Chapter 1

48 11 2
                                        

Langit malam gelap gulita, tanpa sebiji bintang pun. Angin dingin berhembus kencang, membawa suara riak air sungai yang terdengar seperti gumaman panjang. Di tepi sungai, seorang pria duduk di kursi lipat reyot, menggenggam joran pancing yang sejak tadi tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Itu Aldo, dua puluh lima tahun. Masih muda, tapi sudah merasa hidup ini lebih banyak menertawakannya daripada memberinya alasan untuk tertawa.

Kepalanya penuh dengan potongan masa lalu yang pahit. Kuliahnya dulu berjalan seperti maraton tanpa garis finish: skripsi molor, dosen pembimbing menghilang tanpa kabar, dan setiap kali ada jadwal sidang, rasanya seperti naik ring tinju tanpa persiapan. Akhirnya ia lulus juga, tapi dengan bekal rasa lelah, malu, dan harapan yang sudah babak belur. Setelah itu? Bukan pekerjaan yang menunggu, melainkan tumpukan lamaran kerja yang tak pernah dibalas, motor tua yang makin rewel, dan kesialan kecil yang menempel bagai cap stempel dari semesta.

Aldo masih ingat satu kejadian: pagi-pagi ia sudah rapi, siap wawancara kerja, lalu motornya mogok di tengah jalan. Ia dorong sekuat tenaga, keringat bercucuran, lalu tiba-tiba ditabrak kambing kabur. Baju kusut, celana kotor, wawancara gagal total. Itu baru satu. Masih ada kejadian lain yang sama menyebalkan, sampai ia merasa seolah hidupnya adalah serial komedi yang diproduksi tanpa persetujuan dirinya.

Kini, di kosannya di pinggiran kota, hari-harinya memang tak lagi diisi rasa cemas soal kuliah, tapi gantian dipenuhi kekacauan kocak. Pernah suatu malam listrik padam saat ia sedang rebus mie, dan ketika lampu menyala, mie-nya sudah menghilang. Pernah juga sandal jepitnya hilang begitu saja, hanya untuk ditemukan keesokan paginya nyangkut di jemuran pakaian orang. 

Bagi Aldo, hidup tak pernah benar-benar lancar. Tapi entah bagaimana, semua kesialan itu selalu bercampur dengan hal-hal konyol. Malam ini, dengan kail yang tetap kosong, ia hanya menarik napas panjang sambil tersenyum miring.

"Hidup gue ini emang aneh," gumamnya. "Ya sudahlah, nikmatin aja."

Namun, malam yang seharusnya damai berubah drastis ketika matanya menangkap sesuatu di kejauhan.

Di atas pagar jembatan, seorang wanita berdiri.

Aldo menyipitkan mata. Orang? Hantu? Ngapain dia berdiri di situ?

Angin malam berhembus, dan tubuh wanita itu sedikit condong ke depan.

Tunggu.

Tunggu.

TUNGGU DULU.

Aldo melempar jorannya tanpa pikir panjang dan langsung berlari ke jembatan.

"STOP! JANGAN LOMPAT!"

Wanita itu tetap diam. Aldo, segera menaiki pagar jembatan dan mencengkeram besinya. Jantungnya berdebar, entah karena panik atau karena dia sadar betapa buruknya ide ini.

"Dengar," katanya, mencoba menenangkan diri, "aku nggak tahu masalah apa yang kau hadapi, tapi bunuh diri bukan solusinya!"

Wanita itu akhirnya menoleh, wajahnya diterangi lampu jalan—ekspresi datar, mata dingin, seolah lebih terganggu dengan kehadiran Aldo daripada niatnya melompat.

"Apa urusanmu?" tanyanya tanpa emosi.

Aldo hampir tersedak ludahnya sendiri. "Urusanku? Eh, bener sih bukan urusanku, tapi ya setidaknya jangan bunuh diri di sini! Aku sering mancing di tempat ini, kalau mayatmu nyangkut di kailku, kemungkinan aku bakalan dicari orang seumur hidup!"

Wanita itu memutar matanya. "Aku tidak peduli."

"Ya, dan aku juga nggak minta terlibat dalam drama orang asing tengah malam, tapi lihat di mana kita sekarang!" Aldo membalas dengan frustasi. "Bisa nggak turun dulu? Aku traktir makan kalau perlu."

Get CaughtWhere stories live. Discover now