DISCLAIMER : Karya tulis sebagian isi, ide, maupun struktur terinspirasi dari berbagai sumber yang telah ada sebelumnya. Namun, penulis menyatakan bahwa karya ini bukan hasil penyalinan langsung (plagiarisme) dari karya manapun. Semua referensi yang digunakan telah dicantumkan dengan sewajarnya, dan penyesuaian telah dilakukan agar sesuai dengan sudut pandang serta pemahaman penulis sendiri. Jika terdapat kemiripan dengan karya lain, hal tersebut bersifat tidak disengaja dan semata-mata karena keterbatasan dalam kebaruan ide atau tema yang memang bersifat umum.
Karya ini adalah fiksi semata.
Segala nama, tempat, tokoh, maupun peristiwa yang terdapat di dalamnya adalah hasil rekaan penulis. Jika terdapat kesamaan dengan kejadian nyata atau tokoh sebenarnya, itu hanyalah kebetulan semata dan tidak disengaja.
Mataku melirik ruangan yang sekarang aku tempati, tidak seperti orang pada umumnya yang menangis histeris saat kehilangan orang tua untuk selama-lamanya. Aku bahkan menangis saja tidak, tubuhku seakan kaku nafasku seakan sesak rasanya ingin sekali aku berteriak tetapi tidak bisa seperti ada sesuatu yang mengganjal.
Termenung sejenak menatapi baju terakhir yang ibuku gunakan dan jaket yang menutupi tubuh ayah, ruangan yang selalu aku kunjungi saat pulang kerja, kamar orang tuaku. Setelah acara penguburan orang tuaku selesai tadi pagi aku segera mandi dan menuju kamar orang tuaku untuk mengenang, sepertinya aku perlu konsul ke psikologi kenapa aku tidak menangis.
"Halo. Milan, kamu gapapakan?" pekik seseorang dari seberang telepon.
"Iya, Aku gapapa, tapi kayaknya aku pengen jalan-jalan dulu deh Ra," balasku yang baru saja ditinggalkan kedua orang tuaku.
"Kamu yang kuat ya Milan, besok sabtu kita ke pantai ya agak sore habis pulang kerja soalnya minggu kan libur kerja sekalian aja kita nginap ya, kamu jangan sedih aku selalu temenin kamu, btw maaf ya aku ga datang, bosku gamau ngasih izin kalo bukan keluargaku." Jelas Rara Panjang lebar di seberang telepon sana.
"kamu udah baik banget tau, makasih ya Ra. Aku juga lagi minta cuti sehari sama bos jadi kita bisa jalan-jalan sebentar di pantai." Jawabku.
"Iya Milan, aku tutup dulu ya teleponnya nanti malam pulang kerja aku kerumah kamu," balas Rara setelah itu telepon ditutup.
Aku segera keluar dari kamar orang tuaku, sekarang aku anak tunggal. dulu saat aku berusia 17 tahun ibuku pernah melahirkan anak lelaki, yap aku punya adek dan saat adekku lahir ibuku sakit parah nenekku menyarankan agar adek lelakiku di adopsi sementara karena sakit ibuku bisa disebabkan karena ke tidak cocokan antara ibu dan adek, ibuku marah dia gamau dipisahkan dari anaknya dan itu juga kepercayaan orang zaman dulu beda sama sekarang yang sudah tidak percaya mitos mitos. Apalagi saat itu setelah penantian 17 tahun dia baru mendapatakan anak lagi. Akan tetapi ayahku memberikan pengertian dan adekku benar benar diberi ke tetangga neneku.
Entah keajaiban darimana ibuku sembuh setelah 2 bulan ditinggal adikku, karena ikatan batin orang tua dan anak, ibuku ingin bertemu lagi sama anak lelakinya tapi sayang tetangga nenekku dikampung pindah tanpa memberi kabar, itu membuat ibu terpukul bertahun-tahun, hingga sekarang usiaku 22 tahun, ibuku mendapat kabar tentang adikku segera ibu dan ayahku pergi naas mereka tertabrak tanpa mengabariku dimana keberadaan adik, pagi ini ibu dan ayahku dikuburkan.
