Jakarta siang itu ramai dan panas. Jalanan ibu kota yang padat, klakson bersahutan, udara terik memantul di aspal yang berdebu. Namun, di salah satu sudut kota, berdiri sebuah kafe yang selalu menjadi persinggahan banyak orang—Cafe Dream.
Bangunan kafe itu terdiri dari dua lantai. Lantai bawahnya berdinding kaca besar, memamerkan pemandangan pengunjung yang bercengkerama sambil menyeruput kopi. Aroma minuman hangat dan kue panggang memenuhi ruangan.
Sementara itu, lantai dua kafe punya pesona berbeda—terbuka tanpa atap, hanya dihiasi lampu gantung yang berderet rapi.
Di siang hari, sinar matahari jatuh langsung ke meja-meja kayu sederhana; tempat favorit mahasiswa, pekerja, atau pasangan muda yang ingin menikmati kota dari ketinggian ringan.
Bagi Mora—sang pemilik, Cafe Dream adalah mimpinya yang jadi nyata. Ia merawat setiap sudutnya dengan sepenuh hati. Hari itu pun suasana begitu hidup—gelas beradu, tawa berbaur dengan musik lembut, orang-orang mengobrol ria.
Hingga suara asing memecah ketertiban dan kenyamanan itu.
Sebuah mobil hitam melaju cukup cepat di jalanan kota. Di balik kemudinya, Mark—sang pengendara selalu menampilkan senyum manisnya selama perjalanan panjang dari bandara.
Setelah bertahun-tahun kuliah di Amerika, akhirnya ia pulang ke rumah orang tuanya yang ada di Jakarta. Ada rindu yang menumpuk, bercampur kegembiraan untuk segera sampai.
Namun ponselnya terus bergetar—pesan demi pesan dari Zergan, sahabat lamanya, membanjiri layar. Mark melirik sebentar, menekan balasan singkat.
Dalam sekejap, semuanya berubah. Seorang anak kecil tiba-tiba berlari menyeberang. Refleks, Mark membanting setir ke kiri, kakinya menghantam rem sekuat tenaga. Ban mobil berdecit keras, tubuhnya terhempas ke depan. Tapi mobil itu tak sepenuhnya berhenti.
BRAKK!
Suara benturan keras mengguncang siang itu. Kaca besar di lantai bawah Cafe Dream pecah berkeping-keping, meja dan kursi terhempas, teriakan pengunjung memenuhi udara. Dari lantai dua yang terbuka, orang-orang berhamburan berdiri, menatap panik ke bawah. Suasana riang berubah kacau dalam hitungan detik.
Mora yang kaget berlari keluar. Napasnya tercekat saat melihat bagian depan kafenya porak-poranda. Di tengah kaca berserakan dan kepanikan orang-orang, pintu mobil itu terbuka perlahan.
Seorang pemuda melangkah keluar dengan wajah pucat dan napas tersengal. Tubuhnya dibalut hoodie hitam sederhana, dipadukan dengan celana jeans biru yang sudah sedikit kusut setelah perjalanan panjang. Rambut blondenya berantakan, sebagian jatuh menutupi kening, membuatnya tampak semakin kacau. Dari sorot matanya terlihat jelas keterkejutan dan rasa bersalah yang bercampur aduk.
Mora menatapnya dengan dada berdegup kencang. Dalam kondisi normal, mungkin ia akan mengira pemuda itu seorang model jalanan—penampilannya begitu mencolok di antara kerumunan, aura “anak luar negeri” yang terbawa dari gaya berpakaian dan rambut pirangnya sulit diabaikan.
Tapi semua itu tenggelam di balik kenyataan pahit: lelaki asing dengan tatapan kacau itu adalah orang yang baru saja menghancurkan sebagian besar mimpinya.
Dia adalah Mark—pemuda yang tanpa sengaja mengubah siang Mora menjadi mimpi buruk.
Bagi Mora, Cafe Dream adalah hidupnya. Dan kini, seorang pria yang entah dari mana datang sebagai penyebab runtuhnya sebagian dari mimpi itu.
"Gue minta maaf. Gue nggak sengaja," ucap Mark tiba-tiba.
Gadis itu menoleh ke arah Mark dengan pandangan marah. "Lo nggak bisa bawa mobil ya? Masa kafe sebesar ini nggak kelihatan di mata lo!"
Mark menggaruk tengkuknya, sedikit tersenyum tipis untuk menenangkan suasana, menatap Mora dengan sorot mata yang penuh penyesalan tapi tetap hangat. “Gue bakalan ganti semua kerugian yang gue perbuat. Tapi kalau uang nggak cukup, gue akan terima apa pun tanggung jawab yang lo tentukan.”
Mora menimbang kata-kata itu, matanya tajam. Ia ingin marah, tapi juga menahan diri. Ada sesuatu dalam ketenangan Mark yang membuatnya sedikit goyah—cara dia berdiri, cara matanya menatap, cara ia tetap sopan meski dalam situasi kacau.
“Sebagai gantinya, lo harus kerja di kafe gue selama tiga bulan penuh,” kata Mora, tegas. “Hanya itu tanggung jawab yang cocok buat lo.”
Mark mengangguk pelan, wajahnya tetap cool. Ia tahu, ini bukan waktu untuk debat. “Baik. Gue bakalan datang lagi setelah bawa mobil ke bengkel. Lo nggak perlu khawatir, gue pasti balik.” Ia mengeluarkan kartu identitas, menyerahkannya ke Mora. “Ini jaminannya. Alamat gue tertera di sini. Gue nggak akan kabur.”
Mora menatap tanda pengenal itu, sesaat hatinya campur aduk—antara rasa marah, was-was, dan rasa ingin tahu yang sulit ia jelaskan.
“Markiel Gavintara,” gumamnya lirih, mencoba menghafal nama itu.
Di sisi lain, Mark kembali masuk ke mobilnya, menatap kafe sebentar sebelum meninggalkan tempat itu. Ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan—perasaan bahwa keputusan untuk menebus kesalahan ini mungkin akan membuka sesuatu yang lebih besar daripada sekadar membayar kerusakan. Sesuatu yang akan mengubah hari-hari kedatangannya.
Di belakangnya, Cleo berdiri di teras kafe, menatap mobil yang mulai menjauh, sambil bergumam pada Mora.
“Ra, lo serius nyuruh dia kerja di sini?”
"Mana tampangnya seperti anak tunggal kaya raya lagi," Cleo menambahkan, masih setengah heran.
“Keputusan gue udah tepat,” jawab Mora, dengan sedikit tidak yakin.
"Apa dia akan balik?" tanya Cleo lagi.
"Dia pasti balik."
Dan saat matahari Jakarta menyorot kafe yang masih berdebu, keduanya—pemilik kafe dan pemuda yang menghancurkan sebagian mimpinya—sedikit tak menyadari bahwa ini bukan hanya awal kerja paksa, tapi juga awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar tanggung jawab.
YOU ARE READING
MARKIEL
Teen FictionMenabrak kafe orang? Niatnya mau pulang dengan tenang, malah jadi barista dadakan. Mark, mahasiswa semester akhir yang baru kembali dari Amerika, tanpa sengaja menabrak Cafe Dream-kafe kecil yang menjadi dunia Mora. Untuk menebus kesalahannya, Mark...
