Tidak Peduli Seberapa Banyak Uang di Rekening, Tak Akan Bila Belum Menikah

53 2 4
                                        


"Mau sampai kapan kamu akan sendiri terus?

Pertanyaan sang mama membuat pria kepala tiga, berkacamata, dan sedang duduk di depan laptop hitam tersebut menghela napas panjang. Seolah-olah dia sudah menduga kalau cepat atau lambat mamanya akan mengeluarkan kalimat tersebut. "Mama ini semakin hari tidak semakin muda lho, Ga. Mama ingin sekali sebelum meninggal bisa melihat kamu menikah, punya anak dan bahagia."

Sambil memutar-mutar cangkir putih berisi kopi di atas meja, Arga menjawab seadanya, "Aku bahagia kok, Ma

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Sambil memutar-mutar cangkir putih berisi kopi di atas meja, Arga menjawab seadanya, "Aku bahagia kok, Ma."

"Dengan tinggal sendirian di dalam apartemen sempit yang nyaris tidak pernah kamu bersihkan itu? Yang seperti kapal pecah itu?" ulang Bu Fatimah, terdengar seperti todongan.

Namun, mamanya benar, karena begitu Arga menoleh ke sekeliling ..., suasana apartemennya memang kotor –meski tidak sampai bisa dibilang kapal pecah juga. Pakaian berserakan di mana-mana, tumpukan piring dan gelas kotor di atas meja, serta bunga-bunga layu yang tertata di dalam pot-pot kecil yang berjejer di rak gantung.

Astaga! Arga bahkan baru ingat jika dia memiliki mereka di rumahnya.

"Makanya, kamu itu sesekali keluarlah dari rumah," lanjut Bu Fatimah dengan nada masih penuh omel. "Bagaimana kamu bisa punya pacar kalau setiap hari di rumah melulu? Masa kamu kalah sama si David?"

Arga menelan ludah, kecut. "Ma, ini bukan soal menang atau kalah. Lagian nggak ada yang berkompetisi di sini."

"Itu, kan! Membantah terus kalau dibilangi orang tua," gerutu Bu Fatimah. Wanita berjilbab panjang tersebut tampak mengacungkan sutil yang dia gunakan untuk menumis ke arah kamera, seakan mengancam sang putra. "Umurmu lho sudah berapa, Ga? Lihat itu sepupumu, Rangga, dia menikah hampir delapan tahun."

"Terus?"

"Kok malah terus?" Fatimah berkacak pinggang, matanya tertuju lurus ke kamera, tanda intimidasi. "Dengan menikah ..., Rangga bisa punya kehidupan yang stabil. Setiap hari ada yang masakin, ada yang nemenin dan yang paling penting ..., rumahnya tidak kempros seperti apartemenmu yang mirip kandang babi itu."

Arga mendesis, kesal tetapi tidak bisa menjawab. Lebih tepatnya dia paham betul kalau apa pun yang keluar dari mulutnya akan selalu salah, dan alih-alih menyelesaikan masalah, malah akan membuatnya dapat balasan berkali-kali lipat dari wanita yang telah menyebabkan dia ada di dunia ini.

"Memang kamu tidak mau kalau malam ada teman cerita? Teman berbagi keluh?" Nada bicara Fatimah kembali menurun, serius tetapi karena sambil memasak, wajah wanita itu kini tidak kelihatan.

"Kalau cuma berbagi cerita sih aku nggak butuh ya, Ma. Kan aku bisa menyalurkan semuanya ke novel-novelku ..., dibayar pula."

Fatimah mengulang ancamannya, kali itu menggunakan pisau dapur. "Anak ini, ada saja alasannya! Ya pasti beda tho, Mas Argantara Muhammad Ramadhani. Menulis kan untuk publik, sementara pasangan ..., cuma buat dirimu sendiri. Bisa kasih masukan. Bisa merawat kamu kalau sakit. Dan yang paling penting ..., memang kamu nggak mau punya anak?"

(Bukan) Tentang KitaStories to obsess over. Discover now