Hari itu panas, bahkan lebih dari biasanya. Tapi bukan itu yang membuat Misa gelagapan, melainkan kabel-kabel berantakan yang harus dia benahi di belakang panggung aula sekolah.
"Kenzo, mic lo masih mati. Cek satu kali lagi," serunya sambil jongkok di bawah meja mixer yang tingginya hampir sebesar badan Noel.
"Cek... satu... dua... udah, Sa. Suara gue kece banget," balas Kenzo sambil senyum bangga.
"Suara lo sih oke. Tapi yang nahan kuping karena lo teriak juga banyak," Noel menimpali dari balik keyboard.
"Bisa diem nggak sih, kalian?" potong Adam. "Misa udah capek tuh, masih aja kalian becandain."
Misa berdiri pelan, sambil mengusap peluh dari pelipisnya. Matanya menyapu seluruh ruangan yang kini penuh peralatan panggung.
Nor-Fighters akan tampil menjelang sore di acara pentas seni tahunan sekolah. Dan seperti biasa, semua urusan logistik, jadwal, bahkan drama antar anggota—semuanya berlari kepadanya, kepada Misa.
"Gue bukan capek karena kalian," Misa bergumam sambil membuka notebook kecilnya. "Gue capek karena semua timeline molor, listrik sempet nge-drop, dan—" ia berhenti, menatap Daen yang baru saja masuk membawa dua botol air mineral. "—ada satu orang yang janji beliin kopi tapi malah balik bawa air putih."
Daen nyengir. "Gue pikir lo haus, bukan ngantuk."
"Gue dua-duanya."
Botol air itu tetap diambil juga oleh Misa. Sambil meneguk, dia memperhatikan Daen yang kini duduk di pinggir panggung, memainkan plectrum gitar di tangannya. Itu sudah menjadi tabiatnya—sok santai, padahal tahu sekali apa yang sedang dia lakukan. Termasuk, cara dia membuat Misa merasa diperhatikan setelahnya kebingungan.
Mereka saling pandang sebentar. Daen tersenyum kecil, lalu kembali menunduk memainkan gitarnya. Misa buru-buru balik menghadap notebook. Detak jantungnya terlalu nggak profesional kalau terus-terusan liat Daen seperti ini.
Langit siang itu tidak terlalu cerah. Di sisi lain aula, Rena, sahabatnya, sibuk mematut diri dengan pita pink di rambutnya. Dia mendekat sambil mengernyit manja.
"Gila, punggung gue kayak mau copot," gumam Misa sambil duduk di pinggir lorong belakang aula sekolah. Rompinya yang bertuliskan Staff - Pensi Seigatsu sudah penuh noda debu dan bekas keringat.
Di sebelahnya, Rena—sahabat sekaligus partner-in-crime selama event ini—sedang sibuk mengaca diri dengan kamera depan handphone miliknya.
"Lu capek ngurusin panggung. Gue capek mikirin alis," kata Rena sambil mengekuarkan maskara mini. "Hari ini gue harus cakep. Siapa tau... Noel noleh, ya kan?"
Misa mendengus pelan. "Noel gak bakal noleh sama cewek yang pake maskara sambil duduk di belakang speaker, Ren."
"Lu gak ngerti seni cinta."
"Gue ngertinya seni dikejar deadline rundown."
Keduanya tertawa lelah.
Jam menunjukkan setengah tiga tepat. Waktu istirahat hanya tinggal 30 menit sebelum sesi band dimulai.
"Gue ke ruang ganti lagi, ya," kata Misa sambil bangkit. "Mau pastiin Nor-Fighters gak berubah jadi No-Fighters."
Rena tertawa. "Titip sapa ke Noel ya... bilang dari cewek berambut ombre dengan hati suci."
"Gue bilangin, tapi kayaknya Noel bakal report lu ke guru BK."
"Cinta emang butuh pengorbanan."
Misa kepalang menggeleng tidak habis fikir.
Ia menghembuskan napas panjang dan mendekat ke arah pintu ruang ganti. Semua sudah siap. Tinggal memastikan Nor-Fighters benar-benar tampil tepat pada waktunya.
Tapi, baru saja mau membuka mulut untuk memanggil, tiba-tiba ada langkah pelan menghampiri dari arah lorong.
Seorang cowok. Berkemeja biru muda, rambutnya berantakan tipis tapi pas. Mukanya asing. Matanya jernih—dan sayangnya, langkahnya langsung menu pintu ruang ganti khusus Nor-Fighters.
"Eh—sorry, ini performer area, lo siapa?" Misa langsung berdiri menghalangi.
Cowok itu menghentikan langkah, terkejut sebentar. "Oh gue..."
"Ini ruang ganti Nor-Fighters. Kalo lo bukan bagian dari mereka, lo bisa tunggu di ruang tunggu performer."
Cowok itu sempat mau bicara, tapi kemudian tersenyum lebar. "Oke, maaf. Gue nunggu aja di sini."
Ia melirik sekilas pada Misa, lalu duduk di bangku panjang di dekat pintu. Wajahnya tenang. Misa sempat curiga, tapi cowok itu terlihat sopan. Tapi belum sempat Misa bertanya lebih lanjut, pintu ruang ganti terbuka dari dalam. Sosok Daen keluar dengan kaos hitam, gitarnya sudah siap digendong.
"HAAAAKH" Daen reflek teriak kaget. "Owen?! Lo udah sampe dari tadi?!"
Misa kaget bukan main. Matanya memantul bolak-balik dari Daen ke cowok yang duduk tepat disebelahnya.
Owen mengangguk, nyengir kecil. "Baru juga nyampe, belum sempet masuk soalnya dihadang sama cewek."
Daen tertawa terbahak. "Pantes lo diem di depan ruang ganti. Misa tuh emang bawaannya galak kalau lagi kerja."
"Sorry?" selak Misa tidak terima.
"Owen, sini, kenalan dulu." Daen merangkul Misa, lalu menunjuk ke Owen. "Ini Misa. Manager kita. Dia yang megang semua rundown panggung hari ini. Dan, Misa—kenalin, ini Owen. Temen lama gue... dan gitaris baru Nor-Fighters."
Misa membungkam mulutnya. Jantung Misa berdebar jauh lebih cepat.
Seperti paham Misa sedang menahan malu, Owen menepis suara. "Sumpah, gue juga nggak tahu ruang gantinya di sini. Gue cuma ngikutin suara musik aja tadi. Terus ini cewek yang kata lo manager ngasih arah ruang ganti kesini."
Misa diam. Tidak tahu kenapa, kalimat barusan seperti membuat sesuatu di dadanya mengetuk pelan.
"Yaudah, sekarang lo siap-siap, kita udah mau rampil." ajak Daen menarik Owen kedalam ruangan ganti.
Dan sampai hari ini, Misa masih terkejut diam dan tidak bisa dipungkiri kalau dirinya juga lagi-lagi dikejutkan dengan kehadiran Rena yang tiba-tiba,
“Owen?”
*
Siapa sich Owen..
🙀🙀🙀🙀
Terimakasih sudah membaca teman-temankuuu
Salam,
Anya. 🪷
ESTÁS LEYENDO
Seijaku.
Novela JuvenilMenjadi manager dari band paling populer di sekolah, Nor-Fighters, bukan hal yang mudah-apalagi jika vokalis utamanya adalah cowok yang belakangan ini semakin sering hadir di hidupmu. Misa sudah terbiasa dengan dunia panggung, jadwal latihan, dan te...
