Prolog

164 4 1
                                        

Waktu.

Bagi sebagian orang, waktu hanyalah angka yang berdetak, menit yang terurai, atau kalender yang berganti. Rangkaian pagi, siang, dan malam yang berjalan dalam siklus monoton yang tak pernah berhenti. Mereka mengisinya dengan pekerjaan, tawa, keluhan, dan mimpi, tanpa pernah benar-benar menyadari esensinya yang kejam.

Tapi bagiku? Waktu adalah pengkhianat paling halus, sekaligus saksi paling setia.

Ia tidak pernah menoleh ke belakang, tidak peduli seberapa keras kau berteriak memohonnya untuk berhenti, atau seberapa deras air mata jatuh membasahi tanah yang kering. Ia tidak memiliki belas kasihan, tidak mengenal kompromi. Ia hanya berjalan, tenang, pelan, tapi pasti—mengikis kenangan, merenggut kebahagiaan, menghapus jejak kehidupan seolah tak pernah ada. Ia adalah sungai yang arusnya tak bisa kau lawan; kau hanya bisa pasrah terbawa hingga ke muara kehampaan.

Namaku Aldo.

Dan aku pernah menjadi lelaki yang terlalu naif, terlalu sombong, terlalu yakin bahwa cinta bisa menyelamatkan segalanya. Aku percaya bahwa dengan cukup usaha, cukup pengorbanan, dan cukup doa yang kupanjatkan di sepertiga malam, hidup akan memberiku keajaiban yang kuminta. Aku pikir aku bisa membangun benteng dari cinta kami, sebuah benteng yang cukup kuat untuk menahan badai apa pun yang dilemparkan takdir.

Nyatanya, hidup memberiku pelajaran paling pahit. Hidup memberiku kematian.

Bukan kematianku sendiri, tapi sesuatu yang jauh lebih buruk. Sesuatu yang merobek jiwaku hingga tak bersisa. Ia memberiku nisan yang dingin dengan ukiran nama yang paling kucintai. Nisan itu terasa seperti es di ujung jariku setiap kali aku mengunjunginya, sebuah pengingat abadi akan kehangatan yang telah hilang. Dan takdir? Ia hanya menatapku diam, seolah mengejek, saat wanita yang kucintai—Ashel, istriku, jiwaku, napaskudilumat waktu, dicabut nyawanya dengan brutal, sebelum aku sempat mengatakan satu hal terakhir yang paling penting: "Jangan pergi."

Satu kalimat yang tersangkut di tenggorokanku, tercekik oleh isak tangis dan kepanikan, saat monitor di samping ranjangnya menunjukkan garis lurus yang mematikan.

Sejak hari itu, waktu tak lagi netral bagiku. Ia menjadi musuh bebuyutanku. Setiap detik yang berlalu adalah siksaan. Detak jarum jam di dinding terdengar seperti gema tawa iblis di telingaku. Setiap pagi terasa seperti pengulangan dari neraka yang sama: membuka mata di ranjang yang terasa terlalu luas dan terlalu dingin, menyadari ia tak ada di sisiku, dan kekosongan itu menghantamku seperti ombak raksasa.

Dan setiap malam, dalam kesunyian yang memekakkan telinga, aku bertanya-tanya pada langit-langit kamar yang bisu. Apa yang akan terjadi jika aku bisa kembali? Apa yang akan berubah jika aku punya satu kesempatan saja untuk mengulur waktu, menyelip di antara detiknya, menembus keretakannya yang mustahil, dan kembali ke hari di mana semuanya masih utuh? Kembali ke pagi di mana tawanya masih menjadi melodi pengantar hariku.

Dan mungkin—entah karena dendamku pada waktu terlalu dalam atau karena semesta akhirnya merasa kasihan pada jiwa yang remuk ini—waktu akhirnya menjawab.

Bukan dengan suara, tapi dengan pilihan. Pilihan yang datang di saat paling akhir.

Ketika aku berada di batas napas terakhirku, dalam sunyi ruang ICU yang menyekap dan berbau desinfektan, tubuhku telah menyerah. Penyakit yang menggerogotiku setelah kepergiannya akhirnya menang. Mesin ventilator yang berdetak di sampingku bukan hanya menghitung denyut jantungku yang semakin melemah—tapi dalam pandanganku yang mengabur, setiap bunyi 'bip' itu seperti palu yang memecahkan kaca realitas. Ia membuka celah.

Celah kecil. Retakan tipis pada dinding waktu. Retakan yang memancarkan cahaya aneh, yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang siap kehilangan segalanya... atau oleh mereka yang memang telah kehilangan segalanya.

penawar waktu (delshel)Stories to obsess over. Discover now