"Ah sudahlah hidupku akan selalu berlalu tanpa arah." Seorang pemuda mengacak acak rambutnya dengan wajah penyesalan sambil duduk merunduk di bawah pohon rindang taman belakang kota.
Daun perlahan mengalun tertiup angin,dan tak jarang ada yang berjatuhan. Langit tenang pagi ini membuatnya nyaman untuk menetap di taman itu sekalipun jam tangan nya sudah menunjukkan pukul 06.30.
Hari ini adalah hari pertamanya masuk di bangku SMA. Setelah sekian lama liburan sekolah, akhirnya saat ini,dia bisa kembali menjalankan rutinitas sekolahnya. Alarm di jam tangan nya berbunyi ketika jarum jam menunjukkan pukul 06.45 ,itu tandanya 15 menit lagi sekolah akan dimulai. Dia bersegera beranjak dari duduknya dan mengambil sepedanya. Di tengah keramaian lalu lalang kendaraan kota,dia menerobos dengan sepedanya. Harapannya saat ini, hanya ingin sampai di sekolah sebelum jam 7 tiba. Dia menggayuh sepeda dengan terburu buru sampai nafasnya tersengal-sengal. Sampai akhirnya dia berhasil masuk ke sekolah pada jam 06.54.
" Akhirnya,6 menit lagi." Dia merasa lega,dan segera mencari kelas barunya.
Setelah melihat papan pengumuman tentang pembagian kelas, akhirnya dia bisa menempati kelas 10-F1. Dia masuk ke kelas,dan menyapa teman teman barunya.
" Hai,aku Asha,aku duduk samping kamu ya." Dia menjulurkan tangan sebagai tanda perkenalan kepada seorang laki laki yang duduk di barisan kedua.
" Eh hai,aku Eza,silahkan boleh boleh kok." Jawab Eza sambil mempersilahkannya duduk di tempat itu.
Setelah mendapat posisi duduk,dia mengobrol pertemuan awal dengan teman teman kelas yang lainnya.
"Assalamualaikum" gerombolan perempuan murid di kelas memasuki kelas.
Mereka masuk ke kelas bersama sama dan mulai menempati bangku masing masing. Dia memperhatikan teman teman perempuannya. Sejenak dia memperhatikan,sebelum akhirnya guru masuk ke kelas.
" Assalamualaikum anak anak,silahkan duduk di tempat masing masing." Guru perempuan muda itu tampak bersemangat memulai kelas.
Setelah seluruh siswa di kelas itu duduk,guru tersebut akhirnya menyampaikan penjelasan.
" Baik,selamat datang anak anak, perkenalan saya adalah guru yang akan menemani kelas kalian selama 1 tahun. Nama saya Nur Shifazati. Panggil saja Bu Shifa ,okey bisa diterima?." Bu Shifa ,nama guru tersebut setelah melakukan perkenalan.
" Baik Bu Shifa." Jawab para siswa serempak.
" Okey kalo begitu,hari ini kita akan berkenalan bersama teman satu kelas,pasti kalian belum seluruhnya mengenal kan,nah untuk itu kita berkenalan." Bu Shifa memberi arahan.
" Perkenalan dari Siwa barisan depan ya. Ayo kita mulai, perkenalkan nama,alamat,umur,dan mungkin boleh bercerita hobi." Bu Shifa menjelaskan.
Akhirnya murid murid mulai perkenalan satu per satu. Sampai tiba di gilirannya.
" Hai teman teman semua, perkenalkan aku Ashazeef Huzain Kafeey. Kayaknya susah KLO ditulis namaku, padahal mah dipanggil Asha doang." Perkenalan nya terjeda karena tawa temen temannya pecah. Bu Shifa pun ikut tertawa mendengar penjelasannya.
" Yak temen temen aku Asha,aku anak baik dari perumahan kota Gambir selatan. Aku sekarang gak tua tua banget gak muda juga,masih 16 tahun. Biasanya KLO aku gabut lebih sering bikin rusuh rumput taman sih,entah aku cabutin,entah aku injek injek,atau sekedar lari biar rumputnya layu." Dia kembali membuat seisi kelas tertawa dengan deskripsi yang dijelaskan.
" Itu mah Lo nya yang gabut sha,Asha." Yefi menaggapi bercandaan penjelasannya.
" Sudah sudah,cukup saja perkenalan saya,nanti kalau saya lanjutkan sepertinya Bu Shifa akan semakin garuk garuk kepala." Dia menyindir Bu Shifa yang tertawa sambil menggaruk garuk kepala yang tak terasa gatal. Bu Shifa yang menyadari segera berdiri.
" Okey terimakasih kita beri tepuk tangan untuk perkenalan Asha yang cukup menghibur." Bu Shifa mengawali tepuk tangan yang akhirnya diikuti oleh satu kelas dengan disertai sorak Sorai menambah keramaian.
Perkenalan siswa siswa yang lain berjalan monoton tidak seperti perkenalan nya yang mendapat tanggapan ramai dari satu kelas. Setelah perkenalan selesai,Bu Shifa menjelaskan agenda lanjutan untuk menentukan struktur pengurus kelas.
" Ah sudah Bu,tidak usah banyak berpikir, sepertinya si Asha ini dia cocok jadi ketuanya,ya nggak temen temen?." Si yefi lagi lagi memancing keriuhan di kelas karena sorak Sorai mendukung Asha.
"Eh jangan lah Bu,kenapa mesti saya yang jadi,nanti ada nya hidup saya makin gabut KLO jadi ketua." Aku menolak dengan mantap kata teman teman.
" Oke kalau begitu, karena memang Kalian semua mendukung Asha,jadi kita sepakat ya Asha yang menjadi ketua kelas." Bu Shifa mengambil keputusan dengan segera.
" Sepakat....... " Temna teman bersorak semangat menyetujui keputusan itu.
" Lah lah lah kok bisa secepat itu keputusan nya." Aku heran dengan pengambilan keputusannya.
" Sudahlah Asha,ibu yakin kamu bisa dan sanggup menerima amanah sebagai ketua kelas,okey." Bu Shifa menepuk bahuku.
Aku hanya menghembuskan napas berat. Ingin rasanya dia menolak,tapi teman teman nya sangat berharap kepadanya.
"Ya sudah silahkan asha maju kedepan,kamu sekarang coba yang mengendalikan pemilihan struktur yang lain,ibu mengawasi." Bu Shifa memberi perintah. Akhirnya dengan berta hati dia menyanggupi dan maju untuk mengurus pemilihan struktur.
**
Bel sekolah berbunyi,pertanda jam pelajaran hari pertama sekolah telah selesai. Dia berpamitan pada temn temannya dan segera pulang. Sampai di parkiran dia bingung mengeluarkan sepedanya yang terparkir dan dikelilingi motor motor. Dia kesulitan mengeluarkan sepedanya.
" Ini gimana coba ngeluarin sepeda dari sini." Dia menggaruk garuk kepalanya.
Sampai akhirnya ada seorang perempuan yang juga teman sekelasnya tapi dia tidak begitu ingat nama perempuan itu. Perempuan itu juga terlihat kebingungan melihat sepedanya yang juga terjebak di tengah tengah motor. Akhirnya aku mengambil langkah untuk memindahkan beberapa motor agar bisa menjadi jalan keluar sepeda. Setelah berhasil memindahkan,aku segera mempersilahkan perempuan itu untuk lebih dulu mengambil sepedanya. Baru setelah itu aku mengambil sepedaku.
" Terimakasih Asha,aku pulang dulu." Perempuan itu mengucapkan balasan atas bantuannya sambil langsung berlalu pergi menggayuh sepeda.
" Eh ya." Dia memperhatikan ke arah kepergian perempuan itu, karena dia belum sempat mengingat nama perempuan itu. Setelah perempuan itu tidak terlihat lagi,dia baru beranjak pergi meninggalkan sekolah.
YOU ARE READING
AshaEira
Teen FictionPerjalanan asmara seorang pemuda berjiwa tenang. Pemuda kritis berdarah kota yang suka mencari wawasan baru. Sampai pertemuan nya dengan seorang gadis sederhana bermata teduh. Perempuan yang berdarah pedalaman desa,tapi berhasil membuat pemuda itu m...
