01

19 2 0
                                        

Siaran radio terdengar pecah di antara dengungan mesin tua yang meraung di jalan menanjak. Kabut tipis menyelimuti pandangan, membuat lampu mobil hanya mampu menusuk gelap beberapa meter ke depan. Jalanan basah berkilat, dan setiap tikungan menelan mobil itu ke dalam kesunyian yang lebih pekat. Di dalam kabin mobil yang pengap, bau lembap dan rokok basi terasa menyesakkan.

"Breaking news ... krrsshht ... Gunung Tangkuban Parahu dilaporkan sekarat. Pepohonan mengering mendadak, hewan-hewan turun dari hutan ... krrt ... warga diminta menjauhi area lereng. Krrsshht ... tujuh ... hiji ... tujuh ..."

Lelaki berusia dua puluh dua tahun itu meraih tombol volume, mencoba mengecilkannya. Namun, saat jarinya menyentuh, suara itu justru berubah menjadi bisikan pelan menyuruh pulang, seakan langsung menusuk gendang telinganya, "Balik ... maneh kudu balik, saacan terlambat."

Seketika jantung Purba mencelus. Ia menelan ludah yang terasa pahit dan menegakkan tubuhnya. Bukan hanya karena terkejut, tapi juga karena rasa lelah yang begitu akrab. Ada rasa muak pada bisikan itu, muak pada keadaan yang seolah tak pernah berpihak. Ia memaksa dirinya tersenyum kecut dan buru-buru mengganti siaran tersebut ke lagu pop kesukaannya.

"Cuma radio rusak," ia meyakinkan diri, suaranya serak. "Mungkin itu yang aku dapat kalau nekat kabur dari kenyataan."

Genggamannya di setir menjadi begitu erat hingga buku jarinya memutih, bukan karena takut pada bisikan, tapi karena muak pada dirinya sendiri yang begitu mudah terpengaruh.

Perjalanan ini terasa jauh lebih panjang daripada perkiraannya. Setiap meter yang ditempuh terasa seperti menambahi beban di bahunya. Bukan hanya jarak, tapi juga harapan yang dipaksakan.

"Ini jauh banget," Purba bergumam, suaranya seperti keluhan. "Kira-kira bakal worth it nggak, ya?"

Ia memijat pelipisnya. Sebulan lalu, ia hampir menyerah dengan revisi yang tak pernah selesai dan perselisihan tiada henti dengan dosen pembimbing. Skripsi itu bukan lagi tantangan, melainkan belenggu. Setiap kata yang diketiknya terasa hampa, hasil dari otak yang kehabisan gairah. Saat itulah surel aneh itu datang—complimentary voucher menginap dua malam di Arunika Hotel.

Entah bagaimana, ia mendapatkannya setelah asal menekan sesuatu di laptop dan layarnya menjadi biru. Awalnya ia yakin itu penipuan, bahkan sempat mengabaikannya. Namun, ketika rasa muak pada hidup perantauannya memuncak—saat ia menatap kosong ke langit-langit kamar kos dan merasa seperti sebuah robot yang rusak, hanya bisa bernapas tanpa tujuan—Purba akhirnya membalas email itu.

Tidak butuh waktu lama, seolah terhipnotis, ia cepat-cepat menyiapkan diri. Dan kini, di balik setir mobil dengan kabut yang semakin menebal, Purba kembali membuka ponselnya. Ia menatap ulang surel itu, membaca kata demi kata untuk meyakinkan diri bahwa ia tidak sedang menuju nasib buruk seperti tokoh-tokoh di cerita thriller yang kerap ia baca. Bukan karena takut, tapi karena merasa sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan.

Purba menarik napas panjang ketika roda mobilnya berhenti di ujung jalan yang sepi. Gelap malam merayap pelan, hanya diterangi cahaya bulan yang samar menembus celah-celah pepohonan pinus. Bukan bangunan hotel yang ia temui, melainkan sebuah area parkir dengan plang bertuliskan Wisata Kebun Pinus Gunung Kidul Yogyakarta. Tempat yang dari kelihatannya, jauh dari keramaian dan kehidupan kota.

Udara dingin menelusup masuk ke pori-porinya, menusuk tulang dan memaksa Purba merapatkan hoodie abu-abunya. Udara itu bukan hanya dingin, tapi juga membawa bau aneh, seperti aroma tanah basah berpadu dengan wangi samar bunga melati dan kenanga, menghadirkan suasana yang asing, sekaligus terasa seperti sebuah pelukan yang lembut dan menyesatkan.

Di area parkir yang luas itu, hanya ada dua mobil. Mobil Purba sendiri yang baru datang, dan sebuah van hitam yang terparkir rapi, seolah sudah menunggu sejak lama. Kendaraan itu mengilat terkena embun, pantulannya membentuk kilau tipis di bawah sinar lampu jalan yang meredup.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 06, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

[END] Lelaku Sang ParahuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang