Kini James dan Thomas sudah duduk di meja makan, menunggu keng dan firstone turun, untuk makan malam bersama.
Beberapa menit kemudian, Keng dan Firstone turun setelah membersihkan diri.
Tanpa banyak basa-basi, Keng menarik kursi dan duduk di sebelah James. Ia menatap sang papi dengan serius.
"Pi... apa pun yang terjadi, papi masih punya Keng, Firstone, dan Thomas yang sayang sama papi."
James terdiam sejenak, sedikit terkejut dengan nada bicara Keng yang begitu dalam.
Namun, James hanya tersenyum tipis sambil mengusap kepala putranya. "Kamu kenapa ngomong kayak gitu, hm? Overthinking, ya? Daddy kalian cuma sibuk kerja, sayang."
Keng hanya menatap James beberapa detik, lalu menunduk tanpa berkata apa-apa lagi.
Firstone yang duduk di seberang ikut menatap James, ingin mengatakan sesuatu tapi menahan diri.
Thomas, yang polos, ikut tersenyum ceria. "Iya, papi punya kita semua kok! Kita nggak bakal ninggalin papi."
James tertawa kecil, mengusap kepala Thomas. "Iya, papi tahu. Papi punya anak-anak yang luar biasa."
Keng menatap sang papi miris, lalu ya paksakan untuk tersenyum, walau itu sangat menyesakkan.
Beberapa saat kemudian hidangan mulai disajikan. James terlihat tenang, sibuk menuangkan sup ke mangkuk Thomas.
"Pi, cobain ini. Enak banget," kata Thomas sambil menunjuk lauk kesukaannya.
James tersenyum. "Oke, Sayang."
Firstone mencoba ikut bercakap-cakap ringan agar suasana tidak terlalu canggung. "Besok Pi ada acara, kan? Mau ditemenin nggak?"
James menggeleng pelan. "Nggak usah, First. Kalian fokus kuliah dan sekolah aja."
Sementara itu, Keng hanya makan perlahan, pikirannya jauh. Sesekali ia melirik James, hatinya terasa sesak melihat sang papi yang sama sekali tidak tahu apa-apa.
James memperhatikan Keng yang begitu pendiam. "Keng, kamu yakin nggak ada yang gangguin di kampus? Atau ada masalah?"
Keng mengangkat wajahnya sebentar, lalu menggeleng. "Nggak ada, Pi. Aku cuma... capek aja."
James tersenyum kecil. "Oke, kalau gitu, nanti tidur yang cukup, ya."
Thomas menyela dengan ceria, "Abang Keng jangan sakit ya."
Keng memaksakan senyum kecil dan mengusap kepala adiknya. "Iya, Thom. Abang nggak apa-apa kok."
Namun di balik senyum tipisnya, amarah dan rasa kecewa di dada Keng semakin menumpuk,ia sudah tidak tahu sampai kapan bisa terus berpura-pura seperti ini.
Makan malam telah selesai, James berdiri sambil berkata, "Papi duluan ke ruang kerja ya, ada beberapa email yang harus papi balas."
Thomas mengangguk ceria. "Oke, Pi!"
James pun berjalan pergi, meninggalkan meja makan.
Firstone memandang Keng dengan cemas. "Bang... lo makin nggak bisa tahan, ya?"
Keng bersandar di kursinya, menatap kosong ke arah piringnya. "Gue nggak ngerti gimana papi bisa tetap ketawa gitu... padahal..."
Thomas yang masih di meja tidak terlalu paham, ia sibuk memainkan ponselnya.
Firstone menunduk, berbicara pelan agar Thomas tidak dengar. "Bang, kalau lo sampai marah sekarang... papi yang paling sakit duluan."
Keng mengepalkan tangannya, lalu bangkit dari kursi. "Gue butuh udara. Gue keluar sebentar."
VOUS LISEZ
𝐏𝐞𝐥𝐚𝐧𝐠𝐢 𝐬𝐞𝐭𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐛𝐚𝐝𝐚𝐢
Roman d'amourPernikahan yang sudah berjalan 20 tahun itu kini harus berakhir karena orang ketiga, seorang pria yang kini berusia 40 tahun sahabat dari James yang juga berusia 40 tahun dengan tega merebut Net siraphop yang kini berusia 42 tahun,suami dari sahaba...
