01. Puri

74 6 0
                                        

01 Puri

“Puri! Jangan sembunyi dong! Capek nih carinya! Puri-Puri main yok!” teriakan itu terdengar di gang mawar. 

x

“Pak Ben, lihat si Puri tidak?” Yanto masuk sedikit melalui celah gerbang yang tak tertutup rapat. 

“Puri siapa?” Bukan Pak Ben yang menyahut, melainkan istrinya - Nina. Wanita yang tengah menyiram bunga mawar di dalam pot itu langsung melotot ke arah suaminya.

Pak Ben berdeham, lalu berdiri dari tempat duduknya, menghampiri Yanto.

 “Puri siapa, Yanto? Tolong jelaskan siapa itu Puri?” Dia memberikan kode melalui mata. Bisa-bisa dia dan istrinya akan ada perang selanjutnya.

“Oh itu, burung kakak tuanya, Pak RT.” Yanto nyengir sambil garuk-garuk kepala. Menyadari apa yang sudah dia lakukan. “Dia terbang gak tahu kemana, karena kandangnya gak ditutup rapat. Jadi, Pak RT minta saya buat bantu cari.”

“Beneran, To? Jawab aja yang jujur.” Bu Nina masih berkacak pinggang. Sebelah tangannya siap-siap menyiram Pak Ben dengan selang di tangannya.

Yanto dengan sigap berdiri seakan tengah berada di hadapan atasannya. “Saya Yanto, bersumpah Puri adalah burung kakaktua Pak RT, bu!” katanya dengan sigap.

Mendengar obrolan yang terus berlanjut, Leona keluar sambil mencepol rambutnya yang tergerai. Ia memasang kacamatanya agar pandangannya lebih baik. Mempunyai minus empat membuat pandangannya kabur. 

“Eh, neng Ona. Nggak kuliah?”

“Libur mas.” Leona mendekat. Menarik  selang dari tangan sang ibu setelah bertukar tatapan dengan sang ayah. “Nyari apa mas? Kok sambil teriak-teriak?”

“Itu burung kakaktua kesayangan Pak RT. Katanya sih burung itu dikasih sama saudaranya.” Yanto menoleh ke belakang. “Jadi, berarti buat Pak RT. Saya pergi dulu deh, ntar ditunggu. Neng Ona mau ikut? sekalian olahraga.”

“Ah, nggak.” Leona menggeleng tegas. Hari libur seperti ini sangat berarti. Dia hanya ingin rebahan tanpa harus bertemu dengan orang lain.

“Boleh - boleh.” Nina menoleh ke anaknya dan menelengkan kepala. “Sana ikut, daripada kamu males-malesan di rumah. Hari libur itu, olahraga. Sana.”

“Males, Bu.” Leona kembali menggeleng cepat. “Mau istirahat aja. Lagian aku gak tahu burungnya terbang ke mana.”

“Astaga.” Nina menepuk jidatnya.  “Leona, coba lihat penampilanmu sekarang.” Nina menunjuk anaknya dengan pandangan yang tak percaya. Tubuh yang besar, muka yang tak terawat, rambut jarang disisir, sangat berantakan. Melihatnya saja sangat memusingkan. “Udah sana ikut Pak Yanto. Anggap aja olahraga ringan. Biar gak gendut kayak gini. Setelah itu, kamu bebas buat istirahat.” 

Leona menggigit bagian bawah bibirnya. Dia tidak mau. Mager. Seharusnya dia tidak perlu keluar dan hanya berdiam diri di kamarnya. Ia melihat sekeliling dan mendapati masih ditatap oleh orang tua dan Pak Yanto. 

Butuh bantuan, Leona menoleh ke arah ayahnya. Dia memberikan ayahnya tatapan memelas. Sang ayah meringis lalu pura-pura tak melihat. Mereka sama - sama takut dengan sang ibu.

 “Eng–”

“Oke.” Nina menarik Leona dan mendorongnya mendekat ke Yanto. “Nah, ini. Leona mau bantu cari burung pak rt.”

Merasa ucapannya tak akan didengar, dengan berat hati dia mengikuti Yanto yang menatapnya tak enak.

“Sudah pak. Jangan natap saya kayak gitu. Ayo kita cari. Semoga gak masuk ke BTN sebelah.”

“Nanti, saya traktir mbak. Bakso, gimana?”

                                                                         *

Dari satu orang menjadi dua, tiga bahkan mencapai lima orang dalam pencarian burung pak RT. Setiap rumah mereka datangi, setiap pohon mereka diam dan menengadahkan kepalanya. Mencari-cari, siapa tau burung itu hinggap di sana. Sayangnya sampai sekarang belum juga menemukannya.

“Coba deh, satu gang lagi. Habis itu kita nyerah aja.”

Semua mengangguk. Leona juga. Dia sudah berada di sebuah rumah yang seingatnya dulu tak berpenghuni. Tapi, kenapa ada sepasang sandal di sana. “Mas, rumah ini– waduh ilang,” serunya ketika tidak ada Yanto dan lainnya. Mereka sepertinya sudah menyebar lagi. 

Tak punya pilihan, dia mencoba melihat apa yang bisa dilihat. Hanya ada tanaman kecil, sandal jepit, ada kandang kelinci (?) entahlah. Tak ada tanda-tanda burung di sana. Leona mencondongkan tubuhnya ke depan sedikit untuk melihat sisi yang tak bisa dia lihat. Hasilnya tidak ada.

“Di sini gak ada,” katanya. Namun, ketika Leona hendak menjauh, dia melihat sesuatu yang bergerak di lorong kecil, berwarna putih, seperti sebuah pantat yang bergoyang. Mata-nya menyipit. Keinginannya untuk pergi menghilang. 

Matanya perlahan membeliak, itu yang mereka cari. Perlahan dibukanya gerbang dan Leona masuk ke dalam sana. Jantungnya berdegup kencang, satu sisi dia takut dianggap maling, satu sisi dia takut kalau burung itu akan terbang lagi.

“Ngapain?”

“Saya mau ambil burung, kak. Burung Pak RT lepas. Maaf banget gak izin masuk.” Langkah Leona mulai mendekat ke arah burung, masih belum menoleh. Fokusnya sekarang pada hewan berjambul di depannya. Meleset sedikit bisa bisa dia harus keliling komplek lagi.

“Toleh sini coba. Kau beneran maling ya?”

“Eng–argh!”

“Argh!!”

Leona menutup matanya. Keringat mulai bercucuran. Sialaan, apa yang sudah dia lihat?


Can i say, "i love you?"Histórias para pegar e não largar. Descubra agora