🤗 Haii, kembali lagi dengan cerita Haruto × Pharita 🤍
Semoga cerita ini bisa bikin kalian senang dan suka sama alurnya yaa ✨
Selamat membaca 💖
**✿❀ Happy Reading❀✿**
Angin musim gugur di Seoul mulai menusuk tulang, menyelinap di antara gedung-gedung tinggi daerah Sinchon. Pharita menggosok kedua lengannya yang hanya tertutup seragam tipis minimarket. Ia baru saja selesai giliran kerja part-time, tapi bukannya pulang, ia malah menatap layar ponselnya dengan nanar.
"Dua juta Won lagi... Dari mana aku dapat uang sebanyak itu untuk semester depan?" gumamnya.
"PHARITA!"
Seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda berlari kencang ke arahnya. Itu Asa, sahabat karibnya sejak semester satu. Napas Asa tersengal-sengal, tapi matanya berbinar seperti baru saja menemukan emas di pinggir jalan.
"Pharita! Ya ampun, untung belum naik bus!" seru Asa sambil memegang pundak Pharita.
"Pelan-pelan, Asa. Ada apa? Kamu habis dikejar rentenir?"
"Bukan! Aku baru saja dapat tawaran gila dari koneksiku di agensi event organizer," Asa menarik napas dalam-dalam. "Ada klien VIP yang butuh 'pendamping' selama tiga jam malam ini di pesta anniversary perusahaan di Seorin Luxe Hotel. Cuma temani dia, senyum cantik, dan pura-pura jadi pacarnya supaya dia nggak dijodohkan paksa oleh ibunya. Bayarannya? Tiga kali lipat gaji bulananmu di minimarket ini!"
Pharita mengerutkan kening, alisnya yang rapi bertaut. "Pacar sewaan? Asa, aku ini mahasiswi hukum, bukan aktris drama Korea."
"Justru itu! Wajahmu itu mahal, auramu elegan, dan tinggi badanmu yang 170 senti itu bakal bikin semua orang percaya kalau kamu itu model atau anak konglomerat. Please, Pharita... cuma tiga jam! Ini jalan ninja bayar kuliah!"
Pharita menatap saldo banknya, lalu menatap Asa yang memohon dengan muka memelas. "Hanya tiga jam. Dan jangan sampai ada yang tahu kalau aku mahasiswi Hukum Universitas Yonsei."
Pharita merasa tidak nyaman dengan gaun merah marun pinjaman yang memeluk lekuk tubuh tingginya dengan sempurna. Meskipun ia memiliki tinggi 170 cm yang membuat banyak wanita iri, berjalan di atas stiletto sepuluh senti di atas lantai marmer yang licin tetap saja terasa seperti misi bunuh diri.
"Mana orang yang namanya Tuan Watanabe itu?" gumam Pharita sambil memperbaiki letak antingnya.
"Wah, wah. Jadi ini 'aset' yang dikirim Asa?"
Suara berat yang sangat menyebalkan terdengar dari belakang. Pharita berbalik dengan anggun atau setidaknya ia mencoba dan nyaris menabrak dada seorang pria yang ternyata sedikit lebih tinggi darinya. Pria itu tampan, sangat tampan, dengan rahang tegas dan rambut yang ditata sedikit berantakan tapi elegan. Namanya Haruto.
Haruto menatap Pharita dari bawah ke atas, lalu berhenti di matanya. "Tinggi juga. Aku pikir Asa mengirimkan kurcaci. Ternyata dia mengirimkan jerapah bergaun merah."
Pharita mendelik tajam. "Jerapah? Maaf, Tuan. Nama saya Pharita. Dan saya bukan Jerapah, saya manusia."
Haruto terkekeh, suara tawanya terdengar meremehkan. "Oke, Jerapah. Dengar, hari ini namaku Haruto. Jangan panggil 'Tuan' kalau ibuku ada di dekat sini. Panggil 'Sayang', 'Cintaku', atau apa pun yang bikin orang percaya kita ini pasangan yang sangat kasmaran sampai ingin menempel seperti lem."
"Saya lebih nyaman memanggil Anda 'Pak'," jawab Pharita datar.
Haruto mendekat, jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. "Panggil aku 'Sayang' atau aku potong bayaranmu setengah. Pilih mana? Gengsi atau uang kuliah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
MY BOSS, MY FAKE BOYFRIEND
RomancePharita hanya ingin kerja part-time untuk menambah uang kuliah, tapi hidupnya tiba-tiba kacau ketika ia "dipaksa" menjadi pacar sewaan di sebuah pesta. Dan siapa sangka, bos barunya di kantor adalah pria yang sama Haruto, tampan, dingin, dan... nyeb...
