Pagi di jogja selalu membawa ketenangan. Matahari hangat menyapa, angin lembut berhembus di antara jalan-jalan kecil kota ini. Di sebuah sudut sederhana, berdiri sebuah toko bunga kecil bernama Toko Bunga Bu Yuni. Tulip, mawar, melati - semuanya tersusun rapi, harum wanginya menyatu dengan udara pagi.
Keysha Nadhira, gadis 19 tahun berpakaian syar'i, tengah merapikan bunga-bunga itu. Tangannya cekatan, sementara hatinya tak henti mengucap syukur atas rezeki yang Allah titipkan lewat usaha kecil ibunya.
"Selamat pagi, Ibu," ucapnya lembut, menatap sejenak ke arah dalam toko.
"Pagi, Nak..." sahut Bu Yuni dari dalam, tersenyum hangat sambil menata buku catatan pesanan.
Keysha kembali menata tulip putih yang baru tiba pagi itu. Matanya memandangi jalanan yang mulai ramai. Suara langkah kaki terdengar mendekat.
"Assalamualaikum..."
Sebuah suara pria terdengar tenang dan penuh adab.
Keysha menoleh sekilas, cukup untuk melihat sosok lelaki muda berwajah teduh, berpakaian sederhana, dengan jenggot tipis yang menambah kesan wibawa. Dia segera menunduk, menjaga pandangan.
"Waalaikumsalam warahmatullah," jawabnya pelan.
Haidar tersenyum tipis, menjaga pandangannya agar tetap sopan.
"Ini Toko Bunga Bu Yuni, ya?" tanyanya ramah.
"Iya, benar..." sahut Keysha lembut, masih menunduk. "Ada yang bisa saya bantu, Kak?"
"Saya sedang mencari bunga untuk acara di masjid. Yang sederhana, tapi segar dan harum. Bisa tolong carikan?"
Keysha mengangguk kecil. "Baik, sebentar..." katanya, lalu mulai merangkai tulip putih dan beberapa tangkai melati, dengan hati-hati dan penuh ketelitian.
Haidar berdiri diam, pandangannya tertunduk, seolah menjaga diri dari melihat terlalu banyak.
"Terima kasih sudah mau mencarikannya,..." ucapnya lirih.
"Iya, Tidak apa-apa... ini sudah tugas saya," sahut Keysha. "Semoga bunganya membawa berkah untuk acaranya."
"Aamiin... jazakillahu khair," ucap Haidar tulus saat menerima bunga itu.
"Wa iyyakum..." bisik Keysha, nyaris tak terdengar.
Haidar tersenyum, kemudian berpamitan sopan.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam warahmatullah..."
Langkah Haidar menjauh, namun di hati keduanya, ada sesuatu yang tertinggal - rasa yang tumbuh pelan, tak terucap, hanya dititipkan pada langit.
******
Keysha menghela napas perlahan. Tangannya tetap sibuk merapikan bunga-bunga di rak, namun pikirannya melayang pada sosok pemuda barusan. Sosok yang tak pernah dia temui sebelumnya, namun kehadirannya meninggalkan getar aneh di hatinya.
Dia menunduk lebih dalam, beristighfar dalam hati.
"Ya Allah... jagalah hatiku. Jangan biarkan aku hanyut pada rasa yang Engkau tidak ridhai..."
Dari dalam toko, Bu Yuni memperhatikannya sejenak.
"Keysha, kamu tidak apa-apa, Nak?" tanyanya lembut.
Keysha tersenyum kecil, menatap ibunya.
"Tidak apa-apa, Bu... hanya lelah sedikit," jawabnya, berusaha menyembunyikan gelisah yang merambat di dadanya.
Bu Yuni tersenyum, lalu melanjutkan menulis catatan pesanan.
"Kalau capek, istirahat dulu. Bunga-bunga itu tidak akan lari," katanya pelan.
Keysha mengangguk. Dia duduk di kursi kecil dekat pintu toko, menatap jalanan yang perlahan mulai riuh. Namun hatinya tetap terasa sepi. Entah mengapa, pertemuan sederhana pagi itu meninggalkan jejak yang sulit dihapus.
Di kejauhan, suara azan Dzuhur mulai terdengar, membelah hiruk-pikuk Jogja. Keysha menutup matanya sejenak, berdoa dalam hati.
"Ya Allah... bila ini hanya ujian hati, kuatkan aku. Bila ini takdir-Mu, tuntun aku dalam jalan yang Engkau ridhai."
Dan angin jogja kembali berhembus, membawa harum bunga-bunga, seolah menyapu resah yang pelan-pelan hadir di hatinya.
YOU ARE READING
Keysha Dan Bunga Tulip
Teen FictionKeysha Nadhira, gadis 19 tahun berpakaian syar'i, menjalani hari-harinya di sudut kota jogja dengan kesederhanaan dan ketaatan. Sambil menimba ilmu di bangku kuliah, ia membantu ibunya merawat toko bunga kecil yang penuh warna. Hidupnya tenang, samp...
