Cumi Goreng Tepung

52 2 1
                                        

Derap langkah kaki Targi memecahkan setiap genangan air jalanan. Tatapan pria itu fokus memburu mangsa yang berbulan-bulan ia kejar. Tak sedikitpun keraguan tercermin mulai dari helaian rambut basahnya hingga ujung sepatu.

Langkah Targi terhenti sesampainya di ujung jalan sebuah pertigaan. Senyum kecil tersungging di wajahnya kala ia melihat cahaya kendaraan mangsa yang ia kejar. "Takkan ku lepaskan kau kali ini!" bisiknya.

Tujuh jam sebelum pengejaran.

"Targi! Hasil autopsi mayat 93 sudah selesai, nih!" Ucap Lidy memanggil Targi dari meja kerjanya. Targi yang sedang menyeruput segelas hot latte segera beranjak dari kursinya sambil mengacungkan jempol pada Lidy. Dengan langkah cepat, Targi berjalan ke ruang autopsi di lantai bawah melalui tangga darurat.

Klik! Ngiing!

Targi melangkah masuk ke laboratorium autopsi setelah pintu otomatis ruangan itu terbuka. Ia pun disambut oleh kedua rekannya yang sedang mendengarkan penjelasan dari sang ahli bedah mayat. Sepuluh menit berlalu dan sang ahli bedah pun pamit meninggalkan ketiga detektif setelah selesai menyampaikan hasil autopsi.

Hida yang mengenakan kemeja biru muda mendekati kepala mayat korban kasus kali ini dan berkata, "Sederhananya, pelaku merupakan orang yang tahu kebiasaan korban di rumah. Segera kumpulkan data orang orang terdekat korban dan gali informasi dari mereka!" Targi dan Rion mengangguk cepat menanggapi perintah senior mereka. Ketika Rion sudah melangkah keluar laboratorium, Hida menarik lengan Targi.

"Pelaku kasus tiga bulan lalu kemungkinan ada di sekitar rumahmu saat ini. Hati-hati!" peringat Hida pada Targi. Targi menurunkan tangan Hida dan menggenggamnya erat sambil berkata, "Terima kasih perhatiannya, Mbak Senior!" Kemudian Targi pergi mendahului Hida yang lanjut mencari petunjuk lain dari hasil autopsi.

Ketika Targi keluar dari pintu tangga darurat, Rion sedang bersandar tepat disamping pintu. "Enak, yah. Punya pacar senior sendiri, bisa berduaan dulu sebelum investigasi," canda Rion. Targi yang tidak menyangka Rion berada di situ pun tersentak kaget dan reflek memukul pelan lengan atas Rion. Mereka pun berjalan memasuki aula kantor dan membagi tugas pencarian data korban. Rion mencari data terkait orang-orang terdekat korban melalui akses data penduduk di bagian informasi kantor, sementara Targi menyiapkan keperluan lapangan untuk investigasi.

Setengah jam berlalu dan kedua detektif muda itu berangkat menuju alamat-alamat orang terdekat korban yang mereka dapatkan dan telah disusun sesederhana mungkin. Satu persatu alamat mereka kunjungi dan beruntungnya para informan bersikap kooperatif, tentunya dengan dukungan kemampuan sosial masing-masing detektif itu.

Ctak! Pshh! Tuk!

Targi dan Rion menenggak minuman soda kaleng yang mereka beli setelah investigasi panjang sore itu. "Huftt. Pegel juga kalo lagi pengen cepet pulang, ya." Ucap Targi menghela nafas. Rion tersenyum mendengar hal itu lalu bertanya, "Eh, Gi! Pelaku kasus lu yang tiga bulan lalu udah ada petunjuk bakal muncul dimana?" Targi mengangguk pelan sambil membalas, "Iya, Yon. Tadi Kak Hida juga bilang kemungkinan pelaku bakal lewat sekitar perumahan gue beberapa hari ini."

Rion menepuk pelan pundak teman seasramanya dulu itu. "Hati-hati aja, Gi! Sorry gue sama Kak Hida ga bisa bantu nangkap gara-gara masalah penangkapan pertama," ucap Rion pelan. "Gapapa, Yon. Salah gue juga waktu itu ga bisa misahin gengsi sama prioritas kerja. Malah jadi tanggung jawab lu sama Kak Hida," balas Targi.

Kedua detektif muda itu pun saling berpamitan dan masuk ke dalam mobil masing-masing setelah mendapati langit mulai bersedih dengan rintikan hujannya.

Mobil sedan convertible Targi pun berhenti di carport rumahnya. Sedan berwarna navy itu hening beberapa detik sebelum akhirnya Targi keluar dari mobilnya dan tiba-tiba langsung berlari ke jalanan yang basah akibat hujan. Tanpa memedulikan derasnya hujan, Targi berlari sekencangnya menuju ujung pertigaan.

Bukannya tanpa alasan Targi mendadak berlari. Saat ia mematikan mesin sedannya, Hida tiba-tiba mengirim pesan singkat memberitahu bahwa ada gerobak makanan favorit Targi di ujung pertigaan jalan perumahannya.

Kembali ke momen pengejaran

Targi mengatur nafasnya sambil terus tersenyum melihat gerobak makanan bertuliskan "Cumi Goreng Tepung Bang Satre" di kacanya. Saat Targi mulai melangkah, sebuah payung tiba-tiba menaunginya yang ternyata dibawa oleh Hida. Targi menghentikan langkahnya dan hendak memeluk Hida, namun Hida menyentil jakun Targi dan menunjuk kemeja basah yang dikenakan pria berambut coklat itu.

Sepasang kekasih detektif itu pun mendekati gerobak makanan yang kemudian disambut penjual bernama Bang Satre dengan senyuman ramah dan memesan 4 porsi besar untuk menemani kencan mereka malam itu. Setelah mendapatkan pesanan mereka dan selesai membayar, Targi dan Hida pun berjalan beriringan menuju rumah modern minimalis Targi. Mereka pun menikmati malam berhiaskan hujan itu dengan menonton film sebelum akhirnya ditutup dengan adegan romantis.

Sebuah gerobak makanan berjalan pelan melintasi jalan depan rumah Targi dengan tulisan yang sama dengan gerobak sebelumnya. Namun, sang penjual tak menunjukkan sikap kenal akan pemilik rumah yang baru saja membeli dari gerobak yang sama.

****


Satu PersepuluhStories to obsess over. Discover now