Prologue - Terang yang Tak Bisa Dijangkau

2 0 0
                                        

Jika kehidupan kedua itu benar adanya, aku ingin meminta kepada Tuhan untuk menjadi awan yang selalu mengikuti sang angin. Setidaknya, sang awan memiliki tujuan dan mereka berguna. Saat manusia dilindungi awan, mereka bersyukur karena cahaya matahari siang yang terik tak akan menjangkau mereka.

Menjadi awan juga berarti kebebasan. Dengan ditemani oleh sang angin, mereka akan berkelana dengan sukacita, tanpa ada yang mengeluh ataupun menghakimi. Tanpa memperdulikan apa pun, hanya ada mereka berdua yaitu sang awan dan sang angin merasa bebas dan bahagia.

Jika kehidupan kedua itu benar adanya.

Jika...

Jika di kehidupan ini aku tidak bahagia, tolong biarkan aku tidak merasakan kesakitan. Setidaknya, biarkan aku tidak merasakan apa pun, hanya hampa dan kosong. Setidaknya, untuk kehidupanku kali ini, aku ingin duduk dalam sunyi yang abadi, tanpa keinginan, tanpa harapan, tanpa tujuan. 

Bernapas, dan tenang.

Aku seorang yang ingin menjadi awan.

Tidak ingin berdoa lagi. Waktuku sudah terhenti di hari itu, hari di mana seseorang yang memberikanku kehidupannya memilih untuk pergi, menyerah dan melepaskan dunia.

Selamanya.

Sejujurnya, tidak ada yang bisa kuingat kecuali kaki yang menggantung, seperti sebuah kain yang terayun mengikuti angin terlihat tidak berdaya dan tak bernyawa. 

Sosok kuat nan menyebalkan itu terbisu selamanya, meninggalkan banyak pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab.

Apakah kau bahagia dengan hidupmu?

Tak ada air mata ataupun suara, dinginnya lantai bahkan tak membuatku tersadar. Kala itu, aku hanya memikirkan satu hal, kenapa?

Apa karena tidak ada yang memberinya pilihan? atau karena tidak ada yang menolongnya ketika dia berteriak seorang diri untuk bisa keluar dari curam kegelisahan?

Tidak ada lagi yang akan memberiku peta.

Ke mana lagi aku harus berjalan seorang diri?

Ibu, arahnya kini berubah. Aku tersesat.

Bahkan segerombol manusia yang disebut "keluarga" itu hanya berteriak dan memaki. Tindakanmu yang berani itu tak diterima di sini, padahal kau melakukannya karena kecewa pada mereka.

Malam itu, di antara banyaknya suara, aku hanya mendengar satu bisikan lirih dan menyakitkan.

"Rua, Ibu egois, ya?"

Aku menatap sosok itu.

Dia yang kusebut kakak.

Tidak ada perasaan istimewa, hanya karena kami pernah satu rahim. Dia yang sebenarnya tak pernah benar-benar kukenal, kini ikut menghujat.

Padahal dia tahu.

Padahal dia melihat semuanya setiap hari.

Tanpa membantu. Tanpa peduli. Tanpa pernah bertanya.

"I do ho, rohamu do sude."

"Tang do mulak i roham tu sian roha nami."

"Marhauma do ho tu pamilya mu."

"Iba do dainang suamim, so adong ma na manjaga ia tu ro."

Suara-suara itu terus berderu, bertabrakan dengan isak tangis yang menggantung di udara. Tangisan yang entah untuk siapa. Di dalam ruangan sepetak itu, semua orang menangis tapi tak satu pun yang benar-benar berduka untuk sosok tak bernyawa itu.

Yang mereka tangisi adalah suami yang ditinggal.

Anak yang akan kehilangan.

Bukan dia.

Bukan orang yang kini terbujur dingin.

Mereka tidak peduli pada hidupnya, mereka hanya peduli pada apa yang ia tinggalkan.

Aku tersenyum kecil.

Ibu, tidak apa-apa.

Ibu, kini dunia tidak menyakitimu lagi... kan?

Jika kehidupan kedua itu benar adanya,

Aku ingin kita berjalan masing-masing jangan sampai bertemu, tak apa tak saling mengenal. Pilihlah kebahagiaanmu sendiri. Kau, aku, dan kehidupan kita ini adalah sebuah malapetaka.

Terima kasih.

Dan selamat malam.

Sosok yang sudah memberikanku kehidupan yang tidak kuinginkan ini. Sosok yang membuatku tersadar, bahwa tanpa dia aku tidak memiliki arah.

Ibu, tidurlah dengan tenang. Kini hidupku benar-benar gelap. Walaupun saat kau ada, hidupku juga tidak bercahaya, namun kau selalu menggenggam tanganku, menuntunku untuk berjalan beriringan dalam gelap.

Kini aku berdiam diri, terperangkap dalam kelamnya hitam, tanpa berniat mengejar cahaya.

Aku lelah.

Menjadi diri yang sia-sia. Seperti kayu reyot yang menunggu menjadi serbuk, termakan oleh waktu, kemudian hilang tersapu angin. Diam, menunggu di balik hitamnya kelam.

Karena kakiku...

...tidak bisa lagi mengejar terang.

Malam itu, ditemani dinginnya udara dan isak tangis, waktuku terhenti. Segalanya membeku dalam dada, dalam waktu, dalam napas. Tak ada yang bergerak, kecuali kenangan yang yang pelan-pelan menyusup seperti luka tanpa suara.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 05, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

LANGKISAUWhere stories live. Discover now