Wira menopang dagu di atas meja, menatap malas pada sekelompok siswa yang sibuk dengan game di ponsel mereka. Jam telah menunjukkan pukul 12.10, tapi belum ada yang terlihat ingin meninggalkan kelas satu pun. Sebagian masih ada yang mencatat materi, dan sebagian lagi tengah asyik bercengkerama.
Cuaca terik di luar kelas, sepertinya menjadi alasan mengapa tak seorang pun yang inisiatif keluar dan menjelajahi sekolah seperti biasa. Tapi, sejak sekolah ini selesai direnovasi dan tiap kelas dipasangi AC, murid-murid memang tiba-tiba menjadi betah mendekam di kelas daripada berkeliaran di luar. Bahkan, manusia aktif bersosialisasi semacam Erwin saja sudah mengurangi intensitas jelajahnya di berbagai sudut sekolah. Saat ini pun, ia tak terlihat tanda-tanda akan meninggalkan kelas, dan memilih mengambil posisi nyaman di pojok ruangan untuk berbaring santai.
Di antara suara obrolan dan denting notifikasi ponsel, Wira teralihkan oleh suara Wawan dan Irsyad yang sedang asyik tertawa sambil memainkan game RPG di laptop mereka. Suara klik tetikus dari jari-jari yang sibuk menekan, suara dari dalam laptop, teriakan saling mengejek, bahkan ekspresi frustrasi karena kalah... mereka begitu larut dalam permainan yang tak pernah coba Wira mainkan.
Meski terlihat menyenangkan, Wira tak pernah benar-benar tertarik untuk melakukan kegiatan yang dilakukan temannya ini. Melihat betapa santainya mereka di tengah-tengah keyakinan ingin menjadi apa di masa depan, membuat Wira sedikit merasa iri.
Ia bertanya-tanya, apa tidak pernah ada kekhawatiran dalam kepala mereka? Tentang apa yang akan terjadi nanti, dan fakta bahwa waktu yang terus bergulir tak bisa diulang lagi? Atau, mungkin mereka memang sudah berdamai dengan ketidakpastian? Sehingga bisa tertawa lepas dan bersenang-senang sekenanya. Apakah itu artinya mereka sudah selesai dengan beban-beban yang bahkan belum bisa Wira pahami?
Lalu, ia menoleh ke pojok kelas, tempat Erwin telah mengamankan posisi nyaman. Ia tengah rebahan dengan kedua tangan menutupi wajah. Entah sedang tidur atau sekadar menutup mata saja. Wira tak yakin. Tapi, entah kenapa, pemandangan itu justru menambah perasaan janggal dalam dirinya. Di matanya, Erwin itu selalu santai, bahkan terkesan apatis pada semua hal yang berkaitan dengan apa pun, bahkan untuk masa mendatang.
"Nanti juga ketemu jalannya," ucapnya suatu waktu, yang membuat Wira semakin dipenuhi oleh berbagai pemikiran. Erwin, yang walau terlihat masa bodoh, bagi Wira, justru adalah orang yang paling mengenali bakat dan seakan sudah tahu dia akan jadi apa.
Sosok yang membuat Wira benar-benar merasa cemburu. Tipe yang seperti Erwin ini, selalu membuat Wira merasa rendah diri dan tak percaya diri.
Di usia Wira yang bahkan belum genap tujuh belas tahun, ia mulai merasa waktu menekannya dari segala sisi. Ia tahu hidup bukan perlombaan, tapi semua orang sudah mulai melangkah—sementara ia masih menimbang-nimbang harus ke mana dan melakukan apa. Teman-temannya sudah membicarakan arah, passion, bahkan visi-misi. Sedangkan dirinya masih memikirkan berapa banyak piring yang harus dicuci nanti sore atau berapa uang kembalian yang harus disiapkan untuk pembeli di warung.
Wira menggenggam pensil di tangannya erat-erat, seolah berharap alat tulis itu bisa membantunya menggambar ulang masa depan yang terasa tak terarah. Tapi, yang terbentuk hanyalah coretan abstrak tanpa makna. Ia seperti berkata, bahwa masa depanmu seabstrak coretan ini.
Menghembuskan napas kasar, Wira menyenderkan badan dengan rileks ke sandaran kursi. Pikirannya, benar-benar penuh hari ini.
***
