Typo.
_______________________________
Happy Reading!
_______________________________
Sorak-sorai terdengar di aula sekolah. Tim cheerleader cowok baru saja memulai latihan sore itu. Musik menghentak, dan suara tepuk tangan berirama memecah ruangan.
Barja, kapten sekaligus cowok paling dominan di tim, selalu berdiri paling depan. Tegas, percaya diri, tapi juga punya tatapan yang sulit diabaikan.
Sedangkan Alen, anggota baru yang pemalu, masih sering kikuk mengikuti gerakan.
"Alen, tangannya jangan kaku gitu. Ikutin aku, ya," suara Barja terdengar jelas, membuat Alen sedikit salah tingkah.
Alen mengangguk pelan, wajahnya agak memerah. Ia mencoba mengikuti gerakan Barja, tapi justru sempat salah putar tubuh. Teman-teman lain tertawa kecil, tapi Barja langsung mendekat dan berdiri tepat di sampingnya.
"Tenang, jangan panik. Lihat aku," bisik Barja sambil memperagakan gerakan pelan.
Alen menatap, lalu menirukan. Kali ini berhasil.
Senyum lebar muncul di wajah Alen.
"Bisa juga ternyata..." gumamnya.
Barja menepuk bahunya lembut.
"Aku kan udah bilang, asal kamu bareng aku, pasti bisa."
Latihan terus berjalan, dan setiap kali musik berhenti, Alen merasa jantungnya berdetak lebih kencang bukan karena capek, tapi karena kedekatannya dengan Barja.
Saat break, teman-teman sibuk minum dan ngobrol sendiri. Barja duduk di lantai, menengok ke arah Alen yang masih berdiri sambil merapikan napas.
"Duduk sini, jangan jauh-jauh," panggil Barja.
Alen mendekat, lalu duduk di sampingnya. Ada jeda hening beberapa detik. Barja lalu menyodorkan botol minumnya. "Minum, kamu butuh energi."
Alen menerima, tangan mereka sempat bersentuhan. Rasanya hangat, membuat pipi Alen makin merona.
"Barja..." Alen berbisik, "kenapa kamu selalu perhatian sama aku?"
Barja menoleh, menatapnya dalam. "Karena aku pengen kamu nyaman. Di tim ini, aku nggak cuma pengen kita kompak sebagai cheerleader... tapi juga kompak di luar itu."
Alen terdiam, senyumnya muncul pelan. Saat musik kembali diputar tanda latihan dimulai lagi, Barja bangkit sambil mengulurkan tangan.
"Ayo, partnerku. Kita tunjukin kalau gerakan kita bisa selaras."
Alen menggenggam tangan itu, dan untuk pertama kalinya, ia merasa dirinya bukan sekadar anggota baru yang kikuk-tapi seseorang yang berarti di sisi Barja.
Latihan cheerleader akhirnya selesai. Semua anggota berkemas, beberapa langsung pulang, beberapa lagi nongkrong di kantin sekolah. Alen masih sibuk membereskan pom-pom dan botol minumnya, sementara Barja menunggu di dekat pintu aula.
"Alen, kamu udah selesai?" tanya Barja sambil menyampirkan tas di bahu.
"Hmm, bentar lagi," jawab Alen dengan senyum kecil.
Barja lalu melangkah mendekat, membantu Alen memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. "Kamu capek banget, ya? Dari tadi keliatan ngos-ngosan."
Alen menunduk, sedikit malu. "Aku takut bikin salah terus."
Barja menggeleng pelan. "Kamu nggak salah, kok. Kamu cuma belum percaya diri. Padahal... gerakanmu udah bagus. Apalagi kalau aku lihat kamu serius, kamu itu kelihatan keren."
Kata-kata itu membuat jantung Alen berdetak cepat. Ia tak sanggup menatap Barja lama-lama, tapi dalam hatinya, ia merasa hangat.
Mereka berdua akhirnya berjalan pulang bersama melewati jalan setapak di belakang sekolah.
Langit sore memerah, udara sejuk dengan angin yang pelan. Sesekali mereka diam, hanya mendengar suara daun dan langkah kaki.
"Alen," panggil Barja tiba-tiba, suaranya agak lebih lembut.
"Ya?" Alen menoleh.
Barja tersenyum tipis, menatap lurus ke matanya. "Aku senang kamu ada di tim ini. Lebih dari itu... aku senang bisa deket sama kamu."
Alen terkejut, langkahnya terhenti. "Ba-Barja..."
Barja ikut berhenti, lalu mendekat sedikit. "Aku tahu kamu pemalu, tapi aku nggak pengen kamu terus merasa kecil di belakangku. Aku pengen kita saling dukung. Aku... pengen kamu di sisiku, bukan cuma saat latihan."
