Aktualizovali jsme naše Pokyny k obsahu.
Projděte si nejnovější pokyny, abyste mohli bezpečně sdílet příběhy.

Prolog

115 13 0
                                        

Hujan membasahi bumi diiringi gelegar petir saling menyambar.

Adeline berjalan terseok menuju rumah kedua orang tuanya, dengan baju yang sudah tidak berbentuk.

Kejadian tragis yang menimpanya satu jam lalu, masih terngiang dan membekas. Di mana sosok tubuh kekar dan tangan yang kuat telah mencampakkannya ke dalam lembah nestapa.

Dellynn dipaksa dan digagahi oleh seorang teman laki-laki sekelasnya yang sudah lama menyukainya. Naasnya, malam perpisahan tadi, merupakan malam petaka bagi Dellynn.

"Ahhhhh."

Jeritan itu berkali-kali dilepaskan dari bibir Dellynn. Akan tetapi lelaki yang menghujamnya berkali-kali itu, tidak peduli sama sekali. Dia menyeringai dan bangkit, setelah melesakkan sebuah hasrat bejat yang membuatnya bagaikan melayang di awang-awang.

Tangisan itu turun seiring air hujan yang semakin deras menimpa tubuhnya. Tiba di depan sebuah rumah sederhana, tubuh Dellynn yang ringkih dan perih jatuh pingsan tidak sadarkan diri.

"Ke mana anak itu, jam segini belum pulang. Bukankah teman-temannya sudah kembali ke rumah dari acara perpisahan itu?" Seorang lelaki paruh baya dari dalam rumah terlihat gelisah dan berbicara di depan anak perempuan dan istrinya, sepertinya dia tengah mengkhawatirkan keadaan salah satu anggota keluarganya yang belum kembali ke rumah.

Lelaki paruh baya yang ngomel tadi, Gracio, bergegas menuju pintu depan rumah dan perlahan membukanya. Baru saja beberapa senti pintu itu bercelah, hembusan angin langsung masuk.

Hujan yang semakin deras di luar, membuat beberapa penghuni rumah enggan untuk membuka pintu, termasuk Gracio. Yang kini tengah gelisah menantikan kepulangan anak perempuan pertamanya dari acara perpisahan sekolah. Namun ia terpaksa membuka pintu rumahnya dengan kasar, untuk menantikan kepulangan sang anak, meski hembusan angin semakin kencang masuk ke dalam rumah.

Sementara di belakangnya, Shania dan Jemima, anak kedua dari pasangan suami istri itu, mengekori Gracio. Mereka berdua berdiri di belakang Gracio menatap derasnya hujan yang disertai kilat menyambar melalui celah tubuh Gracio. Saat bersamaan, ketika kilat itu kembali menyambar, Gracio terkesiap melihat sebuah bayangan terbujur di bawah tangga rumahnya.

"Apa itu, seperti bayangan Dellynn?" pekiknya heran seraya melangkahkan kakinya ke teras dan menuruni tangga rumah panggungnya itu. Matanya tertuju pada bayangan yang tadi sempat terlihat dengan jelas saat kilat menyambar.
"Blug, blug, blug."

Hentakan kaki telanjang menyentuh tangga kayu menimbulkan suara yang gaduh. Shania dan Jemima kommelangkahkan kakinya menapaki teras dan menurunkan sedikit tubuhnya diikuti kedua matanya ikut bergulir ke bawah tangga.

"Dellynn. Kenapa dengan Dellynn?" kejutnya sembari menuruni tangga dan menghampiri suaminya yang kini sedang berusaha mengangkat tubuh Dellynn, lalu dibawanya ke atas. Terpaan air hujan yang deras mengenai tubuh Gracio yang kini basah kuyup. Shania mengikuti suaminya dari belakang dengan tanya di dada yang belum ada jawaban.

"Mbak Dellynn, kenapa dengan Mbak Dellynn?" Pertanyaan heran itu keluar dari bibir Jemima seraya mengikuti kedua orang tuanya yang kini memasuki rumah, dengan sudut mata mulai berembun.

Shania menutup kembali pintu rumah, lalu menguncinya rapat-rapat. Gracio kini membaringkan tubuh Dellynn di atas tikar yang selalu terbentang di ruang tengah.

"Kenapa dengan Dellynn, Pak? Pulang-pulang seperti ini?" Shania terlihat panik dan gelisah.

"Ambilkan air kompres, air teh hangat serta minyak kayu bodas untuk merangsang penciumannya," suruh Gracio gusar, tanpa memberi jawaban.

