BAB 1. Makasih Harin

515 67 6
                                        

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.


"Harin!" seru Dohyun, ayah Harin, sambil melempar beberapa lembar kertas ke meja di hadapan anaknya yng tengah bersantai di halaman samping rumah.

Harin, yang sedang merokok, hanya melirik sekilas ke arah ayahnya lalu menghembuskan asap rokok dengan santai.

Kesal karena anaknya sama sekali tidak mengindahkan keberadaannya, Dohyun meraih rokok yang ada di tangan Harin, menjatuhkannya ke tanah, lalu
menginjaknya hingga padam.

Harin memutar bola matanya Dia kemudian mendongak, menatap ayahnya yang kini wajahnya memerah menahan amarah.

"Sudah berapa kali Ayah bilang, berhenti membuat keributan!" tegur Dohyun tegas.

"Teman kamu sampai masuk rumah sakit. Beruntung sekolah bisa menutupi semuanya"

Harin tersenyum miring dan terkekeh "Perbuatanku?" ucapnya, seolah mengejek.

"Aku nggak melakukan apa-apa. Bukan aku yang nyakitin dia"

"Bukan kamu yang melakukannya, tapi kamu yang menyuruh Dayeon dan teman-temannya menghajar dia!" sanggah Dohyun

Harin mendecak kesal "Salah siapa dia menginjak sepatuku" balasnya enteng, lalu berdiri dan melangkah meninggalkan ayahnya begitu saja, masuk ke dalam rumah.

"Harin! Tunggu! Dengarkan Ayah!!!" bentak Dohyun dengan suara menggelegar. Urat-urat di lehernya menonjol karena menahan emosi, namun Harin tetap melangkah santai tanpa sedikit pun menoleh.

Tak lama, Hyejin , nenek Harin yang baru saja tiba di rumah, langsung berjalan menuju halaman samping, penasaran dengan teriakan anaknya. Di belakangnya, menantu sekaligus istri Dohyun, Minseo, mengikuti.

"Ada apa ini?" tanya Hyejin.

Dohyun hanya menatap bergantian ibu dan istrinya, napasnya masih berat, emosi belum mereda. Hyejin kemudian melirik ke meja, melihat beberapa lembar kertas yang tadi dibawa Dohyun. Dia segera mengambil dan membacanya. Tertulis di sana pengakuan dari teman Harin atau lebih tepatnya korban yang melaporkan bahwa Harin dan kawan-kawannya telah membully dirinya.

"Ini semua karena kalian terlalu memanjakan dia" gerutu Hyejin

"Ibu tahu Harin adalah anak kalian satu-satunya, tapi bukan berarti semua yang dia mau harus kalian penuhi. Bukan berarti setiap kali dia salah, kalian harus menutupinya. Lihat sekarang, dia tumbuh menjadi orang seperti itu, seenaknya sendiri, dan tidak pernah mendengarkan perkataan kalian"

Di belakang Hyejin, Minseo hanya bisa menunduk, tak berani membantah. Begitu pula dengan Dohyun yang memilih membuang muka, tak sanggup menatap wajah ibunya secara langsung.

"Sekarang, setelah sikap Harin terlanjur seperti itu, kalian juga kan yang pusing sendiri. Terserah kalian saja sekarang, Ibu lelah ingin beristirahat" ucap Hyejin sambil menghela napas panjang.

Thank youHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora