernah akrab dengan teman perempuan selain ibunya. Di dalam hatinya terdapat kebaikan dan kehangatan, tetapi hanya sedikit orang yang cukup sabar untuk melihatnya.
🔹 Rio
Sahabat Mael yang periang dan humoris. Suka bercanda dan membawa tawa di setiap suasana, membuat geng mereka lebih hidup dan ceria.
🔹 Andi
Si “otak” geng, rajin dan pintar di bidang akademik maupun teknologi. Ia sering diandalkan untuk urusan belajar dan tugas.
🔹 Dika
Sosok santai dan supel, jago olahraga dan populer di sekolah. Dika mudah akrab dengan siapa saja dan selalu membawa semangat positif.
🔹 Bayu
Pendiam dan misterius, lebih banyak mengamati daripada berbicara. Ia peka terhadap perasaan teman-temannya dan lebih sering memberikan dukungan dalam diam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diantara Dua Peluru
RomanceKetika darah menghapus kepercayaan, dan cinta berubah menjadi peluru terakhir apa yang masih bisa diselamatkan? mempercayai hatinya... atau menarik pelatuk lalu kehilangan semua.
