PROLOG

21 0 0
                                        

Sudah empat tahun sejak hari-hari yang membuatku hampir menyerah. Luka yang dulu kutahu begitu dalam, kini hanya menjadi bekas samar di sudut ingatan. Aku bukan lagi Rania yang dulu-gadis yang terperangkap dalam kontrak dan ketakutan. Sekarang, aku adalah seorang ibu. Dan di genggaman tanganku, ada alasan kenapa aku memilih untuk tetap hidup.

"Abu, permennya jatuh."
Suara mungil itu membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum, menunduk.

"Aduh, sayang... jangan diambil. Kotor. Nanti Abu belikan lagi, ya?"

"Iya. Gendong."

"Gendong lagi? Berat loh! Abu hitung sampai tiga... satu, dua, hup!" Aku mengangkat tubuh kecil itu ke pelukan, mengusap pipinya yang gembil.

"Raka makin berat sekarang. Makannya apa sih, kok Abu sampai ngos-ngosan begini?"
Anak itu terkekeh, pipinya menggembung lucu. Ah, kalau aku bisa memeluknya seumur hidup, aku akan lakukan tanpa ragu. Karena Raka... adalah rumahku sekarang.

Kami berjalan di bawah pohon tabebuya yang bermekaran indah, menebar warna pink lembut di sepanjang jalan. Hembusan angin membawa aroma manis yang menenangkan, sampai suara itu menghentikan langkahku.

"Rania?"

Aku menoleh. Sosok yang berdiri di hadapanku membuat jantungku berdegup pelan. Ka Melvin. Wajah yang dulu hanya kulihat di sisi Angga.

"Kamu apa kabar, Ran?"

"Baik." Senyumku tipis. "Ka Melvin sendiri?"

"Sama. Eh... ini anak kamu?"

"Iya. Namanya Raka." Aku meraih tangan mungil di pelukanku. "Salim dulu ke om Melvin."

"Tidak mau," Raka merengek, menyembunyikan wajahnya di bahuku.
Aku terkekeh kecil. "Dia memang pemalu."

Melvin tersenyum. Tapi sorot matanya berbeda. Ada keterkejutan, ada sesuatu yang seakan ingin ia tanyakan, tapi urung. Sampai akhirnya dia berbisik pelan.

"Ran... dia masih nyari kamu."

Aku terdiam. Aku tahu siapa yang dimaksud. Lelaki itu. Orang yang pernah merobohkan duniaku sekaligus membuatku merasakan cinta yang tak pernah kuminta. Hatiku menegang, tapi bibirku tetap tersenyum.

"Kapan-kapan kita ketemu," ucapku akhirnya.

Dan hari itu datang lebih cepat dari yang kudira.

Di coffee shop ini, aku duduk berhadapan dengannya. Waktu mengubah banyak hal, setidaknya di mata. Tapi rasa? Luka itu
masih sama.

Dia menatapku lama, seakan mencari sesuatu yang hilang.

"Apa kabar, Ran?"

"Baik."

"Bagaimana dengan kamu, Ka Angga?"
Dia menghela napas, senyum miris mengembang di wajah yang dulu begitu dingin.

"Aku..." Ia menunduk, jemarinya mengepal di atas meja. "Buruk tanpamu, Ran."

USAIOù les histoires vivent. Découvrez maintenant