Niya, seorang siswi sederhana yang baru melangkahkan kaki di bangku kelas 7, tidak pernah membayangkan bahwa hari-hari pertamanya di masa MPLS akan mempertemukannya dengan sosok yang diam-diam berhasil menyita perhatiannya. Putra, kakak kelas yang d...
Alarm di kamar Niya berbunyi nyaring, membuat gadis itu membuka matanya dengan sedikit malas. Cahaya matahari pagi sudah menyelinap masuk lewat tirai jendela. Dengan gerakan pelan, ia bangkit dari tempat tidur, meregangkan tubuhnya, lalu berjalan menuju lemari untuk mengambil seragam putih biru yang sudah rapi tergantung sejak semalam.
Setelah berganti pakaian, ia berdiri sejenak di depan cermin. Rambutnya ia rapikan, dasi biru tua ia ikat dengan hati-hati, lalu meraih tas sekolah yang sudah penuh dengan buku. Ada semangat kecil dalam hatinya-hari ini menjadi bagian dari langkah awal perjalanan barunya di SMP.
"Niya, ayo sarapan dulu!" suara ibunya terdengar dari ruang makan.
"Sebentar, Bu!" jawab Niya sambil menutup pintu kamarnya.
Di meja makan, sudah tersaji nasi hangat, telur dadar, dan segelas susu. Ayahnya duduk sambil membaca koran tipis, sementara ibunya sibuk memeriksa jam tangan, memastikan tidak terlambat ke rumah sakit.
"Selamat pagi,bunda" sapa Niya sambil duduk.
"Pagi, Nak. Ayo cepat dimakan. Setelah ini kita berangkat" ucap sang ayah, tersenyum hangat.
Suasana meja makan sederhana itu terasa hangat. Niya makan dengan lahap, sementara ibunya sesekali bertanya tentang perasaan Niya di sekolah baru, dan ayahnya menambahkan gurauan kecil yang membuat tawa ringan pecah didi antara mereka
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Niya duduk di kursi belakang, sedangkan ayahnya yang mengenakan kemeja rapi berada di balik kemudi, dan ibunya duduk di sampingnya.
"Semangat ya, Sayang. Jangan lupa kenalan sama teman-teman baru" ujar ibunya sambil menoleh ke belakang.
"Iya, Bu" jawab Niya sambil tersenyum.
Di perjalanan, mereka bertiga berbincang ringan. Ayah Niya bercerita tentang rencana mengajar di sekolah tempatnya bekerja, sementara ibunya menambahkan tentang jadwal operasinya hari itu di rumah sakit. Niya mendengarkan dengan seksama, merasa betah dengan obrolan hangat itu.
Tak lama, mobil mereka berhenti di depan gerbang sekolah. Beberapa siswa tampak berlarian masuk, ada yang bercanda, ada pula yang masih terlihat gugup.
"Selamat belajar, Nak. Ayah percaya kamu bisa beradaptasi" kata sang ayah sambil menepuk bahu Niya lembut.
"Terima kasih,ayah. Hati-hati kerja ya. Ibu juga" jawabnya sambil memeluk keduanya sebentar.
Niya turun dari mobil dengan hati berdebar, menatap gerbang besar sekolah yang kini berdiri megah di hadapannya. Ayahnya kemudian melanjutkan perjalanan, mengantar sang ibu menuju rumah sakit. Dari kaca spion, Niya sempat melihat mobil itu melaju menjauh, meninggalkannya dengan langkah kecil yang kini membawa pada awal cerita barunya.
Oops! Bu görüntü içerik kurallarımıza uymuyor. Yayımlamaya devam etmek için görüntüyü kaldırmayı ya da başka bir görüntü yüklemeyi deneyin.
Aurora Al-Khalmeyra
ibu Niya sekaligus seorang dokter gigi. Wajahnya lembut dengan senyum hangat yang selalu menenangkan. Rambut hitamnya sering ia tata sederhana, membuatnya tampak anggun dan berwibawa.
Sifatnya penyayang, sabar, dan disiplin. Ia lembut saat bicara dengan Niya, penuh nasihat bijak, namun bisa tegas saat dibutuhkan. Dalam pekerjaannya, ia dikenal teliti, ramah, dan berdedikasi.
Bagi Niya, ibunya adalah panutan sekaligus sumber kekuatan—sosok yang selalu hadir sebagai rumah tempat ia kembali.
Oops! Bu görüntü içerik kurallarımıza uymuyor. Yayımlamaya devam etmek için görüntüyü kaldırmayı ya da başka bir görüntü yüklemeyi deneyin.
Alaric Bimantara
seorang pengusaha sekaligus dosen. Berwajah tegas namun ramah, berkacamata yang membuatnya tampak cerdas dan berwibawa. Sifatnya disiplin, pekerja keras, tapi penyayang pada keluarga. Bicara dengan nada tenang dan terstruktur, penuh nasihat singkat namun bermakna.
Oops! Bu görüntü içerik kurallarımıza uymuyor. Yayımlamaya devam etmek için görüntüyü kaldırmayı ya da başka bir görüntü yüklemeyi deneyin.