Suasana sejenak hening. Alen menunduk, wajahnya merah padam. Lalu dengan suara lirih ia menjawab, "Aku... juga senang bareng kamu. Rasanya beda kalau ada kamu."
Barja tersenyum lebar, lalu dengan spontan menepuk kepala Alen pelan.
"Kalau gitu, mulai sekarang... kamu jangan ragu lagi, ya. Kita berdua partner, di lapangan maupun di luar."
Alen mengangguk kecil. Dalam hati, ia tahu bahwa hari itu bukan hanya awal dirinya menjadi cheerleader yang lebih percaya diri, tapi juga awal dari sesuatu yang lebih indah bersama Barja.
Mereka melanjutkan langkah, kali ini lebih dekat, seakan-akan jarak di antara keduanya sudah tidak ada lagi.
•••
Hari kompetisi akhirnya tiba. Aula olahraga kota penuh dengan penonton, musik keras, dan sorakan dari berbagai tim sekolah. Semua anggota tim cheerleader berdiri di belakang panggung, wajah-wajah tegang dan penuh antusiasme.
Alen meremas botol minumnya, gugup. Tangannya sedikit bergetar.
Barja, yang berdiri di sampingnya, langsung memperhatikan.
"Tenang, Len," bisik Barja sambil menepuk punggungnya. "Ingat, kita latihan bareng setiap hari. Kamu nggak sendirian."
Alen mengangguk, menatap Barja. Tatapan itu begitu menenangkan, seolah seluruh keributannya bisa mereda hanya dengan satu senyum Barja.
Giliran mereka tampil. Musik dimulai, sorakan pecah. Tim bergerak selaras, tubuh mereka mengikuti ritme dengan energi penuh.
Alen, yang biasanya suka salah langkah saat latihan, kali ini tampak berbeda. Setiap gerakannya mengikuti Barja dengan sempurna. Bahkan saat ada gerakan angkat - di mana Barja harus menopang Alen - mereka melakukannya dengan mulus. Penonton bersorak lebih keras, decak kagum terdengar dari berbagai arah.Dari atas, Alen bisa melihat senyum bangga di wajah Barja. Jantungnya berdegup lebih kencang, tapi bukan karena takut jatuh. Ia merasa aman, seolah Barja akan selalu menangkapnya apa pun yang terjadi.
Saat musik berhenti di akhir, mereka semua menutup formasi dengan tepukan keras. Aula bergemuruh oleh tepuk tangan penonton.
Begitu turun panggung, tim mereka bersorak gembira. "Kita berhasil!" teriak salah satu anggota. Semua saling berpelukan, melompat-lompat bahagia.
Alen masih menahan napas, tapi sebelum sempat bicara apa pun, Barja menariknya ke sudut yang lebih sepi.
"Len..." Barja menatapnya dengan mata yang berbinar. "Kamu luar biasa barusan. Jauh lebih percaya diri dari yang aku kira."
Alen tersipu, mengusap tengkuknya. "Aku bisa karena kamu ada di sana. Aku cuma ngikutin kamu."
Barja tersenyum, lalu sedikit mendekat. "Len kalau aku bilang... aku juga jadi kuat karena ada kamu?"
Alen terdiam, jantungnya berdegup kencang lagi. Angin dari pendingin ruangan berhembus, tapi tubuhnya terasa hangat.
Barja lalu mengulurkan tangan, menggenggam tangan Alen erat. "Mulai sekarang, kita nggak cuma kompak di atas panggung. Aku pengen kita juga kompak di hati."
Alen menunduk, pipinya memerah. Perlahan ia mengangguk. "Aku... mau, Bar."
Barja melangkah mendekat hingga hidung mereka hampir bertemu dan ia mengecup singkat bibir pink milik Alen yg sudah tersipu akan aksinya.
Cup
"Ba-Barja" Gugup Alen.
"Terimakasih" Barja.
Sorakan dari teman-teman tim kembali terdengar memanggil mereka, tapi bagi Alen dan Barja, dunia seolah mengecil hanya menyisakan dua orang yang saling menggenggam erat.
Itu adalah awal dari perjalanan baru - bukan hanya sebagai partner cheerleader, tapi juga partner dalam sesuatu yang lebih dalam.
-Tamat-
votmen!
One shoot aja dulu, cerita yg lain ntar aku up klo udh ada moodnya.
Sekian!
YOU ARE READING
𝐊𝐮𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐎𝐧𝐞 𝐒𝐡𝐨𝐭
General Fictionkumpulan cerita pendek menarik. kalau kepo baca aja gk bayar kok, bayarnya paling vote doang, dijamin cerita nya bagus bagus kok. Rank: #1 lakilaki (24 Juni 2026)
