Halo semuanya! Maaf ya, cerita Accismus JoongDunk sebelumnya aku hapus dulu karena menurutku masih berantakan. Sekarang aku lagi coba merapikannya supaya lebih enak dibaca.
Cerita ini aku buat dengan tidak menggunakan nama asli, supaya kalian bisa lebih mendalami karakter-karakternya-seperti saat kita menonton film, di mana nama karakter berbeda dari nama aktornya.
Semoga kalian suka dengan karya baruku tentang JoongDunk ini. Terima kasih sudah mau membaca dan menunggu! 💙
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DENGAN VOTE,KOMEN DAN TAMBAH FAVORIT
Dika (dunk)
Januar (joong)
○○○
SELAMAT MEMBACA
Maaf untuk typo
Apa yang terjadi?
Januar menepuk pundak dika yang masih melamun di teras luar melihat pancuran air yang berada di halaman
"Gue nggak yakin bisa jaga warisan... yang paling dijaga ini."
Dika memandang layar ponsel yang menampilkan bangunan asri yang di dapatkan ayahnya.
"Kita bukan bocah umur tujuh belas, bro. Kita udah dua puluh dua tahun. Wajar kalau mulai mengenal wilayah keluarga,"
kata Januar sambil duduk dan merangkul pundak Dika dengan semangat.
"Baiklah kita berangkat besok sore ,lo pesen tiket "
---
Dika dan Januar akhirnya sampai di bangunan asri yang menghadap ke bukit. Rasa lelah mereka terobati oleh cahaya langit yang mulai berwarna oranye.
"Gila, pantes aja nih bangunan banyak yang mau," ujar Dika, menyeret kopernya lalu duduk di anak tangga yang menghadap ke lapang.
"Nyaman, bukan?" Januar ikut duduk di samping Dika, sambil membawa koper-miliknya
"Tapi lo rencana mau bangun lapangan futsal di depan, kan?" Dika menghela napas, memandangi lapangan dan bukit yang menurutnya sayang kalau sampai tertutup.
"Itu plan A. Tapi kayaknya gue punya plan B," ujar Januar sambil berdiri dan mengangkat kopernya.
"Segala plan-plan lo..." gumam Dika.
Dika bangkit kemudian mengambil kunci yang disimpan di bawah batu dekat pot hijau. Kunci itu sebelumnya dititipkan pada Bi Maya, salah satu orang kepercayaan keluarga yang selama ini merawat tempat itu.
"Jir, rumah yang bikin keluarga sengit, kuncinya disimpen di bawah pot!"
"Enggak akan ada yang bawa nih bangunan," ujar Dika sambil membuka pintu.
Ruangan di dalam tampak sangat rapi, diterangi cahaya lampu berwarna oranye. Beberapa perabot terbuat dari kayu, dan dapurnya-yang bergaya sedikit modern-menghadap ke arah tengah rumah.
Januar meletakkan dagunya di pundak Dika. "Bukannya tempat ini cantik?"
"Lo, anjir... bikin gue merinding," sahut Dika, melangkah sambil mengacungkan jari tengah ke arah Januar sebelum menuju dapur.
"Lo liat dapurnya? Bagus banget! Gue bisa masak di sini," ujar Dika semangat.
Januar mendekat dan duduk di hadapan Dika, memperhatikan bangunan itu dengan ekspresi bangga.
BẠN ĐANG ĐỌC
RENUNCIATION | JOONGDUNK |
Ngẫu nhiênWarisan dari ayah membawa Dika dan Januar ke sebuah bangunan tua di atas bukit. Saat Dika menemukan buku usang bertuliskan Jaya Laksana, kenyataan mulai retak. Waktu bergeser. Ingatan yang bukan miliknya muncul. Dan perlahan, Dika sadar kisah ini bu...
