1. Prolog

21 1 0
                                        

Sepuluh tahun lalu, sinar matahari di siang hari begitu menyengat. Seorang gadis kecil berusia tujuh tahun melindungi wajahnya dengan telapak tangannya sembari berlari kecil mengejar anak yang berjalan cepat di depannya. Hingga akhirnya gadis itu berhasil menahan tangan anak itu dari belakang. Nama laki-laki itu Dipanagara Rehsandra, biasa dipanggil Rehsan. Anak berusia enam tahun yang baru saja memasuki sekolah dasar.

Saat tangannya dicekat, anak itu menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap gadis yang mengejarnya tadi.

"Rehsan, tunggu!!" ketus Nayna.

"Ada apa?"

"Aku minta maaf soal tadi. Aku gak bermaksud buat kamu malu di depan kelas." sesalnya.

Rehsan menatap datar gadis di depannya. Sebenarnya saat di kelas tadi Nayla mengatakan bahwa dirinya menyukai Rehsan dan itu bocor hingga ke seluruh kelas. Akibatnya Rehsan diejek satu kelas hingga membuatnya malu, itu sebabnya ia membenci Nayna, gadis yang sedari tadi mengejarnya.

"T-tapi...aku serius, aku suka sama kamu." sanggah Nayna.

"Aku masih kecil, aku gak mau pacaran. Nanti dimarahin bunda." tukas Rehsan.

"Gimana kalo kita udah besar? Kamu mau jadi pacar aku?"

"Besar? Dewasa maksud kamu?" tanya Rehsan.

Yang ditanya mengangguk. "kalo aku udah besar. Aku mau jadi pacar kamu. Kamu harus mau, ya?"

Anak laki-laki itu bergeming ragu membalas pertanyaan itu. Ia masih naif untuk mencintai lawan jenis. Ia masih ingin bermain dengan teman-temannya, ia tidak mau mengenal cinta di usia yang sangat kecil.

"Oh iya, habis ini papa sama mama ajakin aku nonton konser orkestra moza di luar kota. Aku harus pergi sekarang. Da-dah Rehsan!" pamitnya.

Gadis itu lekas berbalik, lambaian tangan mengiringi langkahnya yang berlari semakin menjauh. Sementara Arzan terus menatap kepergian gadis itu hingga lenyap dari pengelihatannya sebelum akhirnya ia beranjak pergi meninggalkan tempat itu untuk pulang.

Sementara di sisi lain Angga, pria berusia 30 tahun baru saja selesai menutup teleponnya. Ia berjalan memasuki rumah, langkahnya terhenti ketika berada di ruang tamu tepatnya di sofa, ia melihat anak gadisnya sedang duduk sambil mengayun-ayunkan kakinya sementara Inara sang mama sedang mengikat rambut putrinya.

"Udah siap nonton orkestra?" tanya Angga.

"Siap!!" seru Nayna.

"Makan yang banyak, ya. Soalnya tempat ini jauh. Jadi gak boleh ngeluh kalo perjalanan nanti, oke?"

"Oke, pah!?"

Angga tersenyum sambil tertawa pelan. Ia mengusap lembut rambut putrinya hangat melihat betapa antusiasnya Nayna. Gadis itu memang sangat menyukai musik, ia bahkan bercita-cita ingin menjadi dirigen orkestra dan memiliki hobi bermain piano. Entah mewarisi gen dari siapa, orang tuanya tidak ada yang memiliki ketertarikan pada musik. Apapun itu, Inara dan Angga akan tetap mendukung mimpi putri kecilnya itu.

"Kamu gak papa cuti sehari buat nemenin Nayna?" tanya Inara.

"Gak papa. Asal Nayna senang, saya akan lakukan apa saja demi dia dan kamu." balas Angga.

"Nayna udah nunggu lama buat nonton orkestra kesukaannya."

"Maka dari itu saya gak mau janji-janji terus sama dia. Hari ini saya akan menghabiskan waktu sama kalian." tandas Angga.

Inara tersenyum sambil mengangguk. Mereka lantas mengulurkan tangan pada putrinya sebelum ia menyematkan tangan mungilnya. Nayna keluar dari rumah menuju mobilnya dengan kedua orang tuanya menggandeng tangannya. Serasa harmoni, begitu senang melihat keluarga bahagia seperti itu, mereka berharap kehangatan itu akan berlangsung selamanya

BISIKANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang