One

26 2 0
                                        

Suasana mencekam memenuhi ruangan, tak ada suara, hanya kesunyian yang ada. Ruangan itu kedap suara, tak memungkinkan orang orang mendengarkan suara-suara yang bergemuruh dari ruangan ini. Kedua orang berada di ruangan itu, tak ada kata, hanya perang dingin yang di lalui ... Hening, namun membuat suasana tegang ...

"Mulai hari ini, saya terima kamu di perusahaan saya. Tidak ada penolakan, untuk gaji saya akan menambah lebih banyak!"

Deg

Perasaan kesal dan was-was bercampur aduk menjadi satu. Alea menegakkan kepala, membalasnya dengan tatapan tajam. Tak ada yang bisa Alea lakukan, perasaannya berapi-api dibalut ketenangan. Alea ingin marah, tapi berusaha tegas dan dingin.

Dia bangkit dari kursi nya, memakai setelan jas rapi. Dengan aroma parfum semerbak, Menghampiri dengan langkah santai namun dingin layaknya atasan. Dia mendekatkan tubuhnya kepada Lea, hanya beberapa sentimeter, Alea bisa mendengar napas berat nya.

"Cukup lakukan saja perintah ku, maka aku tak akan menggangu mu. Mulai sekarang kau akan jadi sekretaris ku"  bisik nya pelan.

Senyumnya menyeringai, seolah puas Alea berada di penderitaan. Lalu perlahan dia pergi dari ruangan, tetapi aroma parfumnya nya masih menyebar ...

Alea diterima karena suatu alasan, cukup susah bekerja disini. Hanya orang kaum elite yang bekerja disini, namun Alea hanyalah orang biasa. Sekedar membayar hutang dari—orang tua nya dulu, Dan dialah yang menerima Alea disini. Dengan membuat persetujuan, menjadi sekretaris pendamping nya ...

Lee Heeseung namanya cukup tersebar dimana-mana, banyak yang mengenalnya. Selalu berpenampilan tegas serta ramah, namun dibalik itu dia hanya sekedar memasang muka dibalik raut wajah dinginnnya.

Sialnya, dia juga mantan Alea di masa sekolah menengah atas. Menyebalkan, tapi Alea terpaksa karena hutang orang tuanya yang belum lunas. Alea mendengus kesal, pergi dari ruangan dengan perasaan berapi-api karena emosi

*********

Malam menjadi sunyi di perkantoran, tapi tidak dengan aktivitas kota yang tiada—hentinya. Bintang-bintang menyinari langit malam, seolah menemani sudut kota yang ramai. Alea duduk di sebuah kursi putar, merebahkan tubuhnya yang terasa kaku.

" Capek banget jadi sekretaris, gara-gara atasan gak tahu diri itu gue jadi gini ..." batinnya mengeluh kesal.

Pekerjaan nya belum selesai, yang menjadikan Alea lembur hari ini. Matanya sudah mulai lelah, tapi Alea tetap melihat sudut komputer. Ia mengetik sebuah laporan hanya dengan satu tangan.

Sesekali Alea melihat jam di ponselnya, jam menujukkan hampir setengah dua belas. Mengingat keadaan rumah tak ada orang, Alea bergegas membereskan barang-barangnya dan berkas-berkas bisnis. Alea bangkit dari kursinya, dan mengotak-atik ponselnya, Berharap malam ini masih ada transportasi umum. Namun nihil.

Alea terpaksa menunggu di halte, berharap masih ada yang bisa menjemput nya pulang. Namun harapan itu seketika lupus, tak ada satu pun kendaraan yang bisa menjemput nya pulang malam ini. Alea mulai was-was, mulai berdecak kesal. Tapi suara klakson mobil mengagetkan nya, seketika Alea memandang penasaran ...

" Kayak mobilnya sajangnim, atau bukan ya?.." batin Alea penasaran.

Jendela mobil terbuka dengan sendirinya, menampilkan sosok laki-laki yang tak lain ialah Lee Heeseung. Atasan baru Alea yang menerimanya di perusahaan ...

" Cepat masuk, atau saya tinggal" ucapnya lantang.

Alea sempat mematung sebentar, tapi perlahan ia masuk pintu mobil tanpa persetujuan dari Heeseung. Alea Memasuki di bagian kursi tengah, Alea diliputi rasa heran, bagaimana bisa sajangnim belum pulang? ...

Mobil dikendarai dengan kecepatan sedang, Alea bisa melihat sudut wajah nya dari kaca. Memperlihatkan wajahnya, matanya yang tajam seperti bersulut api, tapi tenang.

"Sajangnim, rumah saya ada di blok—"

"Saya sudah tahu"jawabnya dingin.

Mata Alea membelalak terkejut, tapi Lea tak melanjutkan, Lea hanya diam tak berkutik.

Alea memandangi langit-langit kota di jendela mobil, malam masih terlihat terang dengan adanya lampu-lampu dari gedung pencakar langit. Alea terlalu lama melamun, membuatnya tak sadar mobil sudah berhenti tepat di rumahnya ...

Heeseung membalikkan badan nya, menghadap ke belakang, mengetahui Alea masih tak sadar sudah sampai di rumah.

" Turun, kita sudah berada di rumah mu".

Alea sontak membuyarkan lamunannya, dia hendak membuka pintu mobil. Tapi heeseung membukakan terlebih dahulu, Alea sempat terdiam, tapi perlahan ia turun dari mobil.

Heeseung perlahan masuk ke dalam mobil lagi, Alea melihat punggung nya yang mulai masuk kedalam. Dan tiba-tiba jendela mobil terbuka, memperlihat sosok heeseung yang menatap Alea "Jangan sampai besok terlambat, atau saya tambah lagi pekerjaan kamu".

Heeseung sempat tersenyum tipis, lalu ia melambaikan tangannya sekilas, mengucapkan selamat tinggal pada Alea. Alea yang memandangi itu hanya menggerutu tak jelas, sebab kesal dengan ucapannya tadi.

Tapi Alea bersyukur masih bisa diterima di perusahaan olehnya ... Dari pada ia tak bekerja sama sekali, tapi sungguh ia kesal dengan bosnya itu. Tegas, jarang tersenyum, tapi menyebalkan. Bagaimana bisa orang-orang menganggapnya pria yang dingin dan berwibawa?

Pikiran itu pun cepat hilang dari Alea, lalu Alea mulai berbaring di atas kasurnya yang empuk itu. Dia mulai terlelap di alam mimpi, hari ini tak buruk bagi Alea, meski harus pulang bersama dengan Heeseung tadi ...

********

"Drrtt—Sajangnim, saya sudah melunaskan semuanya. Kecuali identitas, kami belum menemukan informasi sama sekali ..."

"Bagus, Cari identitas nya yang lengkap!"

"Baik Sajangnim—drrtt"

Telepon diakhiri, memperlihatkan sosok pria duduk di sebuah kursi. Memandangi foto identitas wajah yang selama ini ia cari ...

Be continued ...

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 22, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Under Your Pressure Where stories live. Discover now