Desiran ombak yang menabrak kapal-kapal yang sedang berlabuh dan dermaga terdengar nyaring di setiap telinga orang yang lewat.
Kota pelabuhan yang seperti tak pernah beristirahat itu terus melayarkan kapal-kapalnya.
Suara decitan sepatu yang melangkah di atas papan kayu di dermaga sering terdengar, tetapi kali ini berbeda.
Seorang pemuda nyentrik bermata abu-abu dan senyuman yang manis berjalan menelusuri kota.
Tangannya terangkat, menarik tali tasnya ke pundak. Ia berhenti di dermaga, mengambil kamera analognya lalu memotret seorang pria.
Pria itu duduk di bangku sendirian, membiarkan angin menghembuskan rambutnya yang sudah mulai memutih, jari-jarinya dengan telaten membalikkan halaman buku di tangannya.
Armada membawa kaki jenjangnya melangkah ke arah pria itu. Ia berdiri di hadapannya membuat si pria mendongak.
"Laut itu tempat yang paling cocok untuk bercerita, bukan?" Tanyanya.
Pria di depannya tak langsung menjawab, ia melirik ke arah bukunya, seperti takut akan jawabannya, tapi ia mengangguk pelan sembari meminta Armada untuk duduk bersamanya.
"Kau seperti seorang filsuf, siapa dirimu, nak?" Si pria bertanya.
Meskipun ia menutup bukunya, ada jari yang di selipkan di antara halamannya, seperti tak ingin mengulangi ceritanya dari awal saat ia menunggu jawaban.
"Armada, Armada Mortimer. Aku bukan seorang filsuf, tapi hanya seorang penulis biasa." Balas Armada dengan senyuman.
"Penulis? Kenapa datang ke kota yang hampir mati ini? Tidak ada yang bisa kau jadikan bahan untuk menulis disini." Pria itu bertanya.
Matanya terlihat sendu, seperti merindukan sesuatu yang telah lama hilang.
"Oh, percayalah. Semua tempat punya cerita yang unik, aku yakin kota ini salah satunya, dan aku berjanji akan menghidupkan kota ini suatu hari nanti."
Armada berucap dengan yakin. Tak ada keraguan di setiap katanya, ia benar-benar berjanji.
Pria paruh baya itu membulatkan pupilnya selama sepersekian detik sebelum akhirnya tersenyum dengan sendu dan mengangguk pada Armada.
"Aku pernah mendengar kalimat itu dan aku percaya padamu, nak." Si pria menjawab, menepuk bahu tegap Armada seraya berdiri dari tempat duduknya.
Armada menjatuhkan pandangannya pada kamera di tangannya, menggenggam erat benda itu. Ia mengangguk, memberi keyakinan pada pria itu.
Mata abu-abu itu mengikuti setiap langkah yang pria itu ambil hingga akhirnya hilang dari jangkauan.
Armada terkekeh pada dirinya sendiri, membawa tubuhnya untuk bersandar pada bangku sembari menghela nafas.
"Dan apa kalimat yang pernah dia dengar?" Armada bermonolog.
Ia membawa tangannya untuk menarik resleting tas bawaannya itu, menepis semua barang yang ada di dalam untuk menarik sebuah jurnal dari tasnya itu.
Armada diam, tak mengeluarkan suara. tangannya mengetuk lututnya dengan sebuah pena yang Ia pegang. Mengharapkan pena itu untuk menulis dengan sendirinya.
Ia memejamkan matanya sebentar, kemudian matanya menangkap pemandangan laut di depannya saat ia kembali membuka matanya.
Ia tersenyum dan mengangguk pada dirinya sendiri, menulis semua isi kepalanya dengan pena di tangannya pada kertas kosong di jurnalnya.
"Apakah laut menjadi satu-satunya tempat untuk bercerita?"
Dan saat itu pula, seorang anak laki-laki berlari kearahnya.
CZYTASZ
Armada Untuk Ian
Dla nastolatków"Di atas kapal yang terombang-ambing oleh ombak, buku kosong itu mulai terisi. Armada menuliskan rahasia laut dengan pena kecil di tangannya-tapi ketika tintanya menipis, sanggupkah ia menuliskan kisahnya bersama Ian sebelum semuanya benar-benar tel...