Aku menyeruput sedikit kopiku saat berada di caffe malam ini bersama Rara, dia menepati janjinya untuk kerumahku. Mungkin dia takut aku bundir.
“kamu kalo mau nangis gapapa banget Milan, jangan dipendam hidup Cuma sekali harus dinikmati pahit manisnya dunia, jangan sampai waktu kamu langsung berhenti, jangan dipendam ” oceh Rara yang menganggap diriku ini depresi.
“Engga Ra, aku juga gatau kenapa gabisa nangis. Aslinya sedih banget tapi gabisa nangis Ra, aku juga gatau kenapa, mana sekarang hidupku udah sendiri lagi. Ga pernah terbayang dihidupku bakal benar-benar sendirian,” curhatku menumpahkan semua yang ada dipikiranku kepada Rara.
“Engga Milan kamu ga sendirian, ada aku, suamimu kelak dan keluarga kecilmu nanti. Bayangin nih kamu bundir sekarang kamu bakal benar-benar sendirian coba kamu tunggu bentar sampai dapat laki-laki yang ganteng, baik, cocok banget buat kamu yang cantik, sexy, manis, ga ada yang kurang,” jelas Rara Panjang.
“Rara aku ga ada niat buat bundir, lagipula kamu menjelaskan tentang aku segitu banget padahal faktanya engga, dasar pembohong huu ” seruku seakan ga percaya sama ucapan Rara yang berlebihan.
“Benar Milan kamu tu cantik banget, body aduhay, mantap semua lah ga bohong. Aku aja iri sama kamu,” ucap Rara yang membuatku terkekeh sedikit.
Rara orangnya memang sedikit berlebihan.
“besok sore jangan lupa ya kita nginap di pantai,” ucap Rara lagi.
“Iya aman, yaudah pulang yuk udah jam 9 ini, lama juga kita duduk disini, kamu juga belum mandi Ra ” ucapku memperimgati karena sudah hampir 2 jam kami disini.
“Iya Milan, awas bundir loh ya, besok kita ke pantai dulu ” balas Rara setelah itu dia pergi dari hadapanku.
Aku berjalan menuju rumahku karena caffenya sangat dekat dengan rumahku, langit malam ini lagi bagus banget ga sesuai sama kejadian yang menimpaku hari ini. Aku menoleh ke hapeku yang daritadi bedering, mungkin dari nenek,akanku telepon balik saat tiba dirumah karena aku masih ingin menyaksikan pemandangan indah ini.
“Halo. Iya, kenapa nek?” Sapaku saat sudah berbaring di kamarku.
“Iya aku baik-baik aja nek,” jawabku lagi saat neneku bertanya tentang kabarku.
“disini baru ada bus 3 hari lagi Milan, jadi nenek gabisa berkunjung sekarang, kamu jangan lupa makan ya, Nenek usahain bakal datang kerumah Milan.” Jelas nenekku diseberang telepon sana, memang neneku tinggal di perkampungan jalannya rusak yang membuat tansportasi jarang berada di kampung neneku.
“Aku juga mau berangkat sama Rara nek, biar ga stres aja, nenek juga jaga kesehatan anak nenek udah ga ada,” balasku.
Setelah percakapan itu, aku menyuruh nenek mengakhiri telepon.
KAMU SEDANG MEMBACA
TERDAMPAR (On-going)
FantasyINI CERITA ADA 21+ YA‼️ Bagaimana ceritanya milanie putri wanita berusia 22 tahun terdampar bersama lelaki asing yang bermulut pedas berusia sekitar 35+ , hilang saat berlibur di pantai dan tiba di pulau entah berantah yang membuat mereka berbohong...
