Prolog: Lyria Everveil

120 12 0
                                        

Langkah-langkah ringan terdengar di jalanan berbatu kota Ristval

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Langkah-langkah ringan terdengar di jalanan berbatu kota Ristval. Derap kuda, teriakan pedagang, dan aroma rempah berpadu dalam hiruk-pikuk pasar yang penuh warna. Di tengah keramaian itu, seorang gadis berambut perak panjang berjalan santai. Jubah biru berhias motif sihir berkibar lembut tertiup angin sore, sementara tas kulit cokelat tersampir di bahunya.

Di tangan kanannya, ia menggenggam tongkat kayu yang sederhana, nyaris tak mencolok. Aura samar yang menyelimutinya tetap cukup untuk membuat beberapa orang melihat sekilas sebelum kembali sibuk dengan urusan masing-masing.

Lyria Everveil.

Bagi warga kota, ia hanyalah seorang penyihir pengelana. Seseorang yang singgah sebentar, lalu pergi, seperti angin yang tak pernah menetap. Ia menukar beberapa koin dengan sekantong roti hangat, mengucapkan terima kasih singkat, lalu melanjutkan langkah tanpa meninggalkan jejak yang berarti.

Namun langkahnya terhenti di depan sebuah papan pengumuman besar. Puluhan kertas lusuh menempel di sana, sebagian masih basah oleh tinta yang belum mengering, seolah baru saja ditempelkan, seakan-akan waktu belum memberi jarak.

Pengumuman Darurat.

Sebuah wilayah permukiman di bagian barat dilaporkan hancur akibat aktivitas sihir terlarang. Sejumlah penduduk, bersama beberapa siswa dari akademi sihir terdekat, dinyatakan hilang. Upaya pencarian resmi dihentikan setelah area tersebut ditetapkan sebagai zona berbahaya.

Lyria membaca tulisan itu tanpa suara. Tak ada nama yang ia cari dan justru itulah yang membuat dadanya mengencang, seakan sesuatu runtuh perlahan di dalam dirinya.

Ia mengenali tempat itu. Bukan sebuah titik di peta, melainkan sebagai tempat ia pernah berhenti berjalan. Tempat api unggun menyala saat malam terlalu dingin, tempat tawa kecil terdengar tanpa alasan, dan hari-hari berlalu dengan perasaan pulang. Orang-orang di sana bukan keluarga sedarah, namun mereka memanggil namanya seolah ia selalu menjadi bagian dari mereka.

Kini, semua itu diringkas dalam beberapa baris tinta dingin. Tak ada penjelasan. Tak ada perpisahan. Hanya keheningan yang dibiarkan menggantung tanpa makam, tanpa jawaban.

Mata Lyria menelusuri baris demi baris tulisan itu. Jemarinya terangkat, lalu tertahan di udara, seolah ragu apakah ia benar-benar ingin menyentuh kenyataan yang terpampang di hadapannya. Senyum tipis muncul di bibirnya bukan sebagai tanda lega, melainkan kebiasaan lama untuk menutup sesuatu yang tak ingin ia perlihatkan.

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
The Wizard's Journey: Lyria Everveil's GrimoireStories to obsess over. Discover now