Prolog

19 2 0
                                        

Hidup selalu penuh misteri. Kita sering bermimpi tentang masa depan, tentang umur panjang, tentang kesempatan tak terbatas yang bisa kita miliki. Namun, siapa sangka malam itu aku justru dipaksa untuk menimbang arti hidup dari sudut pandang yang berbeda. Aku, seorang remaja yang bahkan belum benar-benar mengenal dunia, dihadapkan pada pilihan yang mungkin tak pernah ditemui manusia manapun.

Malam itu, suasana kamarku begitu hening. Hanya suara detak jam dinding yang menemani, sampai tiba-tiba udara di sekitarku berubah dingin menusuk. Dari sudut gelap, muncul sosok tinggi berjubah hitam. Dia bukan manusia. Tatapan matanya dalam, tenang, namun membawa ketakutan yang tak bisa kujelaskan. Dialah Malaikat Maut.

Aku menahan napas, jantungku berdegup kencang. Bukankah seharusnya aku mati malam ini? Tapi dia tidak langsung meraihku. Sebaliknya, suaranya terdengar dalam dan penuh wibawa. Ia berkata bahwa ia datang bukan untuk mengakhiri hidupku saat itu juga, melainkan untuk memberikan pilihan yang akan menentukan jalan hidupku selanjutnya.

“Pertama, kau bisa hidup selama seratus hari. Hari-hari itu akan penuh kesadaran, penuh makna, tapi setelah itu waktumu berakhir.”
Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Atau, aku beri kau umur panjang bertahun-tahun. Namun ketahuilah, umur panjang bukan berarti bahagia. Kau akan memikul beban, kesepian, dan luka yang mungkin tak akan bisa kau sembuhkan.”

Aku tercekat. Pilihan itu terasa mustahil. Umur panjang selalu terdengar indah, tapi untuk apa hidup lama kalau hanya dipenuhi kehampaan? Sedangkan seratus hari, walau singkat, bisa kujadikan kesempatan untuk benar-benar merasakan arti hidup. Menangis, tertawa, mencintai, bahkan meninggalkan sesuatu yang berarti.

Aku menarik napas panjang, mencoba menguatkan diri. Dengan suara bergetar aku berkata bahwa aku memilih seratus hari. Lebih baik singkat tapi penuh makna, daripada panjang tapi hampa.

Malaikat itu menatapku lama, seolah menilai keputusanku. Lalu ia mengangguk pelan. Ia berpesan agar aku mengingat bahwa waktu bukan sekadar hitungan detik. Aku harus menggunakan setiap harinya dengan baik, karena setelah itu, segalanya akan berakhir.

Sejak malam itu, hidupku berubah. Aku tahu batas waktuku, dan aku tahu setiap hari yang kulalui bukan lagi sesuatu yang bisa kusia-siakan. Seratus hari, itulah perjalanan terakhirku di dunia ini.

MAKNA HIDUPStories to obsess over. Discover now