Namaku Minazuki Tooru. Umurku 16 tahun, murid tahun pertama di SMA Kurohane. Kalau kalian melihatku sepintas, aku tidak terlihat berbeda dengan siswa SMA lainnya. Aku tidak punya prestasi akademik yang mengesankan hanya rata-rata saja, tidak juga punya penampilan mencolok. Tapi ada satu hal yang membuatku berbeda itu adalah fakta bahwa aku jatuh cinta pada bola voli sejak kecil.
Dan alasan utamanya... adalah kakakku.
Kakakku bernama Minazuki Sakagi. Dia enam tahun lebih tua dariku dengan tampilan rambut coklat kehitaman pendek yang rapi, gestur badan tinggi, sikapnya yang ramah pada senior maupun juniornya, dia juga tidak memandang remeh lawannya, dan banyak hal baik lain yang tidak bisa ku ungkapkan, sekarang kakakku sudah menjadi atlet voli profesional. Dari dulu, bagiku dia bukan sekadar kakak. Dia adalah panutanku, cahaya yang menuntunku ke dunia yang sebelumnya tidak pernah kukenal.
Aku masih ingat jelas suatu sore, ketika aku berusia delapan tahun. Pulang sekolah, aku mendapati Sakka nii-san sedang berlatih sendirian di lapangan kecil dekat rumah. Bola voli memantul-mantul di langit keemasan, suara hantaman telapak tangannya terdengar jelas di udara. Aku berdiri di pinggir, hanya menonton.
"Hei, Tooru. Mau coba?" tanyanya sambil tersenyum hangat.
Aku menatapnya ragu, tapi kakak mendorongku dengan lembut. "Tidak apa-apa kalau gagal. Bola voli itu soal mencoba berulang kali, jatuh, lalu bangkit lagi." katanya, masih menatapku dengan senyuman penuh percaya diri.
Dia melempar bola ke arahku walau tidak cepat dan bertenaga tetap saja, aku tidak bisa menerimanya dengan baik. Bola itu langsung mengenai wajahku hingga aku jatuh terlentang di tanah, hampir menangis. Tapi Sakka nii-san hanya tertawa kecil. Aku menatap langit dan menggerutu kesal.
Melihatku tidak bergerak Sakka nii-san mengalah dan segera berjalan menghampiriku, membantuku berdiri, mengusap kepalaku, dan berkata "Lihat? Kau sudah melangkah satu langkah lebih jauh daripada hanya menonton. Itulah awal dari segalanya."
Hari itu aku jatuh cinta pada voli. Bukan karena aku langsung jago, tapi karena kakakku ada di sisiku, menuntunku dengan sabar.
Sejak saat itu, voli menjadi dunia kami berdua. Kami sering bermain bersama di lapangan kosong, atau sekadar melempar bola di halaman rumah. Sakka nii-san selalu memperlakukanku bukan hanya sebagai adik kecil yang merepotkan, tapi juga sebagai rekannya. Dia sering berkata "Tooru, kalau suatu hari nanti kau ingin bermain serius, jangan takut. Bola voli itu bukan soal siapa yang paling tinggi atau paling kuat. Ini tentang kerja sama. Kau pasti bisa menemukan tempatmu sendiri di dalam tim."
Kata-kata itulah yang terus terpatri di hatiku.
...
Waktu berlalu. Sakka nii-san tumbuh jadi pemain wing spiker yang luar biasa, sementara aku tetap mencoba mencari posisiku. Saat SMP, aku mulai sadar bahwa tubuhku tidak sekuat atau setinggi dia. Aku bukan tipe orang yang bisa meloncat setinggi itu atau memukul bola sekeras itu.
Tapi aku menemukan hal lain yang membuatku bersemangat yaitu mengatur permainan.
Ketika aku mencoba jadi setter tim untuk pertama kali, aku merasa... inilah tempatku. Mengatur tempo, memperhatikan gerakan rekan, lalu mengirimkan umpan yang tepat agar mereka bisa bersinar, itu memberiku kepuasan tersendiri. Rasanya aku menjadi bagian penting dari tim, meski bukan aku yang mencetak poin terakhir.
Sakka nii-san mendukung penuh pilihanku. Dia berkata, "Setter itu jantung tim, Tooru. Tanpa setter, tidak ada spiker sehebat apa pun yang bisa bersinar. Jika itu jalanmu, aku percaya kau bisa melakukannya."
Dukungan kakakku membuatku semakin yakin.
...
Ketika keluarga kami pindah ke kota baru karena pekerjaan orang tua, aku masuk ke Kurohane High School. Sekolah itu memanglah bukan sekolah unggulan olahraga, tidak terkenal seperti sekolah besar lain yang sering masuk ke turnamen nasional. Tapi justru itu yang menarik bagiku.