"Jemima, ambilkan handuk untuk menutupi tubuh kakakmu," titah Gracio pada Jemima yang panik dan bengong. Jemima tidak paham dengan keadaan kakaknya yang sudah dalam keadaan menyedihkan.

Tanpa menyahut, Jemima bergegas mengambil handuk di kamarnya dan memberikannya pada Gracio.

"Ini Pak, kompresnya." Shania memberikan kompres beserta benda lain yang diminta Gracio tadi, disusul Jemima menyodorkan handuk.

"Kompres seluruh permukaan tubuhnya yang terbuka, lalu keringkan dengan handuk dan tutupi," titahnya lagi seraya meraih minyak kayu wangi lalu diletakkan di dekat hidung Dellynn, berharap bisa terendus dan Dellynn bangun.

Shania sigap, sementara Jemima masih berdiri panik menatap sang kakak setelah memberikan handuk tadi. Bagaimana tidak, Dellynn yang sejak tadi pagi pergi dan pamit untuk menghadiri acara perpisahan sekolahnya, kini pulang dengan tubuh berubah bentuk.

Bajunya kotor berlumpur dan sebagian ada yang sobek, memancing tanya dalam benak masing-masing ketiga manusia di dalam rumah panggung itu.

Satu jam kemudian, Dellynn sadar dari pingsan. Di sinilah dimulai perubahan hidupnya yang baru.

Skip

Sebulan berlalu setelah kejadian di malam petaka yang masih misteri bagi keluarga Dellynn itu, kini Dellynn sering mengurung diri di kamar.

Setiap kali ditanya tentang apa yang terjadi di malam itu, Dellynn sama sekali tidak menjawab, dia justru terlihat takut dan berteriak.

Gracio dan Shania berputus asa, lalu membiarkan Dellynn tenang dengan tidak menginterogasinya lagi.

Gracio menunggu waktu yang tepat di mana Dellynn bisa tenang dan mampu menjawab saat ditanya.

Keadaan Dellynn seperti itu, mengundang rasa khawatir kedua orang tua dan adik Dellynn, terlebih saat ini tubuh Dellynn demam, wajahnya pucat dan muntah-muntah.

Gracio dan Shania menduga, Dellynn masuk angin. Lalu mereka berinisiatif membawa Dellynn ke puskesmas.

Tiba di puskesmas dan mendapat giliran diperiksa. Dellynn yang diperiksa dan ditanyai apa keluhannya oleh Dokter Hani, hanya diam saja tanpa menjawab.

Tatapan Dellynn yang kosong, membuat Dokter Hani yang memeriksa, memutuskan memeriksa Dellynn tanpa bertanya.

Dengan feeling dan keahliannya sebagai dokter, akhirnya Dokter Hani menemukan biang masalah dalam diri Dellynn.

"Sepertinya anak Mengalami gangguan secara psikis. Apakah anak Ipernah mengalami sesuatu hal yang mengakibatkan trauma?" Shania menggeleng mendapat pertanyaan seperti itu.

"Saya hanya bisa menyimpulkan berdasarkan hasil pemeriksaan saya barusan. Usahakan bawa anak ke psikiater atau bisa juga dibawa ke tempat yang membuat pikirannya tenang.

Sepertinya trauma yang dirasakan anak trauma ringan, jadi masih bisa disembuhkan dengan keadaan lingkungan yang tenang dan damai," terang Dokter Hani menatap Shania yang risau.

"Baik, Dok," Shania menyahut.

"Terlebih kondisi anak saat ini sedang hamil, jadi cara yang tepat dan bagus untuk kondisi psikisnya supaya lebih baik adalah seperti yang saya anjurkan tadi," lanjut Dokter Hani membuat Shania terkesima tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

Shania keluar dari ruang pemeriksaan, lalu menghampiri Gracio dengan lunglai seraya menuntun lengan Dellynn. Tiba di rumah, Shania bercerita pada suaminya tentang semua yang disampaikan Dokter Hani tadi di ruang pemeriksaan.

"Hamil? Anak kita hamil?" kejutnya sampai terdengar oleh Jemima yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan kedua orang tuanya saat dia melewati kamarnya menuju dapur.

Bagaimana kisah Dellynn setelah mengetahui dirinya hamil?
Yuk, nantikan kelanjutannya…




Haiii~ ini cerita baru aku!
Semoga kalian betah bacanya dan suka sama ceritanya 🤍
Jangan lupa vote yaa kalau suka, dan komen juga—aku seneng banget bacain komentar kalian hehe 🥹✨
Makasih banyak sudah mampir dan nemenin ceritaku 💕

After the RainPříběhy, které tě pohltí. Začni objevovat