Prolog

784 47 2
                                        

Hutan dan Hujan

🍃🌲⛰️🌧

Hujan mengguyur deras malam itu, menelusup di antara dahan-dahan lebat hutan yang sunyi, menyapu jejak kaki dan menghapus tetesan darah dari tanah merah yang becek

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Hujan mengguyur deras malam itu, menelusup di antara dahan-dahan lebat hutan yang sunyi, menyapu jejak kaki dan menghapus tetesan darah dari tanah merah yang becek.

Sepasang suami istri berlari dalam diam, menembus pekatnya hutan dengan seorang bayi perempuan tergolek dalam gendongan. Nafas mereka tersengal, tubuh gemetar bukan hanya karena dingin, tapi karena sesuatu yang menguntit dari belakang.

Mereka terhenti mendadak.

Di hadapan mereka berdiri makhluk besar, liar, dan berbulu gelap, membelakangi arah datang mereka. Geraman rendah keluar dari dadanya-dalam, berat, dan mengguncang nyali. Saat makhluk itu berbalik, darah masih menetes dari taring dan cakarnya. Seseorang baru saja menjadi santapannya.

Mereka mundur perlahan.

Langkah berat makhluk itu mulai bergerak-bukan menjauh, tapi mendekat. Nafas pasangan itu tercekat.

Dan tiba-tiba...

Tangisan bayi memecah kesunyian. Nyaring. Lugu. Rapuh.

Makhluk itu mendongak, matanya menyala liar, menatap si kecil yang menggeliat gelisah dalam pelukan sang ibu. Tubuh perempuan itu mulai bergetar hebat, air mata bercampur hujan membasahi wajahnya. Ia menggeleng pelan, memohon dalam diam.

Terlambat.

Dengan kecepatan yang tak kasatmata, makhluk itu telah merebut si bayi dari pelukan ibunya. Rahangnya terbuka sedikit, nafas panasnya mengepul di udara. Bayi itu menangis, meronta, tangan mungilnya menggapai kembali sang bunda.

Lelaki itu jatuh bersimpuh di tanah berlumpur.
"Tolong... jangan sakiti kami," pintanya parau. "Kami tak akan bercerita pada siapa pun. Kami hanya melarikan diri. Maaf telah mengganggu malam Anda... Tolong beri kami kesempatan."

Makhluk itu hanya menggeram. Pelan, namun mengandung ancaman.

Lelaki itu mengulang, penuh keyakinan, "Kami akan diam. Sampai mati."

Geraman makhluk itu mereda. Diam beberapa saat.
Tatapannya berpindah pada bayi kecil yang menggigil dalam pelukannya.

Dan kemudian... terjadi sesuatu.

Tangis bayi itu berhenti. Wajahnya basah, tapi tenang.
Salah satu matanya-perlahan-memudar warnanya. Menjadi transparan.
Dalam beningnya mata itu, emosi dan dusta mengalir bebas seperti bayangan di air.

Seketika, malam menjadi lebih dingin.

Kutukan telah jatuh.

Bukan pada pasangan manusia yang menyaksikan kekejaman makhluk itu,
tapi pada seorang bayi tak berdosa.

Mata kirinya kini membawa kematian.
Siapa pun yang menatapnya dengan kebohongan di hati...
akan mati perlahan.

ANETRA : Eyes ConnectedStories to obsess over. Discover now