Aku ingin memulai dari dasar. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa tumbuh bukan hanya karena nama besar kakakku, tapi karena usahaku sendiri. Ya... Senang rasanya melihat wajah kesal kakakku ketika aku menolak rekomendasi SMA yang dipilihkannya.
Hari pertamaku di Kurohane terasa biasa. Perkenalan diri, berusaha ramah dengan teman-teman sekelas, dan tentu saja bisikan-bisikan kecil ketika seseorang mengetahui aku adalah adik Sakagi.
"Eh, Minazuki? Jangan-jangan... Minazuki Sakagi? Itu kakakmu?" tanya salah satu teman kelasku saat jam istirahat berlangsung. Aku hanya bisa tersenyum kecil. "Iya. Itu kakakku." Jawabku santai.
Mereka semua terlihat kagum. Tapi di dalam hatiku, aku tidak ingin hanya dikenal sebagai "Adik dari pemain profesional Sakagi." Aku ingin mereka melihatku sebagai Tooru, setter Kurohane High di masa depan.
Sore harinya, aku memberanikan diri menuju gym. Berdiri di depan pintu besi yang berderit ketika kubuka, dan bau khas lapangan langsung menyambutku, bau keringat, dan bola voli. Aku berdiri di sana sejenak, menatap net yang membentang.
"Jadi... inilah tempatnya," gumamku pelan.
Suara bola menghantam lantai memecah lamunanku. "Hey! Kau anak baru, ya?" panggil seseorang menarik perhatianku, ternyata aku tidak sendirian.
Aku menoleh. Seorang siswa dengan seragam olahraga sedang berdiri sambil memegang bola. Rambutnya berantakan karena keringat, matanya tajam penuh semangat, dan senyumnya... entah kenapa membuatku langsung merasa tertantang.
"Ah, iya. Aku Minazuki Tooru. Aku mau gabung dengan klub voli." kataku pada siswa tanpa nama itu. Aku dapat melihat matanya yang membulat untuk sejenak dan gestur badannya yang kaku seolah-olah tersentak untuk sesaat.
"Minazuki...? Tunggu, apakah kau adik dari atlet profesional Sakagi?!" sontak siswa itu bertanya dengan nada tergesa-gesa, aku diam sejenak untuk melihatnya berjalan mendekat mengabaikan deru napasnya yang terengah-engah.
Aku tersenyum, kali ini tanpa merasa terbebani. "Benar. Dia kakakku. Tapi aku di sini bukan sebagai bayangannya. Aku di sini sebagai diriku sendiri." kataku percaya diri.
Anak itu menatapku lama, lalu tertawa kecil. "Hah, menarik! Kalau begitu, aku ingin lihat kemampuanmu." tantangnya memberiku sebuah seringai yang entah bagaimana membuat indraku terbakar penuh dengan rasa antusias.
Dia berjalan semakin dekat dan mengulurkan tangan.
"Namaku Izumi Yuu. Posisi wing spiker. Aku sama sepertimu siswa tahun pertama dan baru bergabung dengan tim satu minggu yang lalu. Mulai sekarang... kita jadi rekan setim."
Aku menyambut uluran tangannya. Genggamannya kuat, seakan penuh keyakinan. Saat itu aku tahu dia bukan orang yang mudah menyerah.
"Aku seorang setter," kataku mantap. "Kalau aku memberimu umpan, jangan sia-siakan." lanjutku balas menyeringai.
"Dan kalau umpannya buruk, aku tidak akan segan bilang," balas Yuu memperlebar seringainya.
Kami tertawa kecil. Entah kenapa, aku merasa cocok dengannya. Seolah aku sudah menemukan seseorang yang akan menjadi partner pentingku di lapangan.
Aku menatap net sekali lagi. Di sinilah semuanya akan dimulai.
Aku bukan hanya adik dari Minazuki Sakagi. Aku adalah Minazuki Tooru, setter Kurohane High.
Dan dengan rekan-rekan baruku, aku akan mengepakkan sayapku.
Mungkin aku masih seekor swift yang rapuh... tapi aku yakin, suatu hari nanti, aku akan terbang menembus langit yang lebih tinggi dari siapa pun.
"Tunggu aku, nii-san."
.
Catatan:
Semoga kalian menyukainya ⭐
ESTÁS LEYENDO
To Fly High, or to Shatter in Descent
Ficción GeneralMinazuki Tooru, seorang murid SMA biasa, memiliki mimpi besar untuk mengikuti jejak kakaknya yang sudah lebih dulu menjadi atlet voli profesional. Saat pindah ke Kurohane High, ia memutuskan untuk bergabung dengan klub voli sekolah itu. Dengan tekad...
