---
Bab 1 : Mengenalmu
Rintik hujan perlahan jatuh membasahi tanah. Para murid SMA Dharma Widya berhamburan, berusaha cepat-cepat pulang sebelum seragam putih abu-abu mereka basah.
Di kelas 10 IPS 4, seorang gadis berambut panjang masih sibuk menulis. Tugasnya belum selesai, dan tangannya bergerak cepat menyalin materi terakhir dari papan tulis.
Wajahnya terlihat panik. Ia benar-benar ingin segera menyelesaikan tugas lalu pulang.
"Yess, akhirnya kelar juga," gumamnya lega.
Ia melirik keluar jendela. Halaman sekolah mulai sepi, hujan turun makin deras. Sambil memegang buku yang baru selesai ditulis, ia termenung sebentar.
“Oh iya, gue harus pulang sebelum hujannya makin deras,” ucapnya dengan datar.
Ia merapikan semua barangnya ke dalam ransel, lalu bangkit dan segera meninggalkan kelas.
---
Sesampainya di gerbang sekolah, langkahnya terhenti. Hujan turun deras, membuatnya harus menunggu.
Ia melirik ke kanan dan kiri. Sepi. Teman-temannya sudah lebih dulu pulang. Biasanya ia nebeng pulang bareng temannya yang bawa motor, tapi kali ini temannya buru-buru pulang karena ada acara keluarga.
Ia membuka ponsel dan mulai scroll kontak. Tangannya tiba-tiba berhenti saat melihat nama “Papah.”
Ia diam. Matanya menatap nama itu lama, dan raut wajahnya mendadak murung. Tak ada senyum, hanya tatapan kosong ke arah hujan. Sunyi. Hanya ia dan rintik hujan yang makin beringas.
Ia menarik napas panjang, lalu menunduk dan menutup mata sebentar.
Tak lama kemudian, ia membuka mata, menulis pesan ke mamahnya.
Ayara: assalamualaikum
Ayara: mah, aku izin pake uang spp dulu boleh ya
Ayara: aku udah gaada uang buat ongkos, disini hujannya deras banget…
(Ceklis satu.)
Ia menatap layar. Tak ada balasan. Mamahnya mungkin sedang sibuk. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.35 dan badannya mulai menggigil.
Saat hendak memesan grab, suara tiba-tiba terdengar dari belakang.
"Lo ngapain masih di sini? Udah sore, tahu?"
Ayara reflek menoleh dan mendapati seorang cowok berdiri di belakangnya.
"Astagfirullah, gue kira setan!" katanya spontan.
Cowok itu menaikkan sebelah alis, “Sialan, gue bukan setan. Sekali lagi, lo ngapain di sini?"
“Baru aja mau pulang. Dari tadi nunggu hujan, kagak reda-reda,” jawab Ayara, datar.
"Lo sendiri ngapain?"
“Tadi ketiduran di kelas.”
“Emang lo dijemput?”
“Enggak, gue mau pesen grab.”
"Yaudah bareng gue aja. Gue bawa mobil, lagian udah sore, sayang lo nunggu basah-basahan."
---
Batin Ayara:
(Ih baik amat... padahal belum kenal. Apa modus? Ah bodo amat, yang penting gratis.)
Ayara hanya diam melamun.
“Woy,” suara cowok itu menyentaknya.
“Eh, sorry, tadi ngelamun.”
"Jadi nggak nih? Atau gue tinggal?"
Cowok itu mulai melangkah, tapi sebelum benar-benar pergi, tangan Ayara spontan menahan lengan bajunya.
“Jadi kok. Tapi nggak ngerepotin?”
“Gak lah. Sekalian jalan-jalan.”
Mereka pun jalan ke parkiran. Cowok itu lari kecil menghindari cipratan air. Ayara mengikuti sambil menutupi kepala pakai tas.
---
Di dalam mobil, sunyi. Hanya suara hujan yang terdengar. Ayara melirik ke luar jendela, lalu mencuri pandang ke cowok itu.
"Eh, makasih ya... udah nganterin gue," ucapnya pelan.
Cowok itu hanya bergumam singkat, fokus menyetir.
Ayara mencoba mencairkan suasana lagi.
“Nama lo siapa? Masa dari tadi gue manggil lo doang.”
“Gue Astara. Panggil aja Asta.”
“Gue Ayara Dhavina. Panggil aja Aya, atau Yara.”
“Hmm.”
Batin Ayara:
(Serius cuma “hmm”?)
“Lo anak kelas mana sih? Kayaknya gue nggak pernah liat lo.”
Asta hanya tertawa kecil.
Batin Ayara:
(Baru ketemu udah ketawa sendiri. Aneh banget.)
Cowok itu mendekat sedikit, membuat Ayara kaget.
"Lo aja kali yang nggak pernah keluar," katanya sambil senyum miring.
“Yaelah, bisa nggak sih jangan deket-deket gitu?” kata Ayara salah tingkah.
Asta kembali tertawa dan menatap jalan lagi.
“Aku anak 10 IPS 4. Lo?”
“10 IPS 1.”
“Wah, satu jurusan, tapi gue nggak pernah liat lo sosialisasi. Jangan-jangan lo tukang bolos?”
“Idih, sorry ya. Mau tahu, cari tahu sendiri,” jawab Asta dengan percaya diri.
“Yee, nyebelin amat,” gumam Ayara pelan.
Sunyi kembali mengisi ruang mobil, namun dalam diam, keduanya perlahan mulai saling mengenal.
---
CZYTASZ
Ayara for Astara
Dla nastolatków--- ini bukan cuma soal cinta-cintaan, tapi juga soal seseorang yang belajar berdamai sama dirinya sendiri. cerita ini tentang Ayara, yang kelihatan kalem tapi ternyata kuatnya bukan main. tentang Astara, yang diam-diam bikin nyaman tanpa banyak ala...
