Tangisan Kembar yang Tak Didengar

5.2K 140 7
                                        

Di sebuah mansion megah bertingkat tiga di Jakarta Selatan, tinggallah dua anak kembar laki-laki keluarga Hartawan: Leonardo dan Levano

Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.

Di sebuah mansion megah bertingkat tiga di Jakarta Selatan, tinggallah dua anak kembar laki-laki keluarga Hartawan: Leonardo dan Levano. Mereka kembar identik, tapi

orang bisa langsung tahu siapa yang siapa hanya dari caranya berbicara dan berjalan.

Leonardo, si sulung—5 menit lebih tua—adalah anak yang cerdas, karismatik, dan… sangat nakal. Sedangkan Levano, adiknya, adalah anak pendiam, halus, penurut, dan selalu menjadi sasaran keisengan kakaknya.

Sejak kecil, Leonardo menjadikan Levano seperti boneka uji coba.

> Waktu umur 7 tahun, Leonardo pernah menempelkan super glue ke headset Levano. Saat Levano mencobanya, headset itu menempel di rambut dan telinganya. Butuh 3 jam dan satu tukang cukur datang ke rumah untuk melepaskannya—dengan air mata Levano mengalir deras.

> Waktu umur 10 tahun, Leonardo mengirim surat cinta palsu atas nama Levano ke kakak kelas perempuan galak. Levano dipermalukan di aula sekolah dan dicemooh sebagai “si tukang halu”. Leonardo? Menyaksikan dari balkon sekolah sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Dan semua itu tidak pernah berhenti. Mereka tumbuh dalam rumah mewah dengan segala fasilitas: kolam renang indoor, lapangan basket pribadi, home theater. Tapi tidak ada ruang aman bagi Levano dari keisengan kakaknya.

---

Kini mereka berusia 16 tahun, bersekolah di SMA elite internasional

Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.

Kini mereka berusia 16 tahun, bersekolah di SMA elite internasional.

Leonardo masih menjadi “raja lelucon” sekolah. Semua temannya mengaguminya, bahkan guru pun sering mentoleransi tingkah nakalnya karena prestasinya tetap tinggi. Ia jenius. Tapi jenius yang sering salah arah.

Levano, di sisi lain, mulai merasa seperti hidup di bawah bayang-bayang. Ia murung, penuh kecemasan, dan menjauh dari teman-temannya karena takut dijadikan bahan keisengan Leonardo.

> Suatu hari, saat acara fashion show sekolah, Levano nekat tampil sebagai model. Ia ingin membuktikan dirinya berani.

> Tapi Leonardo telah diam-diam mengganti sepatu Levano dengan sepasang yang satu haknya lebih tinggi. Di atas runway, Levano terjatuh—disorot kamera dan disebar di akun gosip sekolah.

> Malamnya, Levano menangis sendirian di dalam lemari. Ia tidak ingin ada yang melihat wajahnya lagi.

> Sementara Leonardo mengunggah story: “He’s my twin, but I guess I got the brain.”

---

Semua orang bertanya-tanya: kenapa Leonardo begitu jahat pada kembarannya sendiri?

Jawabannya sederhana: karena tidak ada yang menghentikannya.

Orang tua mereka sibuk bekerja, terlalu sibuk untuk tahu detail kehidupan anak-anaknya. Guru-guru anggap keisengan Leonardo hanya “bumbu humor remaja”. Teman-temannya hanya ikut tertawa.

Levano sendiri terlalu baik. Ia tidak membalas. Tidak melawan. Ia hanya berharap… suatu hari, kakaknya sadar.

Tapi harapan itu terus tenggelam dalam kejahilan yang tak pernah berhenti.

---

Pada malam ulang tahun ke-17 mereka, keluarga mengadakan pesta besar

Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.

Pada malam ulang tahun ke-17 mereka, keluarga mengadakan pesta besar. Lampu kristal menyala, tamu-tamu kaya berdatangan. Leonardo disorot semua orang. Levano duduk di sudut ruangan, dengan kue kecil buatannya sendiri.

Lalu Leonardo naik ke panggung, membawa mikrofon, dan berkata:

> “Gue mau kasih kejutan! Hari ini Levano akan nyanyi buat kita semua… pakai rekaman suara dia waktu umur 6 tahun—yang nyanyi lagu ‘Bintang Kecil’ sambil nangis!”

Dan suara itu pun diputar di speaker seluruh rumah.

Tamu-tamu tertawa. Bahkan ibu mereka ikut menutup mulut karena geli.

Tapi Levano berdiri. Matanya merah. Bukan karena marah. Tapi karena itu adalah rekaman suara terakhirnya sebelum ia kehilangan ayah mereka dalam kecelakaan—satu-satunya orang yang dulu selalu melindunginya dari Leonardo.

Tangisan Levano pecah di tengah pesta. Tapi tidak ada yang benar-benar mendengarkan.

Kecuali mungkin… untuk pertama kalinya, Leonardo menatapnya lebih lama.

Dan dalam sorot matanya… entah itu rasa bersalah, atau hanya rasa terkejut karena akhirnya, saudaranya benar-benar patah.

---

Kejahilan Leonardo belum berakhir. Karena tidak ada alasan baginya untuk berhenti. Dan Levano belum pergi. Karena ia belum siap membenci.

Mereka kembar. Tapi hidup mereka bertolak belakang.

Dan sampai saat ini, di balik rumah mewah itu, masih terdengar tawa Leonardo…

…dan tangisan yang nyaris tak terdengar, dari kamar di seberangnya.

---

Jangan lupa like, comment dan ikuti profil author ya gays🥰
Thank you and babay 😘

LevanoHistórias para pegar e não largar. Descubra agora